Jakarta, CNBC Indonesia - Penelitian terbaru mengungkap penyebab kepunahan Homo floresiensis atau "hobbit", kerabat manusia purba yang hidup di pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), sekitar 50 ribu tahun lalu.
Studi menemukan, periode kekeringan ekstrem yang terjadi sejak sekitar 61 ribu tahun lalu berperan besar dalam hilangnya spesies tersebut setelah bertahan lebih dari satu juta tahun di wilayah tersebut.
Temuan dipaparkan dalam laporan ilmiah berjudul "Onset of summer aridification and the decline of Homo floresiensis at Liang Bua 61,000 years ago" yang terbit di jurnal Communications Earth & Environment.
Hal itu terungkap dalam tulisan Nick Scroxton (Research Fellow, Palaeoclimate, National University of Ireland Maynooth), Gerrit (Gert) van den Bergh (Researcher in Palaeontology, University of Wollongong), Michael Gagan (Honorary Professor, Palaeoclimate, University of Wollongong; The University of Queensland), dan Mika Rizki Puspaningrum (Peneliti Palaeontology, Institut Teknologi Bandung) ditayangkan di The Conversation pada 23 Januari 2026.
Para peneliti menjelaskan, catatan iklim terbaru dari pulau Flores menunjukkan pergeseran curah hujan ekstrem selama ribuan tahun, yang berdampak pada ekosistem setempat. Kondisi tersebut diduga membuat Homo floresiensis serta mangsa utamanya, gajah purba kerdil Stegodon florensis insularis, terusir dari habitat utama.
"Kondisi ini juga yang membuat mereka bertemu langsung dengan spesies manusia yang jauh lebih besar: Homo sapiens," sebut mereka, dikutip Sabtu (24/1/2026)
Homo floresiensis pertama kali ditemukan pada 2003 di Liang Bua, sebuah gua di dataran tinggi Flores. Meski memiliki tinggi tubuh sekitar 1,1 meter dan otak kecil, spesies hominin ini mampu membuat alat dari batu dan bertahan hidup di lingkungan yang terisolasi. Fosilnya diperkirakan berasal dari periode 190 ribu hingga 50 ribu tahun lalu.
Untuk merekonstruksi kondisi iklim pada masa tersebut, tim peneliti meneliti stalagmit di Liang Luar, gua yang berada 700 meter dari Liang Bua.
Melalui analisis rasio isotop oksigen (d18O) dan magnesium terhadap kalsium, mereka menemukan tiga fase iklim utama, periode basah ekstrem pada 91-76 ribu tahun lalu, fase monsun musiman kuat pada 76-61 ribu tahun lalu, serta periode kering panjang pada 61-47 ribu tahun lalu.
Pada fase kedua, gajah kerdil dan Homo floresiensis diperkirakan hidup dalam kondisi "ideal" dengan variasi musim yang mendukung ketersediaan air dan pakan. Namun, pada fase ketiga, curah hujan yang menurun tajam mengubah lanskap menjadi lebih kering sehingga berdampak pada populasi kedua spesies.
Para peneliti mengungkap, sekitar 90 persen fosil Stegodon dari Liang Bua berasal dari fase 76-61 ribu tahun lalu, sebelum kemudian hampir menghilang. Hal ini menunjukkan adanya penurunan tajam populasi akibat menyusutnya sumber daya air, termasuk Sungai Wae Racang yang menjadi sumber air tawar saat musim kemarau.
Kekeringan ekstrem ini disimpulkan sebagai salah satu faktor ekologis yang memicu migrasi Stegodon dari wilayah tersebut dan pada akhirnya diikuti oleh Homo floresiensis.
Selain faktor iklim, lapisan abu vulkanik yang menutupi sisa fosil dan alat batu sekitar 50 ribu tahun lalu mengindikasikan kemungkinan letusan gunung berapi turut memperburuk kondisi hidup. Di atas lapisan abu tersebut ditemukan bukti arkeologis Homo sapiens, meskipun belum dapat dipastikan apakah kedua spesies pernah bertemu.
Menurut para peneliti, keberadaan Homo sapiens yang telah menjelajah antarpulau di Indonesia sejak 60 ribu tahun lalu membuka kemungkinan interaksi antara kedua spesies, termasuk potensi kompetisi, perpindahan habitat, atau penyebaran penyakit.
Riset ini memberikan kerangka kerja baru bagi studi paleoantropologi dan perubahan iklim terkait faktor penyebab kepunahan Homo floresiensis. Penulis menegaskan bahwa ketersediaan air tawar terbukti menjadi faktor ekologis krusial dalam keberlangsungan spesies, dan sejarah ini menjadi pengingat rapuhnya eksistensi manusia serta kerabatnya dalam menghadapi variabilitas iklim.
"Ini menjadi bukti nyata bagaimana pergeseran pola curah hujan dapat membawa dampak yang sangat mendalam bagi eksistensi sebuah spesies." pungkas mereka.
(dce)
[Gambas:Video CNBC]

3 hours ago
1

















































