Geger Startup Tak Terkenal Ciptakan Chip Langsung dari Otak Manusia

7 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang kian pesat mendatangkan beragam risiko, mulai dari hilangnya pekerjaan manusia, penyebaran disinformasi yang makin mudah, hingga dampak emosional yang menyertainya.

Di satu sisi, para raksasa teknologi enggan menahan diri untuk meluncurkan produk-produk AI termutakhir, dengan iming-iming kehidupan yang lebih mudah, efektif, dan efisien di masa depan.

Bukan cuma itu, ada beberapa krisis yang saat ini sudah muncul akibat AI. Para aktivis menyorot konsumsi air dan listrik yang sangat besar untuk menjalankan infrastruktur AI, hingga potensi kerusakan lingkungan dan kelangsungan hidup manusia.

Selain itu, krisis kelangkaan chip memori juga sudah menyebabkan lonjakan harga untuk perangkat-perangkat elektronik konsumen seperti HP dan laptop.

Di tengah huru-hara tersebut, sebuah startup berbasis San Francisco mencoba menghadirkan solusi untuk krisis energi akibat AI, yakni dengan menggunakan sel otak manusia.

The Biological Computing Company, atau TBC, adalah startup yang muncul pada Februari 2026 dengan pendanaan awal sebesar US$25 juta (Rp428 miliar). TBC mempelopori alternatif untuk silikon tradisional, menggunakan sel otak manusia sebagai dasar untuk meningkatkan algoritma dan infrastruktur AI generatif.

Di pucuk pimpinan TBC terdapat mantan ahli bedah saraf, Dr. Alex Ksendsovsky dan Dr. Jon Pomeraniec.

Menurut laporan The Deep View yang diundang untuk mengunjungi laboratorium TBC di Mission Bay, mereka bertemu dengan tim startup yang berjumlah 23 orang, mulai dari pakar visi komputer dan pengembang AI, hingga fisikawan komputasi dan ahli biologi yang berpengalaman.

Banyak di antaranya berasal dari perusahaan teknologi besar seperti Meta, Apple, dan Amazon. Dengan mengenakan jas lab, masker, dan sarung tangan lateks, tim The Deep View berkesempatan melihat dari dekat chip-chip tersebut, yang masing-masing berisi antara 100.000 hingga 500.000 sel saraf manusia.

Seseorang mengunggah momen beraktifitas di The Biological Computing Company, sebuah perusahaan rintisan yang membuat chip dan algoritma AI efisien menggunakan neuron hidup. (X/@natrubio__)Foto: Seseorang mengunggah momen beraktifitas di The Biological Computing Company, sebuah perusahaan rintisan yang membuat chip dan algoritma AI efisien menggunakan neuron hidup. (X/@natrubio__)
Seseorang mengunggah momen beraktifitas di The Biological Computing Company, sebuah perusahaan rintisan yang membuat chip dan algoritma AI efisien menggunakan neuron hidup. (X/@natrubio__)

Berdasarkan laporan The Deep View, dikutip Senin (13/4/2026), TBC mengambil data dunia nyata, seperti gambar dan video, dan menyandikan data tersebut ke dalam chip otak manusia. Informasi ini kemudian diubah menjadi representasi yang lebih kaya, yang kemudian digunakan untuk memperkuat algoritma AI.

Perusahaan awalnya menggunakan sel otak yang diekstrak dari tikus, tetapi Ksendsovsky mengatakan bahwa TBC sedang beralih dari situ [ke otak manusia].

Chip tersebut memiliki masa pakai satu tahun, dan menghasilkan limbah yang perlu dibersihkan setiap beberapa hari.

Ksendsovsky mengatakan bahwa teknologi ini kembali ke akar AI. Model komputasi AI awalnya memodelkan sel saraf di otak manusia. Namun, seiring perkembangan AI, teknologi tersebut menjadi sangat non-biologis dan menyebabkan silikon menjadi "kaku". Hal ini memaksa pengembangan AI untuk menggunakan metode paksa dan boros daya.

Di sinilah chip TBC kemungkinan memiliki keunggulan terbesar, menurut Ksendsovsky. Sel otak, secara umum, membutuhkan lebih sedikit energi daripada chip silikon untuk menjalankan AI.

Dalam penelitiannya, TBC menemukan bahwa model yang dilatih pada respons saraf biologis mencapai kinerja puncak tiga kali lebih cepat, membutuhkan lebih sedikit iterasi pelatihan, serta berpotensi mengurangi kebutuhan komputasi dan energi hingga tiga kali lipat.

Untuk saat ini, perusahaan tidak menjual chip tersebut, tetapi menggunakan teknologinya untuk membangun dan memperkuat algoritma yang menggunakan sinyal neurologis, terutama untuk AI visual, termasuk video generatif, rendering game, dan visi komputer.

Ksendsovsky mengatakan perusahaannya sedang berdiskusi dengan laboratorium model dasar AI, perusahaan keamanan siber, dan perusahaan kurasi data. Kendati demikian, ia tak menyebut nama-nama calon mitranya.

"Kami sedang membangun produk. Kami ingin menunjukkan kepada orang-orang bahwa ada hasil nyata yang dapat dimonetisasi saat ini. Apa yang kami bangun sangat unik dan sangat jauh di luar dugaan, sehingga saya pikir dunia hanya perlu sedikit waktu untuk melihat dan memahaminya," kata Ksendsovsky.

Pada akhirnya, TBC berharap pengembangan AI beralih ke komputasi real-time, di mana chip biologis ini merupakan bagian dari lingkaran inferensi. Ia menargetkan metode ini akan marak dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan.

Namun, banyak yang perlu dilakukan untuk mewujudkannya, termasuk mengotomatiskan pengumpulan limbah yang dihasilkan sel-sel ini dan mencari cara untuk mengabadikan masa hidup mereka.

"Kenyataannya, ada banyak hal mendasar yang perlu dipahami dan dibangun untuk mencapai titik itu," katanya.

Menurut pandangan The Deep View, tesis TBC untuk saat ini memang terdengar 'ngawang'. Namun, AI yang dulunya juga dianggap science-fiction, kini telah menjadi hal umum sehingga perkembangannya yang pesat telah menciptakan serangkaian masalah, salah satunya terkait penggunaan energi.

Karena itu, para tokoh terkemuka di bidang AI berupaya menciptakan teknologi yang dulunya juga tampak di luar jangkauan, seperti energi fusi dan data center di luar angkasa yang memanfaatkan energi Matahari. Menurut The Deep View, krisis adalah konsekuensi dari penemuan, dan AI tentu saja menciptakan krisis.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |