Jakarta, CNBC Indonesia — Harga minyak dunia bergerak menguat tipis pada perdagangan Selasa (20/1/2026), seiring pasar menimbang sinyal ekonomi China yang cenderung beragam.
Optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu masih menopang sentimen permintaan, namun di sisi lain data perdagangan energi menunjukkan perlambatan pada segmen tertentu.
Berdasarkan Refinitiv, harga minyak Brent tercatat di level US$ 63,98 per barel pada pukul 10.20 WIB, naik tipis dibandingkan penutupan sebelumnya. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) berada di posisi US$ 59,48 per barel, juga mencatatkan penguatan terbatas.
Pergerakan ini terjadi di tengah perhatian pasar terhadap perkembangan ekonomi China, konsumen minyak terbesar dunia.
Ekonomi China tumbuh 5,0% sepanjang 2025, sesuai target pemerintah. Kinerja tersebut memberi ruang optimisme bahwa permintaan energi China masih relatif terjaga di tengah lemahnya konsumsi domestik.
Namun, dari sisi perdagangan energi, terdapat sinyal pendinginan. Impor fuel oil China pada 2025 tercatat turun 10,4% secara tahunan menjadi 21,6 juta ton, setelah sebelumnya mencetak rekor pada 2024.
Bea Cukai China menunjukkan pelemahan ini dipicu penurunan minat kilang independen, seiring kenaikan pajak impor dan turunnya insentif pengembalian pajak.
Analis China senior Vortexa, Emma Li, menilai pelemahan tersebut terutama berasal dari sisi bahan baku kilang.
Menurutnya, kilang independen cenderung memprioritaskan minyak mentah ketimbang fuel oil selama kuota impor crude masih tersedia. Pergeseran ini membuat permintaan fuel oil kehilangan daya dorong, meski aktivitas pengilangan secara keseluruhan masih mencatat rekor.
Di sisi lain, ekspor marine fuel China justru menunjukkan tren sebaliknya. Sepanjang 2025, ekspor bahan bakar kapal yang didominasi very low sulphur fuel oil naik 11,6% menjadi 20,47 juta ton. Lonjakan ini ditopang peran pelabuhan Zhoushan, yang kini menyalip Fujairah dan menempati posisi sebagai hub bunker terbesar ketiga dunia.
Pasar global juga mencermati faktor geopolitik. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait rencana kenaikan tarif impor terhadap sejumlah negara Eropa menambah lapisan ketidakpastian. Ancaman tarif tersebut berpotensi memicu tensi dagang baru, yang dapat berdampak pada prospek pertumbuhan ekonomi global dan permintaan energi.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(emb/emb)
[Gambas:Video CNBC]

3 hours ago
1

















































