Dunia Sedang Tidak Baik-Baik Saja, 8 Tanda Bahaya Ini Sudah Muncul

2 hours ago 2

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

16 September 2026 07:45

Jakarta, CNBC Indonesia - Kurang dari dua tahun setelah Donald Trump kembali terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat (AS), perekonomian dunia semakin jauh dari kata tenang.

Trump mengawali pemerintahannya dengan sejumlah kebijakan yang sangat kontroversial.

Mulai dari pemberlakukan tarif resiprokal yang dikenakan terhadap banyak negara mitra dagang AS. Dengan alasan untuk melindungi industri dan pekerja di dalam negeri AS.

Kebijakan itu cukup mengguncang perdagangan dunia pada Awal April 2025. Imbasnya, barang yang masuk ke pasar domestik AS jadi lebih mahal, yang membuat rantai pasok harus disusun ulang, sedangkan negara-negara yang terdampak menyiapkan balasanan, khususnya China.

Ketidakpstian pun cukup berhenti di persoalan tarif. Perang antara AS-Israel dengan Iran yang dibuka pada akhir Ferbuari lalu, membuka persoalan yang jauh lebih besar karena dampaknya cukup mengganggu pasokan energi serta jalur perdagangan global.

Dari kedua hal tersebut saja, penderitaan sudah cukup banyak di rasakan di banyak negara di berbagai belahan dunia. Tekanan inflasi yang melanda dunia, memaksan banyak bank sentral untuk mulai mengencangkan kebijakan moneter nya, yang tentu saja mempertaruhkan pertumbuhan ekonomi.

Dengan kondisi-kondisi yang ada, CNBC Indonesia mencoba merangkum tanda-tanda yang menunjukkan bahwa ekonomi dunia kini sedang tidak baik-baik saja.

1. Perang Iran yang Tak Kunjung Usai

Ketika Amerika Serikat dan Israel mulai menggempur Iran pada 28 Februari 2026, perang diperkirakan tidak akan berlangsung lama.

AS datang dengan kekuatan militer terbesar di dunia. Serangan udara dilancarkan ke berbagai sasaran strategis, mulai dari fasilitas nuklir, lokasi penyimpanan rudal, sistem pertahanan udara, hingga pusat komando militer Iran.

Kepulan asap hitam tebal terlihat membubung dari lokasi kebakaran hebat di depot minyak Tehran Shahran di ibu kota Iran, pada hari Minggu (8/3/2026). (Tangkapan Layar Video Reuters/SOCIAL MEDIA)Kepulan asap hitam tebal terlihat membubung dari lokasi kebakaran hebat di depot minyak Tehran Shahran di ibu kota Iran, pada hari Minggu (8/3/2026). (Tangkapan Layar Video Reuters/SOCIAL MEDIA) Foto: Kepulan asap hitam tebal terlihat membubung dari lokasi kebakaran hebat di depot minyak Tehran Shahran di ibu kota Iran, pada hari Minggu (8/3/2026). (Tangkapan Layar Video Reuters/SOCIAL MEDIA)

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei bahkan tewas pada hari pertama perang. Washington dan Tel Aviv mungkin berharap serangan sebesar itu dapat membuat Teheran segera bertekuk lutut.

Harapan tersebut tidak menjadi kenyataan.

Tujuh bulan berlalu, Iran belum menyerah. Teheran juga belum bersedia menerima perdamaian berdasarkan syarat yang ditentukan Washington.

Para pelayat berkumpul di sekitar monumen berbentuk kepalan tangan yang terangkat dari mendiang pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di Lapangan Enghelab, selama prosesi pemakaman Khamenei, yang tewas pada 28 Februari dalam serangan udara Israel dan AS, di Teheran, Iran, 6 Juli 2026. (REUTERS/Murad Sezer)Para pelayat berkumpul di sekitar monumen berbentuk kepalan tangan yang terangkat dari mendiang pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di Lapangan Enghelab, selama prosesi pemakaman Khamenei, yang tewas pada 28 Februari dalam serangan udara Israel dan AS, di Teheran, Iran, 6 Juli 2026. (REUTERS/Murad Sezer) Foto: REUTERS/Murad Sezer

Washington masih dapat terus menjatuhkan bom ke wilayah Iran. Namun, Teheran telah menunjukkan bahwa perang dapat dibalas dengan memperlebar medan pertempuran dan menyerang titik-titik penting milik AS di seluruh kawasan.

Perang yang semula diperkirakan selesai dalam hitungan pekan akhirnya berlarut-larut selama berbulan-bulan. Pertempurannya tidak lagi hanya berlangsung di langit Iran, tetapi telah merambat ke pangkalan militer, fasilitas energi, dan jalur perdagangan Timur Tengah.

Di titik inilah perang Iran mulai berubah menjadi persoalan bagi seluruh dunia.

2. Tiga Jalur Minyak Terganggu Bersamaan

Peta Timur Tengah dipenuhi jalur sempit yang menentukan hidup matinya perdagangan energi dunia. Salah satu yang paling penting adalah Selat Hormuz.

Selat tersebut memisahkan Iran dengan Oman serta menghubungkan Teluk Persia dan Laut Arab. Pada titik tersempitnya, jarak antara kedua daratan hanya sekitar 33 kilometer.

Namun, perairan sempit itu dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

Lalu lintas kapal minyak di Selat Bab el-Mandeb.Lalu lintas kapal minyak di Selat Bab el-Mandeb. Foto: CNBC

Sebelum perang, aliran minyak melalui Selat Hormuz mencapai sekitar 21,6 juta barel per hari pada kuartal IV-2025. Setelah pertempuran membesar, volumenya merosot menjadi hanya 4,9 juta barel per hari pada kuartal II-2026.

Arab Saudi sebenarnya sudah lama menyiapkan jalan lain. Minyak dari kawasan timur dapat dialirkan melalui pipa East-West menuju Pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah.

Jalur sepanjang sekitar 1.200 kilometer tersebut dibangun agar Arab Saudi tidak sepenuhnya bergantung kepada Hormuz. Kapasitas normalnya mencapai 5 juta barel per hari dan dapat ditingkatkan menjadi sekitar 7 juta barel.

Ketika Hormuz sulit dilalui, pipa East-West berubah menjadi jalur penyelamat.

Namun, jalur penyelamat itu pun ikut menjadi sasaran. Serangan pesawat tanpa awak merusak sejumlah stasiun pompa dan memaksa Arab Saudi menutup sebagian operasional pipa. Perbaikannya diperkirakan membutuhkan waktu enam hingga delapan pekan.

Masalah belum selesai.

Minyak yang berhasil mencapai Yanbu masih harus melewati Laut Merah. Kapal-kapal yang menuju Asia perlu berlayar melalui Selat Bab el-Mandeb, perairan sempit yang memisahkan Yaman dengan Djibouti dan Eritrea.

Peta jaringan pipa minyak dan gas Timur TengahPeta jaringan pipa minyak dan gas Timur Tengah Foto: The Economist

Di sanalah kelompok Houthi menunggu.

Kelompok bersenjata yang bersekutu dengan Iran tersebut memperluas kekuasaannya di pesisir Yaman dan mengancam kapal-kapal milik Arab Saudi. Mereka juga mengambil posisi di Pulau Perim yang berada di mulut Bab el-Mandeb.

Tiga jalur minyak Timur Tengah akhirnya terganggu dalam waktu bersamaan. Hormuz sulit dilewati, pipa East-West rusak, sedangkan Bab el-Mandeb semakin berbahaya.

Jika satu pintu tertutup, pasokan masih dapat dialihkan melalui pintu lain. Kali ini, hampir semua pintu sedang bermasalah.

3. Harga Minyak Tembus US$100 per Barel

Pasar minyak tidak membutuhkan waktu lama untuk bereaksi.

Setiap rudal yang terbang di Timur Tengah, kapal yang diserang di Hormuz, dan kerusakan pada pipa Arab Saudi langsung menambah kekhawatiran terhadap pasokan.

Pada perdagangan Selasa (15/9/2026), kenaikan harga minyak berlanjut pada Selasa. Kontrak Brent untuk pengiriman November naik hampir 3% dan ditutup di US$108,75 per barel. Sementara itu, minyak WTI menguat lebih dari 4% menjadi US$105,83 per barel.

Angka di atas US$100 tersebut tidak hanya penting bagi pedagang minyak di London atau New York. Pergerakannya dapat sampai ke kehidupan sehari-hari miliaran orang.

Minyak menggerakkan kapal yang membawa barang antarbenua, pesawat yang mengangkut penumpang, truk yang mengirim makanan, serta mesin yang bekerja di pabrik.

Bahan bakar juga menjadi bagian dari ongkos produksi pupuk, plastik, bahan kimia, tekstil, dan berbagai barang yang digunakan setiap hari.

Ketika minyak naik, biaya-biaya tersebut ikut bergerak. Perusahaan mungkin menahannya untuk sementara, tetapi tidak selamanya. Sebagian kenaikan pada akhirnya berpindah ke harga jual dan dibayar oleh konsumen.

4. Yield Surat Utang Melonjak, Cicilan Membengkak

Gejolak tidak hanya tampak di pasar minyak. Kegelisahan serupa menjalar ke pasar surat utang.

Investor mulai menjual obligasi karena khawatir lonjakan harga energi akan kembali mengobarkan inflasi. Jika inflasi meningkat, bank sentral akan menahan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan menaikkannya kembali.

Ketika obligasi dijual, harganya turun dan imbal hasil atau yield naik.

Pada Selasa (15/9/2026), biaya pinjaman pemerintah global mencapai level tertinggi sejak krisis keuangan 2008. Yield Treasury AS tenor 10 tahun bahkan menembus 5%, mencerminkan tekanan dari melonjaknya utang global dan risiko inflasi.

Rata-rata yield obligasi tenor 10 tahun negara-negara G7 mencapai 4,285%, tertinggi sejak pertengahan 2008 dan sekitar 1 poin persentase di atas level sebelum perang Iran.

Kenaikan harga minyak di atas US$100 per barel akibat konflik yang meluas turut memperkuat tekanan inflasi. Kondisi ini mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral.

Pasar memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga pada Rabu, sementara Bank of Japan (BoJ) diperkirakan menaikkan bunga pada Jumat. ECB juga telah menaikkan suku bunga pekan lalu.

Lonjakan yield membuat biaya utang pemerintah semakin mahal dan meningkatkan beban bunga, sehingga berpotensi mempersempit ruang belanja untuk program sosial, pertahanan, dan lainnya.

"Yield 5% bukan masalah jika ekonomi tumbuh 6,5%. Namun, jika pertumbuhan hanya 5% dengan yield 5%, ceritanya bisa berbeda," kata Samy Chaar, Chief Economist Lombard Odier, kepada Reuters.

Yield Treasury 10 tahun sempat mencapai 5,041%, tertinggi sejak 2007, sebelum ditutup ke posisi 4,966%.

Kenaikan yield juga terjadi di negara lain. Yield obligasi Jepang 10 tahun menembus 3%, Jerman sekitar 3,55%, Prancis mendekati level tertinggi 18 tahun, dan Inggris mencapai 5,45%, tertinggi sejak 2007.

James Bilson, Global Fixed Income Strategist Schroders, mengatakan kenaikan yield AS saat ini belum menunjukkan meningkatnya risiko kredit pemerintah AS. Namun, kebijakan fiskal, tingginya utang, dan inflasi menjadi faktor utama yang terus membebani pasar obligasi.

Pergerakan yield mungkin terdengar seperti urusan para pedagang obligasi. Namun, akibatnya dapat masuk ke banyak bagian kehidupan.

Yield surat utang pemerintah menjadi salah satu acuan biaya pinjaman di pasar keuangan. Pengaruhnya memang berbeda pada setiap instrumen, tetapi kenaikan yield biasanya membuat pembiayaan menjadi lebih mahal.

5. Inflasi Global Terancam Kembali Menanjak

Dunia sebenarnya belum sepenuhnya sembuh dari lonjakan harga setelah pandemi Covid-19 dan perang Rusia-Ukraina.

Inflasi memang sempat melandai. Bank sentral mulai menurunkan suku bunga, sedangkan masyarakat berharap masa ketika harga dan cicilan sama-sama mahal segera berakhir.

Harapan itu kini kembali menjauh.

Salah satu tanda paling jelas datang dari Amerika Serikat. Indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI) naik 0,4% secara bulanan pada Agustus 2026, jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,1% pada Juli.

Secara tahunan, inflasi AS masih bertahan di level 3,4%. Angkanya belum banyak berubah dan masih jauh di atas sasaran inflasi The Federal Reserve sebesar 2%.

Tekanan juga terlihat pada inflasi inti yang tidak memasukkan harga pangan dan energi. Inflasi inti naik 0,3% secara bulanan, lebih tinggi dibandingkan perkiraan pasar sebesar 0,2%.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga tidak hanya berasal dari kelompok yang mudah berubah. Tekanannya mulai menetap pada berbagai barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat.

Cerita serupa terlihat di Jepang, meski negara tersebut datang dari sejarah yang berbeda.

Selama puluhan tahun, Jepang justru berjuang melawan deflasi. Harga yang sulit naik membuat masyarakat menunda belanja, perusahaan enggan menaikkan upah, dan perekonomian kehilangan tenaga.

Kini persoalannya berbalik.

Inflasi umum Jepang naik dari 1,6% pada Juni menjadi 1,9% pada Juli 2026. Inflasi inti yang tidak memasukkan harga makanan segar juga meningkat dari 1,6% menjadi 1,8%.

Angkanya memang masih berada di bawah sasaran Bank of Japan sebesar 2%. Namun, tekanan dari tingkat produsen menunjukkan keadaan dapat berubah dengan cepat.

Harga barang yang diperdagangkan antarpelaku usaha melonjak 7,6% secara tahunan pada Agustus. Dalam periode yang sama, harga barang impor dalam mata uang yen melesat 24,8%.

Jepang harus menghadapi kenaikan biaya energi dan bahan baku yang sebagian besar didatangkan dari luar negeri. Ketika harga komoditas meningkat dan yen melemah, perusahaan Jepang harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk membeli barang impor yang sama.

Biaya tersebut kemudian bergerak dari pelabuhan menuju pabrik, toko, dan akhirnya rumah tangga. Tagihan listrik meningkat, ongkos produksi bertambah, sedangkan harga makanan dan berbagai kebutuhan sehari-hari ikut terdorong naik.

6. Bank Sentral Kembali Injak Rem

Bank sentral sempat berharap dapat meninggalkan masa suku bunga tinggi. Inflasi yang kembali menguat memaksa mereka berbalik arah. Beberapa bank sentral di sepanjang semester II-2026 ini bahkan sudah menaikkan suku bunganya.

Selandia Baru dan Korea Selatan menjadi contoh dengan menaikkan bunga masing-masing 50 basis poin sejak awal semester II-2026. Islandia dan Filipina menambah 25 basis poin, sementara European Central Bank menaikkan bunga pada September dan segera diikuti Denmark.

Daftarnya pun masih sangat berpotensi bertambah.

Kemungkinan terdekat datang dari bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed). Berdasarkan CME FedWatch, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan FOMC September mencapai 93%. Bank of Japan juga diperkirakan kembali mengerek suku bunga.

Kenaikan suku bunga memang dapat menahan permintaan dan meredam inflasi. Namun, obat tersebut mempunyai efek samping.

Bunga kredit menjadi lebih mahal. Rumah tangga mengurangi belanja, perusahaan menunda ekspansi, dan pertumbuhan ekonomi kehilangan tenaga.

Bank sentral akhirnya harus berjalan di atas tali yang semakin tipis. Terlalu lambat menaikkan bunga dapat membuat inflasi semakin sulit dikendalikan. Terlalu agresif memperketat kebijakan dapat mendorong ekonomi menuju resesi. Pilihan yang tersedia sama-sama tidak nyaman.

7. Terusan Panama Terhambat

Ketika jalur perdagangan Timur Tengah terganggu oleh perang, salah satu jalur terpenting di benua Amerika sedang menghadapi musuh yang berbeda, yakni kekurangan air

Terusan sepanjang sekitar 82 kilometer tersebut menghubungkan Samudra Atlantik dan Pasifik. Setiap kali kapal melintas, air tawar dari Danau Gatun dan Alhajuela digunakan untuk mengoperasikan sistem tersebut.

Masalah muncul ketika hujan semakin jarang turun.

Curah hujan di daerah tangkapan air Terusan Panama pada Mei hingga Agustus tercatat sekitar 34% di bawah rata-rata. Aliran air menuju danau penyangga juga berkurang sekitar 44%.

Otoritas Terusan Panama akhirnya mulai mengurangi lalu lintas kapal. Batas pelayaran dipangkas dari 36 menjadi 34 kapal per hari pada 4 September. Mulai 15 September, jumlahnya kembali diturunkan menjadi 32 kapal.

Bahkan, mulai Oktober, jumlah kapal yang diperbolehkan melintas direncanakan turun menjadi sekitar 29,5 per hari.

Terusan Panama sendiri dilalui sekitar 5% perdagangan dunia dan sekitar 40% lalu lintas peti kemas AS.

Pemandangan umum menunjukkan kapal kontainer kargo melintasi Agua Clara Locks di Terusan Panama, di pinggiran Kota Panama, Panama, 11 April 2024. (REUTERS/Aris Martinez/Foto File)Pemandangan umum menunjukkan kapal kontainer kargo melintasi Agua Clara Locks di Terusan Panama, di pinggiran Kota Panama, Panama, 11 April 2024.

Ketika jumlah kapal dikurangi, antrean memanjang. Barang tiba lebih lambat dan biaya pengiriman meningkat. Sebagian kapal harus mengurangi muatan agar dapat melewati terusan dengan kedalaman air yang lebih rendah.

Pilihan lainnya adalah memutar melewati ujung selatan Amerika atau menggunakan jalur lain yang lebih jauh.

Perjalanan tambahan membutuhkan lebih banyak bahan bakar sehingga menjadi pilihan yang semakin mahal.

8. El Nino Mengancam Meja Makan

Kekeringan di Panama hanyalah salah satu wajah El Nino yang sedang tumbuh di Samudra Pasifik.

Fenomena itu mengubah pola hujan dunia. Sebagian wilayah menghadapi kekeringan, sementara wilayah lain menerima hujan berlebihan, badai, dan banjir.

World Meteorological Organization memperkirakan El Nino terus menguat hingga akhir 2026. Peluangnya bertahan sampai awal 2027 mendekati 100%, dengan intensitas yang diperkirakan sangat kuat.

Ancaman terbesarnya ada di pertanian. Kekeringan akan mengurangi hasil panen, sedangkan banjir akan merusak tanaman dan menghambat distribusi barang.

Gangguan di satu negara dapat menjalar jauh melewati perbatasannya. Produksi yang berkurang mendorong harga naik, negara pengekspor dapat membatasi penjualan, dan pembeli berebut pasokan yang tersisa.

Petani juga sudah menghadapi harga pupuk, bahan bakar, dan transportasi yang lebih mahal akibat perang. Biaya menanam meningkat, sementara hasil panen terancam menyusut.

El Niño akhirnya tidak hanya menjadi cerita mengenai suhu laut. Dampaknya akan terasa di meja makan melalui harga beras, gula, jagung, dan minyak goreng.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |