Marak PHK, Pakar Sebut Sering Lembur Tak Jaminan Pekerjaan Aman

1 hour ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Bekerja hingga larut malam alias lembur dan mengorbankan akhir pekan selama ini kerap dianggap sebagai cara untuk menunjukkan dedikasi sekaligus mengamankan posisi di tempat kerja. Namun di era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), strategi tersebut dinilai tidak lagi menjamin keamanan karier.

Fenomena yang dikenal sebagai infinite workday atau hari kerja tanpa batas kini semakin banyak terjadi. Karyawan terus dibanjiri email, pesan, dan notifikasi pekerjaan bahkan di luar jam kerja normal.

Ironisnya, perkembangan teknologi AI justru membuat sebagian pekerja menghabiskan lebih banyak waktu untuk bekerja dibanding sebelumnya. Survei yang dilakukan platform pencarian kerja Monster terhadap 807 pekerja penuh waktu pada Oktober 2025 menunjukkan sebanyak 76% responden menganggap diri mereka setidaknya sedikit "gila kerja" atau workaholic.

Namun sejumlah pakar karier menilai bekerja berlebihan demi menghindari pemutusan hubungan kerja (PHK) bukan lagi strategi yang efektif. Penulis sekaligus pakar pengalaman karyawan, Kalifa Oliver mengatakan, keamanan kerja kini bukan lagi sesuatu yang bisa dijamin.

"Di era AI, keamanan kerja bukan lagi sesuatu yang pasti," ujar Oliver dikutip dari CNBC Make It, Jumat (29/5/2026).

Pernyataan tersebut muncul di tengah gelombang restrukturisasi yang dilakukan sejumlah perusahaan teknologi besar. Pada 20 Mei lalu, Meta diketahui memangkas sekitar 8.000 karyawan.

Dalam memo internal kepada karyawan, CEO Meta Mark Zuckerberg menyebut kesuksesan dalam persaingan AI tidak bisa dianggap pasti. Tren serupa juga terlihat dalam laporan Global Talent Trends 2026 yang dirilis perusahaan konsultan Mercer.

Survei terhadap 825 eksekutif tingkat atas dan 1.650 pemimpin SDM itu menunjukkan 99% eksekutif memperkirakan jumlah tenaga kerja akan berkurang hingga 20% dalam dua tahun ke depan akibat perubahan cara kerja yang dipicu AI. Menurut konsultan kepemimpinan dan pengembangan organisasi asal Meksiko, Chelsea Jay, bekerja berlebihan karena takut kehilangan pekerjaan justru dapat memicu masalah baru.

Ia menjelaskan, kebiasaan tersebut dapat memicu siklus berpikir berlebihan, menganalisis berlebihan, hingga bekerja berlebihan yang pada akhirnya berdampak pada kualitas hidup.

"Hal itu bisa menyebabkan berkurangnya kreativitas, kurang tidur, burnout, hingga muncul rasa frustrasi," ujarnya.

Laporan perusahaan layanan kesehatan mental Spring Health pada April 2026 menunjukkan 46% pekerja yang mengalami burnout mengaku lebih sulit menjaga fokus dan produktivitas saat bekerja. Oliver menambahkan, hubungan antara pekerja dan perusahaan pada dasarnya merupakan transaksi profesional.

"Pekerjaan adalah sebuah transaksi, tidak peduli seberapa besar Anda mencintai pekerjaan itu," katanya.

Menurut ia, karyawan yang terlalu lelah justru lebih rentan melakukan kesalahan, kehilangan kemampuan berinovasi, dan tidak mampu memberikan kontribusi optimal bagi perusahaan. Untuk menghindari jebakan bekerja berlebihan, Jay menyarankan pekerja mengevaluasi kembali penyebab utama beban kerja mereka.

Beberapa pertanyaan yang perlu diajukan antara lain apakah beban kerja masih masuk akal, apakah ada kekurangan keterampilan yang membuat pekerjaan menjadi lebih lama, apakah dukungan dari tim sudah cukup, apakah sebagian tugas bisa didelegasikan, serta aktivitas apa yang paling banyak menghabiskan waktu selama jam kerja.

Ia juga menyarankan pekerja mencatat penggunaan waktu selama satu minggu untuk mengidentifikasi aktivitas yang dapat dihemat. Selain itu, jika harus bekerja di luar jam kantor, pekerja disarankan menetapkan batas waktu yang realistis agar kesehatan fisik dan mental tetap terjaga.

Menurut para pakar, bekerja keras tetap penting, tetapi menjadikan lembur dan kelelahan sebagai syarat sukses justru bisa menjadi bumerang bagi pekerja maupun perusahaan.

"Pada akhirnya, karyawan yang mengalami burnout tidak baik untuk dirinya sendiri maupun untuk bisnis," kata Oliver.

(hsy/hsy)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |