Kekurangan Staf, Antrean Bandara Kini Tembus 4,5 Jam

6 hours ago 6

Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas keamanan bandara Amerika Serikat (AS) menghadapi tekanan berat menyusul penutupan pendanaan Departemen Keamanan Dalam Negeri yang berlangsung berminggu-minggu. Dampaknya, terjadi kekurangan petugas, lonjakan waktu tunggu, hingga gangguan operasional di sejumlah bandara utama.

Pelaksana Tugas Administrator Administrasi Keamanan Transportasi (TSA), Ha Nguyen McNeill, mengungkapkan situasi tersebut telah memicu waktu tunggu terpanjang sepanjang sejarah lembaganya.

"Ini telah menyebabkan waktu tunggu tertinggi dalam sejarah TSA, dengan beberapa waktu tunggu lebih dari 4,5 jam," ujar McNeill dalam rapat dengar pendapat dengan anggota parlemen, Rabu (25/3/2026), seperti dikutip Bloomberg.

Ia menambahkan, lebih dari 480 petugas keamanan transportasi telah mengundurkan diri sejak penangguhan pendanaan dimulai.

Sejumlah bandara besar seperti Atlanta, Houston, dan New York menjadi yang paling terdampak. Antrean panjang terlihat di terminal, area pengambilan bagasi, hingga meluber ke luar gedung. Kondisi ini ramai dibagikan di media sosial oleh penumpang yang mengeluhkan lamanya antrean dan risiko tertinggal penerbangan.

Salah satu video yang beredar menunjukkan antrean mengular di Bandara LaGuardia, New York. Biasanya, waktu tunggu dipublikasikan secara berkala melalui situs resmi bandara, namun pembaruan dihentikan karena kondisi yang berubah cepat.

Dalam sidang Komite Keamanan Dalam Negeri DPR AS, anggota parlemen dari Partai Republik dan Demokrat sama-sama menyoroti dampak penutupan pemerintahan terhadap operasional bandara. Partai Republik menilai kondisi ini melemahkan keamanan nasional dan membebani petugas di lapangan, sementara Demokrat mempertanyakan ketergantungan pada agen Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) untuk membantu operasional.

McNeill mengakui krisis tenaga kerja semakin memburuk. "Kami memang melihat lonjakan pengurangan staf," katanya, merujuk pada banyaknya pegawai yang berhenti atau tidak masuk kerja akibat tidak menerima gaji.

Di beberapa bandara besar, tingkat ketidakhadiran petugas bahkan mencapai 40% hingga 50% pada hari tertentu. Hal ini memaksa TSA menggabungkan jalur pemeriksaan dan mengurangi kapasitas layanan, sehingga antrean membengkak hingga berjam-jam.

Penutupan pemerintahan yang telah berlangsung sekitar 40 hari sejak 14 Februari masih menemui jalan buntu di Washington, dipicu perbedaan pandangan terkait kebijakan imigrasi.

Untuk menjaga operasional, TSA kini dibantu oleh personel ICE dalam tugas non-spesialis, seperti pemeriksaan dokumen perjalanan dan pengelolaan antrean. McNeill menegaskan para agen tersebut bekerja sesuai protokol TSA guna meringankan beban petugas utama.

Namun, langkah ini menuai kritik dari Partai Demokrat yang mempertanyakan kompetensi dan pelatihan agen ICE dalam menjalankan fungsi tersebut.

McNeill memperingatkan, jika situasi ini berlarut-larut, stabilitas jumlah petugas akan semakin sulit dicapai. Ia menekankan pentingnya kesiapan menghadapi lonjakan perjalanan musim panas serta gelaran Piala Dunia FIFA 2026.

Sementara itu, Presiden Donald Trump melalui media sosial menyampaikan apresiasi kepada ICE atas kontribusinya di bandara. "Terima kasih kepada ICE atas pekerjaan hebat yang Anda lakukan," tulisnya.

(tfa/tfa)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |