Gempa Terasa Bak Truk Lewat, Bawa Tsunami Raksasa Setinggi 21 Meter

5 hours ago 1
Daftar Isi Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa lalu lewat relevansinya di masa kini.

Jakarta, CNBC Indonesia - Tepat dua dekade pascabencana tsunami Pangandaran menerjang pesisir selatan Jawa, para ahli kembali memberikan peringatan keras. Tragedi kelam ini tidak hanya menjadi pemicu penting pembenahan sistem mitigasi bencana nasional, tetapi juga menjadi pengingat bahwa ancaman bencana serupa di selatan Jawa masih nyata.

BMKG mencatat, gempa berkekuatan M 7,7 yang mengguncang Pangandaran pada pukul 15.19 WIB, 17 Juli 2006 silam, merupakan pemicu utama gelombang tsunami setinggi 4 hingga 8 meter. Bencana tersebut meluluhlantakkan kawasan pantai sepanjang 250 kilometer, membentang dari Jawa Barat, Jawa Tengah bagian selatan, hingga Yogyakarta.

Dahsyatnya hempasan air laut tersebut merenggut 668 korban jiwa dan merusak ribuan tempat tinggal, menjadikannya salah satu bencana paling mematikan di Indonesia setelah Tsunami Aceh 2004.

Catatan Kritis Pakar untuk Pesisir Selatan Jawa

Dalam sebuah diskusi online, para pakar geofisika dan kebencanaan menyoroti sejumlah fakta teknis serta PR besar yang masih harus diselesaikan pemerintah dan masyarakat:

1. Fenomena Tsunami Earthquake Paling Mematikan di Jawa

Ahli Seismologi BMKG Pepen Supendi mengungkapkan tsunami Pangandaran merupakan bencana tsunami terbesar di Pulau Jawa setelah gempa Banyuwangi 1994. Peristiwa ini tergolong fenomena tsunami earthquake, di mana proses patahan (rupture) batuan terjadi sangat lambat hingga memancarkan energi berfrekuensi rendah.

Akibatnya, guncangan di darat terasa relatif lemah-hanya sekitar 3-4 MMI atau setara dengan getaran saat truk melintas. Kondisi ini kerap menipu warga pesisir yang tidak menyadari bahwa satu jam setelahnya, gelombang raksasa siap menerjang.

2. Jangan Tunggu Sirine Peringatan

BMKG mengimbau masyarakat pesisir untuk segera melakukan evakuasi mandiri jika merasakan gempa berdurasi lama, meskipun getarannya relatif lemah.

"Ketika Anda merasakan gempa yang cukup lama di kawasan pantai, meskipun guncangannya tidak sekuat gempa pada umumnya, itu bisa jadi pertanda tsunami earthquake. Segera jauhi pantai karena setiap detik sangat berharga untuk menyelamatkan nyawa," tegas Pepen.

3. Ketinggian Gelombang Tembus 21 Meter

Meskipun rata-rata tinggi tsunami berkisar 5-10 meter, observasi di kawasan Nusa Kambangan mencatat ketinggian gelombang mencapai 21 meter. Para ilmuwan menduga ada pemicu sekunder (secondary tsunami source), seperti adanya longsoran bawah laut lokal (underwater landslide) serta kontribusi splay fault.

4. Bayang-bayang Patahan Bersamaan Megathrust

Pusat Studi Gempa Nasional telah memetakan dua segmen megathrust utama di selatan Jawa, yaitu segmen Jawa Barat dan Jawa Timur. Kajian terbaru menunjukkan potensi skenario terburuk di mana kedua segmen ini dapat mengalami patahan secara bersamaan (simultaneous rupture).

Pepen mengingatkan bahwa gempa M 7,7 saja sudah meluluhlantakkan pesisir, apalagi jika terjadi guncangan megathrust yang diprediksi berkapasitas magnitudo lebih besar.

5. Sektor Pariwisata Pangandaran Masih Rentan

Guru Besar ITERA Harkunti Pertiwi Rahayu menyoroti ketangguhan (resilience) sektor pariwisata di Pangandaran yang tergolong masih rendah. Berdasarkan risetnya, overall resilience level industri pariwisata di Kawasan Strategis Pariwisata Nasional tersebut baru mencapai 33,51%.

Ia mendorong pemerintah daerah dan pelaku usaha untuk segera menyusun Business Continuity Plan (BCP) guna mempercepat pemulihan ekonomi kawasan jika terjadi bencana sewaktu-waktu.

6. Rambu Evakuasi Perlu Standarisasi

Harkunti juga menemukan fakta bahwa penunjuk arah evakuasi (tsunami signage) di lapangan masih sangat bervariasi karena dibangun oleh donor yang berbeda-beda. Perbedaan simbol dan arah evakuasi ini berpotensi membingungkan wisatawan saat kondisi darurat.

7. Sistem Peringatan Dini Kini Lewat InaTEWS

Tragedi Pangandaran menjadi akselerator pengoperasian Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) yang resmi diluncurkan pada 2008. Ketua Tim Kerja Informasi Gempabumi dan Tsunami BMKG Weniza menjelaskan bahwa saat ini BMKG mampu mengeluarkan Peringatan Dini Tsunami dalam waktu 3 hingga 5 menit setelah gempa terjadi.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |