Murtala, salah seorang tokoh masyarakat Aceh Tamiang. (Waspada.id/Yusri)
Ukuran Font
Kecil Besar
14px
ACEH TAMIANG (Waspada.id) : Mungkin terdengar sedikit kurang menyejukkan, karena bagi warga korban bencana hidrometeorologi yang berada di Aceh,khususnya Aceh Tamiang keberhasilan bencana tidak diukur dari pidato di podium, melainkan dari kunci rumah yang diserahkan ketangan korban musibah banjir yang hingga kini meniti mimpi untuk menjadi kenyataan.
Terlebih narasi keberhasilan pemulihan bencana di Aceh yang digelorakan Presiden Prabowo Subianto saat berkunjung ke Aceh Tamiang dan melaksanakan Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah lalu di hunian sementara (Huntara) Simpang Empat Upah, Kecamatan Karang Baru. Presiden mengklaim bahwa proses pemulihan pascabencana di Aceh telah mendekati angka 100 persen dan tidak ada lagi warga yang mendekam di tenda pengungsian.
Murtala, tokoh masyarakat Aceh Tamiang yang juga mantan anggota Juru Runding GAM tahun 2002 Join Security Comite (JSC), Rabu (25/3) menyampaikan penilaiannya, dimana pernyataan Presiden bukan sekadar kekeliruan data, melainkan sebuah pembohongan publik yang dirancang secara sistematis.
Dalam pernyataan yang memicu kontroversi tersebut, Presiden mengklaim bahwa proses pemulihan pascabencana di Bumi Serambi Mekkah telah mendekati angka 100 persen dan tidak ada lagi warga yang tinggal di tenda pengungsian. Namun, fakta di lapangan justru bicara sebaliknya, sebuah realitas pahit yang jauh dari gemerlap angka statistik Jakarta.
“Kita yakin apa yang disampaikan oleh Presiden Prabowo ada hasil yang beliau terima dari BNPB yang ingin menyenangkan Presiden,” tuding Murtala seraya menyampaikan, kritiknya menyasar pada jomplangnya perbandingan antara klaim pemerintah dengan progres fisik di lapangan. Hingga saat ini, pembangunan Hunian Sementara (Huntara), apalagi Hunian Tetap (Huntap), tercatat belum mencapai separuh dari total jumlah pengungsi yang membutuhkan.
Kondisi ini diperparah dengan carut-marutnya manajemen proyek di lapangan. “Bagaimana bisa diklaim hampir 100 persen, sementara banyak rekanan kontraktor yang justru angkat kaki meninggalkan pekerjaan karena tersendatnya kucuran dana,” ujar Murtala.
Salah satu poin paling krusial yang diungkap mantan anggota juru runding GAM (JSC) ini adalah dugaan rekayasa kondisi saat kunjungan Presiden ke Aceh Tamiang untuk pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah lalu. Muncul tudingan pedas bahwa terjadi upaya pembersihan visual secara paksa.
“Masyarakat diminta keluar dari tenda pengungsian dan tenda-tenda dibongkar seketika hanya agar situasi terlihat seolah-olah sudah pulih total di depan mata Presiden,” ungkap Murtala.
Upaya menciptakan kesan Aceh telah bangkit, ini dinilai sebagai langkah manipulatif yang sengaja menutupi penderitaan korban yang sebenarnya masih bertahan di bawah terpal dan sisa-sisa reruntuhan.
Murtala menilai pola komunikasi yang menyesatkan ini bukan sekali ini terjadi, melainkan tren yang sudah terbaca sejak bencana melanda wilayah Sumatera, mulai dari Sumatera Utara hingga Sumatera Barat. Tanpa transparansi dan kemauan untuk melihat kenyataan pahit di lapangan, narasi sukses ini hanya akan menjadi bom waktu bagi kepercayaan publik terhadap pemerintah.(id76)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.


















































