Industri Operasi Plastik Korea Disorot, 50 Pasien Meninggal Sejak 2016

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Korea Selatan dikenal sebagai salah satu pusat industri operasi plastik terbesar di dunia. Namun dibalik reputasi tersebut, data terbaru menunjukkan sisi lain dari industri kecantikan Negeri Ginseng.

Melansir Korea Herald pada Rabu (18/2/2026), berdasarkan analisis lembaga forensik pemerintah Korea Selatan, sebanyak 50 orang meninggal dunia saat menjalani operasi plastik dalam periode 2016 hingga 2024. Tim peneliti dari National Forensic Service menganalisis data autopsi dan menemukan kematian tersebut melibatkan 41 perempuan dan 9 laki-laki yang terkait langsung dengan prosedur bedah kosmetik.

Jumlah kematian akibat operasi plastik juga menunjukkan tren meningkat setiap tahun. Rata-rata kematian mencapai 5,6 kasus per tahun, dengan rincian 2016 sebanyak 4 kasus, 2020 sebanyak 7 kasus, 2021 sebanyak 8 kasus dan 2024 sebanyak 13 kasus.

Sebanyak 64% kematian terjadi di wilayah metropolitan Seoul. Sementara itu, sekitar 28% korban merupakan warga negara asing.

Dari sisi usia, pasien perempuan berusia 19 hingga 82 tahun dengan rata-rata 29 tahun. Sementara pasien laki-laki berusia 29 hingga 69 tahun dengan rata-rata 50 tahun.

Penelitian menunjukkan hampir setengah kematian terjadi akibat anestesi, yakni sebanyak 23 kasus. Sementara itu 16 kasus disebabkan komplikasi operasi, 2 kasus akibat syok anafilaksis, dan 6 kasus terkait penyakit bawaan pasien.

Jenis prosedur yang paling banyak dikaitkan dengan kematian adalah operasi wajah dan leher (26 kasus) serta sedot lemak atau liposuction (11 kasus). Pasien operasi wajah dan leher paling rentan mengalami kematian akibat anestesi, sementara prosedur liposuction lebih sering memicu komplikasi medis lainnya.

Studi juga menemukan hubungan antara tingkat fatalitas dengan skala fasilitas medis. Klinik kecil dengan kurang dari 30 tempat tidur tercatat menyumbang 22 kasus kematian akibat anestesi, sementara rumah sakit universitas hanya mencatat satu kasus serupa.

Peneliti juga menemukan hanya enam dari kasus tersebut melibatkan dokter anestesi khusus di ruang operasi. Peneliti menegaskan, standar keselamatan operasi plastik seharusnya setara dengan prosedur medis besar lainnya, termasuk kesiapan penanganan darurat di ruang operasi.

Mereka juga memperingatkan jumlah kematian sebenarnya kemungkinan lebih tinggi, sebab data hanya mencakup kasus yang menjalani autopsi resmi setelah operasi dinyatakan sebagai penyebab langsung kematian. Studi tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Korean Journal of Legal Medicine.

Meski diwarnai risiko, industri operasi plastik Korea Selatan tetap menjadi yang terbesar di dunia. Data International Society of Aesthetic Plastic Surgery tahun 2021 menunjukkan Korea memiliki tingkat operasi estetika tertinggi secara global, yakni 8,9 prosedur per 1.000 penduduk.

Nilai industri ini diperkirakan melampaui US$10 miliar atau sekitar Rp160 triliun. Pemerintah Metropolitan Seoul melaporkan hampir satu juta warga asing datang ke kota tersebut untuk menjalani perawatan medis pada tahun lalu, dengan 64,2% pengeluaran medis dialokasikan untuk prosedur kosmetik.

(hsy/hsy)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |