Alasan Tidak Ikut Tren Viral AI di Media Sosial, Bawa Petaka Besar

3 hours ago 1
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Media sosial belakangan ini kerap diguyur tren foto hasil teknologi kecerdasan buatan (AI). Terbaru, banyak netizen membagikan foto diri bernuansa era 1980-an hasil olahan AI. Sebelumnya juga ada tren foto ala kartun Ghibli, hingga foto polaroid bareng artis atau teman/keluarga yang sudah meninggal. 

Membuat foto-foto AI ini memang mudah. Pengguna cukup mengunggah potret diri lalu memasukkan perintah (prompt) ke ChatGPT, sesuai dengan tren yang lagi marak di media sosial.

Namun, di balik proses yang terlihat instan dan magis tersebut, ada tuntutan sumber daya yang tidak bisa dianggap sepele. Setiap kali pengguna mengetuk perintah untuk menghasilkan satu gambar, proses komputasi sesungguhnya berlangsung di dalam gedung pusat data (data center) raksasa yang dibanjiri server dan mengonsumsi pasokan listrik dalam jumlah besar.

Tak hanya listrik, data center tersebut juga membutuhkan sistem pendingin, air, serta rangkaian perangkat keras agar mesin tidak kepanasan. Alhasil, di balik setiap gambar estetik yang tersaji di layar ponsel, tersimpan jejak fisik dan lingkungan berupa emisi karbon serta ancaman terhadap pemanasan global yang membawa 'petaka' bagi kelangsungan Bumi.

Bikin Foto AI Butuh Energi Besar

Mengutip laporan FirstPost, seluruh proses pembentukan gambar tidak terjadi di dalam perangkat pengguna, melainkan dilempar ke server data center.

Di sana, prosesor khusus bekerja menerjemahkan prompt, meracik piksel, hingga melahirkan visual baru. Makin rumit perintah yang diberikan, makin berat pula tenaga komputasi yang tersedot.

Berdasarkan studi kolaborasi Carnegie Mellon University dan Hugging Face, besaran konsumsi energi untuk melahirkan satu gambar AI sangat fluktuatif, bergantung pada arsitektur model yang digunakan. Kendati demikian, tidak ada satu angka pasti yang bisa dipukul rata untuk setiap gambar.

Masalahnya kian membesar ketika aktivitas ini dilakukan secara masif. Satu pengguna kerap kali tidak hanya menghasilkan satu foto. Tren viral justru memicu kebiasaan mencoba berbagai prompt, merombak gaya, menaikkan resolusi, hingga mengulang proses berkali-kali demi mendapat hasil yang sempurna.

Jika kebiasaan ini dilakukan oleh jutaan orang secara serentak, akumulasi daya yang tersedot akan membengkak. Terlebih, fungsi generative AI kini tidak sebatas menciptakan foto, melainkan merambah ilustrasi, animasi, video, hingga simulasi digital berkerapatan data tinggi.

Bukan Cuma Listrik, AI 'Haus' Air

Selain listrik, operasional AI menyimpan konsumsi tersembunyi lain yang jarang disadari publik, yakni air. Server di dalam pusat data memancarkan panas ekstrem saat bekerja, sehingga membutuhkan sistem pendingin agar perangkat tidak mengalami overheating. Air menjadi komponen vital dalam mekanisme pendinginan tersebut.

Riset dari University of California (UC), Riverside, menyoroti bahwa jejak penggunaan air (water footprint) pada sistem AI merupakan isu lingkungan yang krusial. Meski demikian, besarnya konsumsi air sangat bergantung pada letak geografis pusat data, jenis teknologi pendingin yang dipakai, hingga sumber energi yang menyokongnya.

Dampak lingkungan ini pun memiliki rantai yang sangat panjang. Sebelum sebuah prompt menjelma menjadi foto di layar Anda, terdapat siklus ekstraksi bahan baku, produksi semikonduktor, pembangunan gedung server, rantai logistik, hingga pengelolaan limbah elektronik setelah masa pakai perangkat habis.

Artinya, istilah cloud computing atau "komputasi awan" sama sekali tidak terjadi di langit yang kosong; ia berpijak pada gedung-gedung beton berisi ribuan mesin yang terus mengepulkan panas.

Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan konsumsi listrik pusat data secara global akan melonjak tajam hingga 2030, dengan teknologi AI sebagai motor utama pembengkakan kebutuhan komputasi tersebut.

Siapa yang Harus Bertanggung Jawab?

Lantas, apakah pengguna harus berhenti bermain-main dengan fitur pembuat gambar AI? Jawabannya tentu tidak hitam-putih. Menghasilkan satu atau dua foto tentu bukan faktor utama penyebab kerusakan bumi.

Tekanan terbesar justru lahir dari akumulasi penggunaan berskala raksasa serta bagaimana industri teknologi mengelola efisiensi sumber dayanya. Beban ini menuntut perusahaan teknologi untuk merancang algoritma yang lebih ramah energi, chip yang hemat daya, hingga data center yang ditenagai energi rendah karbon dan sistem daur ulang air.

Pada akhirnya, menjaga kelestarian lingkungan dari gempuran era AI bukan sekadar urusan membatasi kreativitas pengguna di media sosial, tetapi menagih komitmen para raksasa teknologi untuk berinovasi secara berkelanjutan.

Namun, ada baiknya untuk mengetahui dampak yang akan dihasilkan dari tindakan sehari-hari kita ketika memutuskan melakukan sesuatu, contohnya ketika memutuskan mengikuti tren viral di media sosial. Semoga informasi ini mencerahkan!

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |