Impor Minyak Mentah RI Meningkat dalam 5 Tahun, Ini Datanya

4 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat tren peningkatan impor minyak mentah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Di sisi lain, produksi domestik justru terus mengalami penurunan di tengah konsumsi yang terus meningkat.

Sepanjang 2025, Indonesia melalui PT Pertamina (Persero) mengimpor sekitar 135,33 juta barel minyak mentah. Dari jumlah tersebut sekitar 19% atau 25,36 juta barel berasal dari Arab Saudi, sementara sisanya dipasok dari berbagai negara lain.

Mengutip data Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia 2024, produksi minyak mentah Indonesia terus mengalami tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2024, produksi minyak tercatat sebesar 212,33 juta barel atau setara sekitar 581 ribu barel per hari. Angka ini lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang masih berada di atas level tersebut.

Sementara itu, ekspor minyak mentah Indonesia relatif kecil. Sepanjang 2024, ekspor tercatat hanya mencapai 27,2 juta barel. Adapun, impor minyak mentah mencapai 127,79 juta barel jauh lebih besar dibandingkan ekspor.

Data menunjukkan adanya tren peningkatan impor dalam lima tahun terakhir. Pada 2020, impor minyak mentah tercatat sebesar 79,68 juta barel. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 104,40 juta barel pada 2021, naik lagi menjadi 114,52 juta barel pada 2022, dan mencapai 132,38 juta barel pada 2023.

Sebagaimana diketahui, di tengah dinamika geopolitik global, pemerintah mulai mengkaji diversifikasi sumber impor minyak mentah guna mengurangi ketergantungan pada kawasan Timur Tengah.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia beberapa pekan lalu mengungkapkan bahwa pemerintah berencana mengalihkan sebagian impor ke negara-negara di luar kawasan tersebut.

Bahlil mengatakan beberapa negara yang menjadi alternatif sumber impor minyak mentah antara lain Amerika Serikat, Angola, sejumlah negara di Afrika dan kawasan Amerika Latin.

Menurutnya, pemerintah tengah menjajaki kontrak jangka panjang dengan negara-negara tersebut, terutama dengan Amerika Serikat yang dinilai memiliki kapasitas produksi minyak yang besar.

"Ada kontrak jangka panjang kita dengan negara-negara lain yang di luar daripada Middle East. Salah satu diantaranya adalah Amerika. Kenapa harus Amerika? Karena mereka yang mempunyai volume minyak yang lebih," kata Bahlil dalam acara Podcast Bukan Abuleke, dikutip Senin (30/3/2026).

Bahlil mengakui pengiriman minyak dari Amerika memang membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dari kawasan Timur Tengah. Adapun, jika pengiriman dari negara-negara Timur Tengah hanya memakan waktu sekitar 2 hingga 3 minggu, maka pengiriman dari Amerika Serikat bisa mencapai sekitar 40 hari.

"Benar. Jaraknya itu benar, akan lebih lama. Tetapi, kita melakukan pesan jangka panjang secara di awal. Supaya metode penyaluran logistiknya bisa kita atur," tambah Bahlil.

Ia lantas mencontohkan bahwa skema serupa sebelumnya telah berhasil diterapkan pada impor LPG. Adapun, jika sebelumnya sebagian besar impor LPG Indonesia berasal dari Timur Tengah, kini sekitar 70% impor LPG Indonesia berasal dari Amerika Serikat.

"Dan ini sudah terbukti ketika kita mengalihkan impor LPG kita dari Middle East yang tadinya kan Middle East mayoritas sekarang kita alihkan impor LPG kita 70% dari Amerika. Bisa logistiknya. Jadi nggak perlu harus ada rasa cemas, nggak perlu," katanya.

(pgr/pgr)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |