Jakarta, CNBC Indonesia - Kinerja penjualan Honda di Indonesia mulai menunjukkan tekanan yang semakin nyata. Jika sepanjang 2025 masih mampu bertahan di papan atas atau Big 5 bersama brand Jepang lain. Memasuki awal 2026 posisinya mulai tergerus, terutama oleh agresivitas pemain baru seperti BYD.
Sepanjang 2025, Honda sebenarnya masih mencatatkan performa yang relatif solid, meski tidak dominan. Dari sisi wholesales (distribusi dari pabrik ke dealer), Honda membukukan 56.500 unit dan berada di posisi kelima nasional, di bawah Toyota (250.431 unit), Daihatsu (130.677 unit), Mitsubishi Motors (71.781 unit), dan Suzuki (66.345 unit).
Namun, tekanan mulai terasa karena jarak dengan kompetitor semakin melebar, sementara di belakangnya muncul pendatang baru. BYD, misalnya, langsung menempel ketat dengan 46.711 unit, disusul Chery dan Hyundai.
Dari sisi retail sales (penjualan ke konsumen), posisi Honda bahkan masih lebih baik. Dengan 71.233 unit, Honda menempati peringkat ketiga, di bawah Toyota (258.923 unit) dan Daihatsu (137.835 unit), serta masih berada di atas Mitsubishi Motors (70.338 unit) dan Suzuki (64.838 unit).
Artinya, sepanjang 2025 Honda masih memiliki basis konsumen yang kuat di level ritel, meskipun distribusi wholesales mulai tertekan.
Memasuki 2026, tanda-tanda pelemahan Honda semakin terlihat. Data dua bulan pertama menunjukkan posisi Honda mulai tergeser oleh BYD, terutama dari sisi wholesales.
Pada periode Januari-Februari 2026, BYD mencatatkan wholesales sebesar 9.532 unit atau setara 6,5% pangsa pasar. Angka ini sedikit lebih tinggi dibanding Honda yang membukukan 9.401 unit dengan pangsa 6,4%.
Selisihnya memang tipis, namun ini menjadi sinyal penting: Honda yang sebelumnya berada di atas, kini mulai disalip oleh pemain baru dalam waktu relatif singkat.
Dari sisi retail sales, Honda masih unggul atas BYD. Honda mencatatkan 8.921 unit (6,1%), sementara BYD berada di 6.112 unit (4,2%). Namun, gap ini jauh lebih kecil dibandingkan kondisi sebelumnya, menandakan tekanan yang semakin kuat di level konsumen.
Masuknya BYD dan merek China lainnya membawa perubahan signifikan pada peta persaingan. Produk yang ditawarkan-khususnya kendaraan listrik-dinilai lebih kompetitif dari sisi harga, fitur, hingga teknologi.
Di sisi lain, Honda masih bertumpu pada lini produk konvensional seperti SUV kompak dan MPV, yang kini menghadapi kejenuhan pasar serta persaingan ketat dari berbagai arah.
Selain itu, perubahan preferensi konsumen ke arah elektrifikasi membuat pemain yang lebih siap di segmen ini memiliki keunggulan lebih cepat.
Data awal 2026 menjadi alarm bagi Honda. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin posisi Honda di lima besar wholesales akan semakin terancam, terutama dengan agresivitas ekspansi merek-merek baru.
Meski demikian, Honda masih memiliki kekuatan di sisi brand, loyalitas konsumen, serta jaringan purna jual yang luas. Tantangannya kini adalah bagaimana mempercepat adaptasi terhadap perubahan pasar-baik melalui elektrifikasi maupun strategi produk yang lebih segar.
Jika tidak, tekanan yang mulai terasa di awal 2026 bisa menjadi tren jangka panjang yang mengubah posisi Honda di industri otomotif nasional.
(dce)
[Gambas:Video CNBC]

3 hours ago
3
















































