Jakarta, CNBC Indonesia - Pesatnya agenda elektrifikasi mengubah peta persaingan global terutama pada ekosistem baterai. Perebutan kini bukan lagi sekadar pasar mobil listrik, melainkan penguasaan rantai pasok baterai dari tambang hingga pabrik sel.
Ketua ID Battery sekaligus Direktur Pengembangan Bisnis Indonesia Battery Corporation (IBC) Niko Chandra mengungkapkan saat ini fasilitas baterai telah berkembang di Indonesia baik itu berupa baterai packers maupun yang memang produksi dari cell. Dengan kata lain, industri baterai mengalami pertumbuhan.
Melalui modal tersebut, kata dia, Indonesia tinggal mengembangkan ekosistem baterai dari hulu hingga hilir. Ini berarti mencakup rantai pasok hingga demand. Apalagi Indonesia memiliki cadangan nikel sebagai bahan baku pembuatan baterai.
"Yang dibutuhkan sebetulnya kalau bagi pelaku industri yang paling utama sebetulnya adalah visibility dari sisi demand. Maksudnya tumbuhnya demand baterai sejauh mana," ungkap Niko kepada CNBC Indonesia, di sela Gelaran Indonesia Energy and Engineering (IEE) Series 2026, Kamis (3/9/2026).
Niko memaparkan dalam mengembangkan ekosistem baterai aspek safety atau keamanan sangat diperlukan, terutama untuk kebutuhan mobil listrik. Untuk itu, penting dalam membangun kepercayaan di masyarakat mengenai penggunaan baterai.
"Kami juga dorong di dalam asosiasi bahwa mengenai baterai testing dan sebagainya kan sebetulnya kita sudah ada infrastruktur, SNI, dan sebagainya. Tinggal bagaimana ini bisa didorong yang semula mungkin voluntary harapannya ke depan memang bisa satu hal yang bisa mandatory," terang Niko.
Selain aspek keamanan, pihaknya juga mendorong aspek sustainability atau keberlanjutan. Dalam hal ini Indonesia perlu menyiapkan proses recycling atau penerapan second line application. Termasuk dukungan regulasi.
"Artinya ini yang perlu dilengkapi karena supaya ekosistemnya memang lengkap dan rasanya memang sekarang regulasi di bidang recycle belum ada sepenuhnya," jelas Niko.
Lebih lanjut, dia memaparkan bahwa baterai tak hanya dibutuhkan bagi kendaraan listrik dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Data center pun tak luput menjadi pasar terbesar baterai.
"Pengembangan data center Indonesia sudah menjadi salah satu hub bahkan termasuk negara yang dilirik untuk pengembangan data center dan ke depan kalau kita lihat lebih jauh lagi teknologi kan semakin advanced nih adanya robotika, adanya AI," ujar Niko.
Dalam pengembangan ekosistem baterai listrik diperlukan kolaborasi pentahelix yang meliputi Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian ESDM, Kementerian Perindustrian, bahkan Kementerian Perhubungan. Sementara itu, kolaborasi dengan akademisi dan periset diperlukan untuk pengembangan masa depan teknologi baterai yang berkelanjutan.
"Artinya sebenarnya sebuah satu ekosistem yang perlu kerja bareng," tambah dia.
Untuk diketahui IBC turut berpartisipasi dalam Energy Week yang merupakan bagian dari gelaran IEE Series 2026. Ajang pertemuan industri B2B terbesar di Asia Tenggara ini mengusung tema "Sustainability for Industrial Transformation" sebagaimana tema tahun lalu.
Dia berharap Energy Week menjadi ajang yang mempertemukan investor, pelaku industri, pemerintah, dan akademisi dan menjadi wadah memberikan kontribusi dan langkah-langkah konkret.
"Artinya bagaimana juga event-event di dalamnya bisa memberikan policy-policy, rekomendasi buat penyempurnaan, utamanya untuk kebijakan dan investasi di Indonesia supaya semakin kondusif," pungkas Niko.
(dpu/dpu)
[Gambas:Video CNBC]

1 hour ago
1

















































