Iran Ancam "Kiamat Total" jika AS Aneh-Aneh Lagi Saat Gencatan Senjata

4 hours ago 3
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Iran kian gencar memberikan sinyal kembalinya perang dengan Amerika Serikat (AS). Ini terjadi di tengah bergulirnya negosiasi yang mengarah pada kesepakatan potensial dengan Washington.

Sejauh ini, ketika para negositor melaporkan adanya kemajuan, konfrontasi militer di lapangan justru menunjukkan tanda-tanda enggan mereda. Mengutip CNN pada Jumat, (29/05/2026), AS meluncurkan gelombang serangan keduanya ke Iran hanya dalam hitungan hari pada minggu ini, sementara kontak senjata masih terus berlanjut di Selat Hormuz.

Para pejabat Iran menggunakan momentum negosiasi ini untuk menunjukkan rasa percaya diri bahwa mereka mempertahankan opsi militer yang signifikan jika diplomasi pada akhirnya gagal. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa setiap konflik baru yang kembali pecah akan menyebar jauh melampaui kawasan dan mengancam serangan yang menghancurkan di tempat-tempat yang bahkan tidak dapat dibayangkan oleh para lawan.

Peringatan keras ini muncul setelah perang sebelumnya memperlihatkan kemampuan Iran dalam menargetkan pangkalan militer AS, kota-kota Israel, dan infrastruktur kritis di negara-negara Arab Teluk. Aksi tersebut bahkan sempat melumpuhkan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz dan memicu guncangan energi global.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan bahwa setiap tindakan pembalasan di masa depan akan menampilkan jauh lebih banyak kejutan, sementara militer Iran mengancam akan membuka barisan pertahanan baru menggunakan alat-alat baru.

Senada dengan hal tersebut, Mohammad Bagher Ghalibaf selaku negosiator top Iran menyatakan bahwa angkatan bersenjata mereka telah menggunakan masa gencatan senjata untuk membangun kembali kemampuan pertahanan pada tingkat tertinggi.

Blokade Baru

Para ahli menilai sebagian besar retorika tersebut ditujukan untuk mencegah serangan lebih lanjut dari musuh. Namun, mereka juga memperingatkan bahwa Teheran tetap mempertahankan opsi eskalasi yang signifikan jika diplomasi runtuh, salah satunya melalui strategi blokade maritim yang masif.

Iran menyadari tidak dapat menang melawan AS dan Israel melalui jalur militer konvensional, sehingga mereka mengejar efek jera dengan menimbulkan kerugian ekonomi global melalui blokade Selat Hormuz yang merupakan titik jalur maritim kritis. Merasa di atas angin karena keberhasilan tersebut, Teheran kini diprediksi bakal mengincar koridor maritim vital lainnya untuk dikunci.

Dengan mengaktifkan kelompok proksinya di wilayah tersebut, yaitu Houthi di Yaman, Iran dapat mengatur penutupan Selat Bab al-Mandeb. Langkah ini akan memblokir urat nadi vital lainnya yang menghubungkan rute perdagangan utama antara Eropa, Asia, dan dunia Arab, sehingga akan melipatgandakan tekanan ekonomi di seluruh dunia.

Pada tahun 2023, lebih dari 10% perdagangan minyak melalui laut di dunia melewati Selat Bab al-Mandeb. Setelah Houthi menciptakan ketidakamanan maritim di wilayah dekat Yaman pada tahun 2024, jumlah tersebut menyusut hampir setengahnya untuk minyak dan turun hingga mendekati nol untuk gas alam cair (LNG), menurut data Badan Informasi Energi AS (EIA).

Seorang pakar strategi energi sekaligus peneliti senior di George Mason University, Umud Shokri, memberikan analisisnya kepada CNN mengenai dampak fatal jika kedua selat tersebut ditutup secara bersamaan oleh kekuatan Iran dan sekutunya.

"Krisis yang terjadi secara simultan di Bab al-Mandeb dan Selat Hormuz akan jauh lebih serius, berpotensi memengaruhi perdagangan Laut Merah dan aliran energi Teluk Persia, yang akan menaikkan harga minyak, tarif pengiriman, dan tekanan inflasi di seluruh dunia," kata Shokri seperti dikutip dari CNN.

Dalam beberapa tahun terakhir, Houthi telah membuktikan kemampuan mereka untuk mengganggu navigasi maritim di dekat Bab al-Mandeb dengan menyerang, menyita, dan menenggelamkan kapal yang lewat. Namun, Shokri menilai bahwa membuat blokade total yang serupa dengan di Selat Hormuz akan jauh lebih sulit dilakukan di wilayah tersebut.

"Bab al-Mandeb tidak dikendalikan secara langsung oleh Iran, dan penutupan yang berkepanjangan kemungkinan akan memicu respons angkatan laut internasional yang kuat. Skenario yang lebih realistis bukanlah penutupan fisik secara penuh, melainkan krisis keamanan berkepanjangan yang membuat pengiriman komersial terlalu berisiko atau mahal," ujar Shokri seperti dikutip dari CNN.

Sumur Minyak

Jika Trump benar-benar mewujudkan ancamannya untuk menargetkan kilang minyak, infrastruktur, dan pembangkit listrik Iran, Teheran diprediksi akan memperluas cakupan perang ke seluruh dunia Arab. Iran bakal menyerang situs-situs sensitif untuk menabur kepanikan ekonomi global sekaligus merusak reputasi negara-negara tetangga sebagai pusat bisnis internasional yang aman dan penjamin aliran energi dunia yang andal.

Seorang anggota komite keamanan nasional Iran, Ahmad Bakhshayesh Ardestani, menegaskan bahwa jika AS berani menargetkan fasilitas minyak Iran, Teheran akan membalas dengan menyerang sumur-sumur minyak negara Arab Teluk. Langkah ini menjadi eskalasi yang jauh lebih mengerikan dibanding perang 40 hari lalu, di mana Iran saat itu hanya menargetkan jaringan pipa atau kilang minyak saja.

"Jika mereka berniat melakukan sesuatu sehingga kami tidak memiliki minyak, kami tidak akan menyerang pipa mereka, kami akan menyerang sumur-sumur minyaknya sehingga mereka juga tidak memiliki minyak dan bahan bakar menjadi mahal bagi dunia," kata Ardestani seperti dikutip dari media Iran yang dilansir CNN.

Infrastruktur Kritis

Bahkan setelah gencatan senjata resmi berlaku pada tanggal 8 April lalu, kelompok proksi Iran di Irak tetap dituduh oleh Uni Emirat Arab (UEA) atas serangan yang mengarah ke pembangkit listrik tenaga nuklir di Abu Dhabi. Di sisi lain, wilayah Arab Saudi juga terus menjadi sasaran empuk bagi pesawat nirawak yang datang dari arah Irak.

Selama jalannya peperangan, Iran tercatat telah menembakkan rudal ke sasaran sipil termasuk hotel dan bandara, namun mereka terpantau sangat jarang meluncurkan proyektil ke fasilitas desalinasi kritis yang memasok air bersih bagi jutaan orang di kawasan tersebut. Selain itu, meskipun sempat mengeluarkan peringatan evakuasi terhadap fasilitas pendidikan AS di wilayah tersebut, tidak ada laporan yang menunjukkan Iran menargetkan sekolah maupun universitas.

Terlepas dari semua retorika perang yang dilontarkan Teheran, asisten profesor di Pusat Studi Internasional di Sciences Po Paris, Nicole Grajewski, justru memperkecil kemungkinan adanya senjata kejutan dari Iran karena menurutnya jenis persenjataan Iran sudah sangat dikenal oleh dunia.

"Mereka tentu memiliki jangkauan melebihi 2.000 kilometer (sekitar 1.200 mil), tetapi itu bukan senjata baru," kata Grajewski seperti dikutip dari CNN.

Target Eropa

Pada awal bulan ini, halaman Telegram yang berafiliasi dengan IRGC mengunggah gambar satelit yang diklaim menunjukkan pesawat militer AS tengah terparkir di Bandara Chania di Pulau Kreta, Yunani. Meskipun CNN tidak dapat memverifikasi keaslian gambar tersebut, ancaman Garda Revolusi untuk memperluas target mereka hingga ke luar kawasan jika Iran diserang lagi meningkatkan prospek pembalasan yang jauh lebih luas.

Selama 40 hari perang sengit melawan AS dan Israel, Iran telah memamerkan kemampuannya untuk mengirimkan rudal balistik ke daerah-area yang sebelumnya dianggap tidak tersentuh. Pada bulan Maret, Iran diyakini telah meluncurkan dua rudal balistik jarak menengah ke Diego Garcia, sebuah pangkalan militer gabungan AS-Inggris di Samudra India yang terletak sejauh 2.000 mil dari Iran, dalam apa yang tampaknya menjadi upaya pertama untuk menargetkan basis militer tersebut.

Seorang peneliti senior di The Washington Institute, Farzin Nadimi, menilai jika Teheran yang sedang di atas angin memutuskan untuk menguji rudal jarak jauhnya ke Eropa dalam serangan mendadak, beberapa pangkalan udara penting milik AS bisa menjadi target utama. Target potensial tersebut mencakup RAF Fairford dan RAF Lakenheath di Inggris, serta pusat logistik dan telekomunikasi Ramstein di Jerman.

"Namun, Iran kemungkinan akan menyimpan kemungkinan itu untuk tingkat eskalasi yang paling tinggi," kata Nadimi.

Selama perang berlangsung, Iran juga diyakini telah mencoba menargetkan fasilitas militer Inggris yang terletak sejauh Siprus. Menanggapi jangkauan rudal pertahanan Teheran ini, Grajewski menilai wilayah Mediterania kini sudah tidak bisa lagi dianggap aman dari ancaman militer Iran.

"Saya tidak berpikir Mediterania sepenuhnya berada di luar cakupan kemampuan mereka. Masalahnya di sini adalah akurasi," ujar Grajewski seperti dikutip dari CNN.

Drone, Rudal Jelajah Supersonik, dan Pengacauan Satelit

Untuk meningkatkan peluang menembus pertahanan musuh dan mengenai sasaran dengan tepat, Nadimi memproyeksikan Iran akan meluncurkan kawanan drone berbasis kecerdasan buatan (AI) yang jauh lebih canggih dan terkoordinasi. Drone ini dilengkapi dengan kamera khusus yang dapat berkomunikasi satu sama lain, serta mampu menyesuaikan jalur penerbangan dan kecepatan untuk menghindari sistem pengacau sinyal dan pertahanan udara lawan.

"Mereka belum mendemonstrasikan kemampuan ini, tetapi mereka telah membahas pengembangan teknologi ini di masa lalu," kata Nadimi.

Selain teknologi pesawat nirawak, Teheran juga diprediksi akan terus berupaya meningkatkan kemampuan rudal jelajahnya. Langkah ini dilakukan dengan memodifikasi sistem yang ada saat ini agar mampu mencapai kecepatan supersonik guna menghindari pencegatan peluru kendali musuh, sembari mencoba mengacaukan sistem komunikasi militer dan satelit pengawas milik pihak lawan.

(tps/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |