IHSG Anjlok Lagi 1,43% Tertekan Kinerja Emiten Teknologi Ini

4 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali anjlok pada perdagangan hari ini, Selasa (12/5/2026), meski sempat bertenaga pada awal pembukaan pasar, yang mana IHSG sempat melaju dengan kuat dan bahkan sempat naik 1%. Akan tetapi pada akhir perdagangan sesi pertama, IHSG berbalik arah dan ambruk ke level 6.807,13 atau turun 1,43%.

Sebanyak 456 saham melemah, 192 menguat dan 166 lainnya stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp 7,50 triliun yang melibatkan 18,90 miliar saham dalam 1,49 juta kali transaksi.

Secara sektoral, sektor teknologi menjadi penekan terbesar dengan koreksi mencapai 5,07%, disusul utilitas -2,59% serta kesehatan melemah -2,09%.

Dari sisi saham, PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) menjadi pemberat terbesar IHSG dengan kontribusi penurunan 24,2 poin indeks. Saham MORA pada awalnya melaju kuat dengan kenaikan 15% lebih dan menjadi penggerak utama IHSG. Akan tetapi tidak lama berselang, MORA anjlok hingga menyentuh batas auto reject bawah (ARB) 15% ke level 7.650.

Selanjutnya adaDCI Indonesia (DCII) yang menekan indeks 9,81 poin, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) sebesar 8,74 poin, serta PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar 7,03 poin.

Kinerja saham RI sejalan dengan pergerakan bursa di kawasan Asia-Pasifik di mana mayoritas indeks acuan bergerak di zona merah. Namun demikian kinerja IHSG tercatat menjadi salah satu yang terburuk hari ini, dengan hanya indeks KOSPI Korea Selatan yang mencatatkan pelemahan lebih besar dari IHSG atau mencapai lebih dari 3%.

Senada bursa Eropa juga diharapkan dibuka di zona merah dengan sejumlah sentimen negatif masih terus membayangi.

Dari dalam negeri, pelaku pasar cenderung melakukan aksi jual dan wait and see menjelang pengumuman review MSCI yang dijadwalkan hari ini. Pasar khawatir Indonesia kembali mengalami penurunan bobot dalam indeks global MSCI, yang berpotensi memicu arus keluar dana asing.

Menjelang pengumuman tersebut, regulator hingga pelaku pasar kompak menilai reformasi pasar modal Indonesia memang berpotensi memicu tekanan jangka pendek, namun diyakini akan berdampak positif dalam jangka panjang.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi mengatakan pihaknya masih menunggu hasil pengumuman MSCI, sembari menegaskan langkah reformasi pasar modal yang dilakukan regulator merupakan bagian dari upaya memperkuat integritas pasar.

"Kalaupun ada penyesuaian jangka pendek, kita melihat ini sebagai short term pain lah. Tapi Insya Allah long term gain," ujar Friderica di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (11/5/2026).

Bursa Efek Indonesia mengakui adanya potensi penurunan bobot Indonesia di MSCI dalam jangka pendek apabila tidak ada saham baru yang masuk indeks.

"Kalau itu dilakukan oleh MSCI dan tidak ada saham baru yang masuk dalam MSCI, dalam jangka pendek mungkin saja bobot Indonesia turun. Tetapi itu adalah short term pain untuk long term gain," ujar Jeffrey.

BEI menegaskan reformasi pasar modal akan terus dilanjutkan, termasuk mendorong peningkatan free float emiten agar memenuhi standar global.

Selain faktor domestik, sentimen global juga masih membebani pasar emerging market setelah penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS membuat investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.

Meski IHSG tertekan, sejumlah saham masih menjadi penopang indeks. PT Merdeka Gold Resources Tbk (MDKA) menjadi penggerak utama dengan kontribusi kenaikan 2,58 poin indeks. Disusul PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), serta PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC).

Adapun nilai tukar rupiah mengawali perdagangan pagi ini pada level pelemahan sepanjang sejarah karena telah mencapai level Rp17.500/US$.

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda mengalami pelemahan ke level Rp17.500/US$ pada pukul 9.15 WIB. Di mana pada pembukaan Rupiah dibuka di zona merah dengan pelemahan sebesar 0,43% ke level Rp17.480/US$. DXY pada pembukaan juga terpantau menguat 0.21% ke posisi 98,115

Hal ini dipicu oleh Presiden AS Donald Trump yang mengatakan gencatan senjata dengan Iran kini "di ujung tanduk" setelah Teheran menolak proposal Washington untuk mengakhiri perang.

Iran menuntut penghentian konflik di semua front, termasuk di Lebanon, kompensasi atas kerusakan perang, pencabutan blokade laut AS, jaminan tidak ada serangan lanjutan, dan pemulihan ekspor minyaknya. Teheran juga menegaskan kendalinya atas Strait of Hormuz, jalur yang biasanya mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.

Trump menyebut respons Iran "sama sekali tidak dapat diterima" dan mengatakan gencatan senjata yang berlaku sejak 7 April kini sangat rapuh. Iran menegaskan tuntutannya sah, sementara Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf memperingatkan bahwa militer Iran siap merespons setiap agresi.

(fsd/fsd)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |