Hari Ini, Purbaya Akan Sampaikan Pengumuman Penting

1 day ago 2
  • Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam, IHSG menguat sementara rupiah melemah
  • Wall Street mayoritas melemah setelah melesat dalam dua hari sebelumnya
  • Data realisasi APBN dan data ekonomi AS akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri kembali ditutup beragam pada Rabu (7/1/2025). Bursa saham menguat sementara rupiah masih melemah.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih bergerak volatile pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menguat pada perdagangan Rabu (7/1/2026) dan melanjutkan reli perdagangan pekan ini. Indeks menguat 11,20 poin atau terapresiasi tipis 0,13% ke level 8.944,81 pada akhir perdagangan sesi kedua.

Ini merupakan rekor harga penutupan perdagangan tertinggi sepanjang masa (all time high) baru yang dicatatkan IHSG.

Sebanyak 344 saham naik, 362 turun, dan 104 tidak bergerak. Nilai transaksi kemarin tergolong ramai atau mencapai Rp 36,89 triliun melibatkan 70,57 miliar saham dalam 4,57 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar mencapai Rp 16.351 triliun atau nyaris mencapai US$ 1 miliar.

Mayoritas sektor perdagangan berada di zona hijau dengan penguatan terbesar dicatatkan oleh sektor energi. Sedangkan koreksi paling dalam kemarin dicatatkan oleh sektor teknologi.

Saham-saham yang menjadi penggerak utama IHSG termasuk DSSA (PT Dian Swastatika Sentosa Tbk), ANTM (PT Aneka Tambang Tbk), AMMN (PT Amman Mineral Internasional Tbk),
ASII (PT Astra International Tbk), dan KPIG (PT MNC Land Tbk) s
edangkan pemberat utama kinerja indeks kemarin termasuk BRMS (PT Bumi Resources Minerals Tbk), COIN (PT Indokripto Koin Semesta Tbk), BRPT (PT Barito Pacific Tbk), BMRI (PT Bank Mandiri (Persero) Tbk), dan CUAN (PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk).

Beralih ke pasar Valas, nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Rabu (7/1/2026).

Mengacu pada data Refinitiv, rupiah terdepresiasi sebesar 0,15% dan ditutup di level Rp16.770/US$. Sejak pembukaan perdagangan pagi tadi, rupiah memang sudah berada di zona pelemahan setelah dibuka turun 0,03% di posisi Rp16.750/US$, dan terus mengalami tekanan hingga penutupan perdagangan.

Pelemahan rupiah pada perdagangan kemarin terutama dipengaruhi oleh sentimen eksternal, khususnya dinamika pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) di pasar global.

Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia tercatat menguat, meskipun dengan rentang pergerakan yang relatif terbatas. Kondisi tersebut mencerminkan sikap pelaku pasar yang cenderung menahan posisi sambil menunggu kepastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun stagnan di 6,09% pada perdagangan kemarin. Investor sepertinya masih wait and see dengan pasar obligasi.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |