Guru Besar FKUI Ungkap Sederet Dampak Penderita Penyakit Campak

1 hour ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Penyakit campak sedang menjadi perhatian di Indonesia. Meski kasusnya mulai menurun dalam beberapa pekan terakhir, para ahli mengingatkan dampak penyakit ini tidak selalu berhenti saat pasien dinyatakan sembuh.

Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, Prof. Dr. dr. Hinky Hindra Irawan Satari mengungkapkan, campak dapat menimbulkan komplikasi jangka panjang yang fatal, seperti gangguan otak yang baru muncul 7 hingga 10 tahun setelah infeksi awal.

"Campak bisa menyebabkan komplikasi berat, bahkan setelah sembuh. Ada kondisi yang muncul 7 sampai 10 tahun kemudian dan berakhir fatal," ujarnya dalam webinar kesehatan bertajuk "Kupas Tuntas Campak: Dari Imunisasi Sampai Komplikasi", Rabu (1/4/2026).

Tak hanya itu, risiko kematian akibat campak juga masih nyata. Data menunjukkan sekitar 1 dari 1.000 anak yang terinfeksi bisa meninggal dunia, sementara sebagian lainnya mengalami komplikasi serius seperti radang paru (pneumonia) dan radang otak (ensefalitis).

Prof. Hinky juga menegaskan, campak merupakan salah satu penyakit paling menular. Satu orang yang terinfeksi bisa menularkan virus ke 12 hingga 18 orang lainnya, jauh lebih tinggi dibandingkan banyak penyakit infeksi lain.

"Satu orang yang terinfeksi dapat menularkan virus ke banyak orang di sekitarnya, sehingga penyebarannya bisa cepat jika tidak dikendalikan dengan baik," ujarnya.

Prof. Hinky menambahkan, kelompok yang paling rentan adalah anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap, terutama balita. Namun, kasus juga bisa terjadi pada remaja hingga orang dewasa, khususnya mereka yang belum atau tidak lengkap menerima vaksin.

Ia bilang, pencegahan melalui imunisasi menjadi langkah paling efektif. Dengan dua dosis vaksin, perlindungan terhadap campak bisa mencapai sekitar 97%, sehingga risiko sakit berat dapat ditekan secara signifikan.

Di sisi lain, Kementerian Kesehatan mencatat tren kasus campak di Indonesia memang mulai menurun dalam beberapa pekan terakhir. Direktur Imunisasi Kemenkes, dr. Indri Yogyaswari menyebutkan, pada awal Januari 2026 jumlah kasus mingguan sempat mencapai sekitar 2.900 kasus.

"Terlihat penurunan, hingga minggu ke-12, angka tersebut turun drastis menjadi 146 kasus per minggu," ujarnya.

Meski begitu, penyebaran masih terjadi di berbagai daerah. Beberapa provinsi seperti Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat sempat mengalami lonjakan sebelum akhirnya mulai melandai.

Kementerian Kesehatan juga mencatat sejumlah daerah seperti Tangerang, Depok, hingga Palembang menjadi lokasi dengan kasus relatif tinggi sehingga menjadi fokus intervensi pemerintah. Pemerintah menegaskan, kunci utama menekan campak adalah imunisasi. Namun, cakupan vaksinasi di Indonesia masih belum optimal.

Padahal, dua dosis vaksin campak dapat memberikan perlindungan hingga 97%. Tanpa cakupan imunisasi tinggi, potensi kejadian luar biasa (KLB) akan terus berulang.

"Kalau masih ada kasus, artinya cakupan imunisasi kita belum mencapai target," jelas Indri.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |