Ini Rekomendasi ESDM Agar Kebakaran Smelter Freeport Tak Terulang

1 month ago 23

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan sejumlah rekomendasi kepada PT Freeport Indonesia (PTFI) agar insiden kebakaran yang terjadi di smelter tembaga di Gresik tidak terulang.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengungkapkan, terdapat beberapa rekomendasi yang diberikan oleh tim investigasi dari Direktorat Jenderal Minerba.

Beberapa rekomendasi tersebut antara lain pemasangan pengatur suhu atau detektor, pemasangan kamera pemantau di area Wet Electro-Static Precipitator (WESP), berikutnya penjadwalan ulang start-up heating untuk memastikan kesiapan pengawas teknis dan operasional.

"Kemudian dilakukan penjadwalan start-up heating yang tepat, sehingga kecukupan pengawas teknis dan pengawas operasional untuk semua peralatan yang dilakukan commissioning," kata dia dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, dikutip Jumat (21/2/2025).

PTFI juga diminta untuk melakukan pemasangan sistem pemadam api otomatis di area WESP, menyusun instrumen tombol darurat yang mudah diakses, serta memasang alarm indikasi kondisi darurat di control room dan lapangan.

"Kemudian mencari tahu, menerapkan referensi sesuai dengan kebutuhan dari perusahaan lain dengan teknologi dan kegiatan operasional pengolahan yang relatif sama," katanya.

Selain itu, ia mengusulkan adanya assessment yang lebih mendalam terkait manajemen risiko. Kemudian, melakukan penyederhanaan sistem dan prosedur.

"Nah, ini berdasarkan dari fakta dan lapangan yang dilakukan oleh tim Direktorat minerba," kata dia.

Di kesempatan yang sama, Presiden Direktur PTFI Tony Wenas menjelaskan bahwa kebakaran tersebut terjadi di fasilitas Common Gas Cleaning Plant.

Insiden ini menyebabkan kerusakan parah pada Wet Electro-Static Precipitator (WESP) serta beberapa ducting dan valves yang terintegrasi dengan sistem tersebut.

Ia lantas menjelaskan proses produksi dalam smelter tersebut, dalam proses produksi konsentrat dibakar di dalam tungku atau furnace yang menghasilkan emisi gas SO2.

Gas lalu ditangkap dan dibersihkan di fasilitas Common Gas Cleaning Plant sebelum dialirkan ke pabrik pengolahan asam sulfat.

"SO2 ini adalah gas yang berbahaya, sehingga tidak bisa diemisikan begitu saja ke udara, ini harus ditangkap untuk dibersihkan terlebih dahulu, yaitu fasilitas yang menangkap dan membersihkan yaitu Common Gas Cleaning Plant yang terbakar," kata Tony.


(wia)

Saksikan video di bawah ini:

Video: Pemerintah Pertimbangkan Buka Keran Ekspor Konsentrat Freeport

Next Article Punya Pabrik Raksasa, Bos MIND ID: RI Bisa Jadi Pusat Industrialisasi

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |