Ukuran Font
Kecil Besar
14px
MEDAN (Waspada.id): Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat pada awal perdagangan seiring memburuknya sentimen global dan kebijakan pengelola indeks internasional MSCI. Pada sesi awal perdagangan, IHSG tercatat melemah tajam dan sempat berada di level 8.393.
Pengamat Pasar Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai pelemahan IHSG tidak terlepas dari kombinasi sentimen global dan domestik. Dari global, pelaku pasar merespons negatif rilis data indeks kepercayaan konsumen Amerika Serikat yang turun tajam ke level 84,5 pada Januari 2026, dari sebelumnya 94,2, serta berada jauh di bawah ekspektasi pasar di kisaran 90.
“Data kepercayaan konsumen AS yang melemah memperkuat kekhawatiran pasar terhadap perlambatan ekonomi global. Investor saat ini juga menanti pidato Presiden AS, terlebih setelah India mencapai kesepakatan dagang dengan Uni Eropa,” ujar Gunawan.
Dari dalam negeri, tekanan IHSG semakin dalam setelah MSCI mengumumkan pembekuan sementara sejumlah perubahan indeks yang melibatkan saham-saham Indonesia. Kebijakan tersebut diambil menyusul meningkatnya kekhawatiran investor global terkait transparansi data kepemilikan saham dan aspek investabilitas pasar domestik.
“Kebijakan MSCI ini menjadi sentimen negatif yang cukup besar bagi pasar saham Indonesia. Investor asing cenderung bersikap wait and see hingga ada kejelasan terkait transparansi dan regulasi pasar,” jelas Gunawan.
Sementara itu, pergerakan nilai tukar Rupiah justru menunjukkan penguatan. Rupiah diperdagangkan di level Rp16.730 per dolar AS, seiring melemahnya indeks dolar AS (USD Index) yang turun ke kisaran level 95. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi Rupiah untuk bergerak lebih stabil.
Gunawan memproyeksikan, di tengah minimnya sentimen positif, IHSG masih akan bergerak terbatas dan berpotensi bertahan di zona merah. Sedangkan Rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp16.650 hingga Rp16.770 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.
Di sisi lain, harga emas dunia kembali mencatatkan kenaikan signifikan dan ditransaksikan di kisaran USD 5.166 per ons troy, bahkan sempat menyentuh level USD 5.185 per ons troy di pasar Amerika Serikat. Di pasar domestik, harga emas saat ini setara dengan sekitar Rp2,8 juta per gram.
“Kenaikan harga emas dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik dan kembali munculnya ancaman kenaikan tarif dagang AS terhadap Korea Selatan. Kondisi ini memperburuk ekspektasi ekonomi global dan mendorong investor beralih ke aset aman seperti emas,” pungkas Gunawan. (id09)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.





















































