Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
20 September 2026 17:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan dan pemerintah semakin menyadari bahwa masa depan peperangan tidak hanya berada di langit, tetapi juga terjadi di dasar laut.
Baik negara maupun perusahaan, sama-sama mencurahkan perhatian serta sejumlah besar uang untuk teknologi baru yang dirancang untuk penggunaan di bawah air, seiring meningkatnya kekhawatiran tentang kerentanan infrastruktur penting seperti kabel konektivitas dan pipa energi yang melintasi dasar laut.
Hal ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang apa yang disebut perang hibrida, sebuah istilah luas yang dapat mencakup serangan siber, sabotase energi, disinformasi, dan tekanan ekonomi, dengan atau tanpa disertai metode militer konvensional.
"Perubahan lingkungan ancamanlah yang membuat hal ini menjadi sorotan," kata Katja Bego, peneliti senior di Chatham House, dikutip dari CNBC International, Minggu (20/9/2026).
Pada saat yang sama, kemajuan pesat dalam kecerdasan buatan, drone, dan teknologi otonom memungkinkan pendekatan baru untuk pengawasan bawah air.
Mulai dari kendaraan bawah laut otonom hingga sensor yang terpasang pada kabel bawah laut, pemerintah dan aliansi militer sedang menjajaki cara-cara untuk memantau infrastruktur yang menopang perekonomian global dengan lebih baik.
"Seluruh perekonomian kita dibangun di atas ini," lanjutnya.
Pada September 2022, beberapa bulan setelah Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina, ledakan merusak pipa gas Nord Stream di bawah Laut Baltik. Para penyelidik menetapkan bahwa pipa-pipa tersebut, yang dibangun untuk mengalirkan gas alam dari Rusia ke Jerman, telah disabotase secara sengaja.
Insiden tersebut, bersamaan dengan kerusakan infrastruktur bawah laut di bagian lain dunia seperti Arktik dan dekat Taiwan, telah memfokuskan perhatian pemerintah pada kerentanan yang kurang mendapat perhatian dalam beberapa dekade setelah Perang Dingin.
"Hal ini telah diabaikan cukup lama, jadi ada banyak hal yang perlu dikejar," terangnya.
Menurut TeleGeography, sebuah perusahaan riset telekomunikasi yang melacak jaringan kabel bawah laut global, lebih dari 1,5 juta km kabel komunikasi bawah laut telah beroperasi secara global pada awal 2026.
Bersamaan dengan kabel telekomunikasi dan pipa minyak dan gas, jaringan kabel listrik bawah laut yang terus berkembang juga menghubungkan pasar listrik dan mengalirkan listrik dari ladang angin lepas pantai ke daratan.
Sementara itu, penggunaan luas drone udara selama perang antara Ukraina dan Rusia telah menunjukkan bagaimana sistem otonom yang dioperasikan dari jarak jauh dapat mengubah sifat peperangan. Bego menggambarkan lingkungan maritim sebagai "ranah logis berikutnya."
Perusahaan-perusahaan pertahanan kini memposisikan diri untuk menghadapi perubahan tersebut.
Perusahaan pembuat kapal Italia, Fincantieri pada Juli lalu mengumumkan rencana untuk mengakuisisi saham mayoritas di empat perusahaan senilai sekitar 600 juta euro (US$ 689 juta, Rp , asumsi kurs Rp /US$) untuk memperluas kemampuan di bidang drone bawah air dan permukaan, survei kelautan, dan komunikasi bawah laut.
Perusahaan ini memanfaatkan lebih dari satu abad keahlian kapal selam untuk beralih dari apa yang disebut oleh CEO Pierroberto Folgiero sebagai dunia "bawah air konvensional" ke dunia "non-konvensional" yang mencakup kapal selam yang lebih kecil, drone, dan telekomunikasi bawah air.
Folgiero menggambarkan telekomunikasi bawah air sebagai "penggerak utama ekosistem baru ini." Pihaknya pun membayangkan kapal permukaan di masa depan akan bertindak sebagai "kapal induk," mengoordinasikan jaringan kendaraan yang beroperasi di atas dasar laut dan di seluruh kolom air.
Fincantieri tidak sendirian. Grup pertahanan besar, termasuk Thales dari Prancis, telah membangun bisnis yang mencakup sonar, peperangan anti-kapal selam, deteksi ranjau, dan sistem bawah air otonom, karena perusahaan besar dan kecil sama-sama berupaya berperan dalam pasar yang sedang berkembang untuk beroperasi di bawah permukaan laut.
Drone bawah air
Perusahaan teknologi pertahanan yang berbasis di Jerman, yakni Euroatlas mulai membidik bisnis yang berpotensi menguntungkan, yaitu pertahanan dasar laut.
Menurut Verineia Codrean, kepala strategi dan kemitraan perusahaan, pihaknya telah mengembangkan kendaraan bawah air otonom bernama GrayShark yang dapat melakukan perjalanan ke area yang ditentukan dan menjalankan misi tanpa kendali manusia terus-menerus.
Robot ini dirancang untuk menghindari rintangan dan mengikuti instruksi yang telah ditentukan ketika menemui sesuatu yang tidak terduga. Misalnya, saat memeriksa pipa, robot ini dapat mengidentifikasi objek mirip ranjau, melaporkan penemuan tersebut, dan menunggu operator untuk memutuskan apakah perlu dilakukan penyelidikan lebih lanjut.
Alih-alih menjaga setiap mil kabel dengan kapal perang, Codrean membayangkan masa depan dengan armada kendaraan otonom yang terus-menerus berpatroli di area strategis dasar laut dan berkumpul ketika salah satu mendeteksi sesuatu yang tidak biasa.
"Hampir mustahil untuk meliput seluruh lautan. Anda hanya perlu mengetahui area mana yang lebih menarik untuk memiliki visibilitas konstan tentang apa yang terjadi di sana," kata Codrean.
Dia berpendapat bahwa ini pada dasarnya adalah masalah skala, karena fregat, kapal selam, dan pesawat patroli maritim terlalu mahal dan langka untuk mempertahankan kehadiran terus-menerus di wilayah luas tempat kabel, pipa, dan aset strategis lainnya berada.
"Domain ruang bawah laut kini menghadapi serangkaian masalah yang lebih besar yang sebelumnya tidak ada, dari perspektif matematika, [aset berawak] tidak dapat berada di mana-mana dan di setiap tempat di mana masalah-masalah ini muncul, baik itu sabotase atau pergerakan dari kapal selam musuh," terang Codrean.
Mesin melawan mesin
Kendaraan otonom tidak hanya dikembangkan untuk mengawasi infrastruktur. Di samping peperangan anti-kapal selam di mana kapal selam menargetkan kapal selam berawak lainnya, Codrean menunjuk pada munculnya apa yang disebut misi anti-kendaraan bawah air otonom (AUV), yang bertujuan untuk mendeteksi, melacak, dan mengidentifikasi kendaraan bawah air otonom dan tanpa awak yang dioperasikan oleh negara lain.
"Apa yang kita bangun, itu juga dibangun oleh pihak yang bukan sekutu atau musuh kita," ujarnya.
"Karena negara lain juga sedang membangun kendaraan bawah air otonom, Anda perlu dapat mengklasifikasikan mana yang berasal dari negara-negara yang bersahabat dengan NATO atau sekutu, dan mana yang bukan dari negara-negara yang bersahabat," tambah Codrean.
Hal itu meningkatkan kemungkinan lebih banyak aktivitas mesin-ke-mesin di bawah permukaan.
Namun Codrean tidak mengharapkan kendaraan otonom untuk menggantikan kapal selam dan kapal perang konvensional.
"Saya tidak akan sampai mengatakan hanya drone melawan drone, tetapi yang pasti akan ada peningkatan aktivitas yang jauh lebih besar dari drone melawan drone sampai Anda membutuhkan aset berawak untuk turun tangan juga," ungkap Codrean.
Sebaliknya, ia memperkirakan angkatan laut akan semakin menggabungkan sistem berawak dan otonom, sehingga interoperabilitas di antara keduanya menjadi semakin penting.
Euroatlas juga sedang mengembangkan versi GrayShark yang menggunakan sel bahan bakar hidrogen, yang dirancang untuk bertahan hingga 16 minggu di bawah air atau 8.000 mil laut, meskipun perusahaan tersebut belum mendemonstrasikan daya tahan tersebut di bawah air.
Euroatlas mengatakan telah menandatangani kontrak GrayShark senilai lebih dari 100 juta euro dengan angkatan laut Eropa yang tidak disebutkan namanya.
Mengejar ketertinggalan
Terlepas dari semua investasi dan kemajuan teknologi, masalah mendasar tetap ada dan tidak ada yang secara realistis dapat melindungi setiap mil infrastruktur di dasar laut.
"Saya rasa tidak ada seorang pun, yang mendengarkan orang-orang NATO, akan berpura-pura bahwa [kita] dapat melindungi jaringan sepanjang lebih dari satu juta kilometer," ucap Bego.
Tanggung jawab untuk melindungi infrastruktur tersebut juga menjadi kabur. Sebagian besar infrastruktur bawah laut di dunia dimiliki atau dioperasikan oleh perusahaan swasta, yang secara tradisional menangani pemeliharaan rutin dan kerusakan akibat kecelakaan.
Namun, melindungi infrastruktur tersebut dari gangguan yang disengaja atau bahkan skenario perang terbuka semakin melibatkan pemerintah dan militer.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(chd/chd)

4 hours ago
4
















































