Anak Gaza Kembali ke Sekolah, 541.000 Siswa Belajar di Tenda dan Puing

37 minutes ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Ratusan ribu anak di Gaza kembali ke sekolah setelah hampir tiga tahun pendidikan mereka terganggu perang. Namun, sebagian besar harus belajar di tenda dengan fasilitas terbatas, tanpa meja dan kursi, sementara ancaman kekerasan masih membayangi.

Pada Sabtu pagi, Rana Totah, 30, menggandeng kedua putranya menuju sekolah sementara di Al-Katiba, Gaza City. Bagi Totah, momen itu bukan sekadar hari pertama tahun ajaran, melainkan kembalinya rutinitas keluarga yang lama terputus akibat perang sejak Oktober 2023.

"Jujur, hari ini adalah hari yang indah bagiku. Bahkan terasa seperti Idul Fitri," kata Totah kepada Al Jazeera, dikutip Minggu (20/9/2026). Ia mengaku menyiapkan anak-anaknya seperti menghadapi hari sekolah normal, termasuk memastikan mereka tidur lebih awal karena sangat antusias kembali belajar.

Selama mengungsi, Totah berusaha menjaga pendidikan keempat anaknya melalui pembelajaran informal yang digerakkan sukarelawan. Namun, kebutuhan bertahan hidup kerap membuat pendidikan tersisih.

"Pendidikan adalah dasar dari segalanya dalam hidup," ujarnya.

Sekitar 541.000 siswa kembali mengikuti pendidikan di Gaza ketika tahun ajaran baru dimulai 19 September, menurut Kementerian Pendidikan dan Pendidikan Tinggi Palestina.

Namun, UNICEF menyebut hampir 98% bangunan sekolah di Gaza rusak sejak Oktober 2023, sementara sekitar 700.000 anak berusia 4-17 tahun telah kehilangan pendidikan tatap muka formal selama hampir tiga tahun.

Di salah satu tenda, guru matematika Nesma Nahid Abu Asim mengajar siswa kelas enam yang duduk di atas kasur dengan buku di pangkuan.

"Pendidikan adalah hak bagi setiap siswa," katanya, seraya menjelaskan bahwa banyak siswa datang tanpa alat tulis, buku pelajaran, meja maupun kursi.

Bagi sejumlah siswa, kondisi tersebut tetap lebih baik daripada kehilangan kesempatan belajar sepenuhnya. Osama Alayleh, 11 tahun, mengaku senang kembali ke sekolah meski harus belajar di tenda.

"Yang penting adalah kita belajar. Aku senang dengan tahun ajaran ini. Saya harap ini berlanjut tanpa masalah," katanya.

Di Sekolah Ahbab Shujayea, lebih dari 300 siswa bahkan belajar tanpa meja dan kursi dengan menggunakan potongan kardus untuk menulis.

Direktur sekolah Inaam al-Batreekhi mengatakan, "Kita bisa belajar hari ini, kita bisa duduk di tanah hari ini. Tapi besok, ketika hujan datang, kita tidak akan bisa melakukannya."

Untuk sementara, sekolah-sekolah darurat menjadi pilihan bagi anak-anak Gaza untuk kembali belajar. Para guru berharap ruang belajar tersebut segera digantikan sekolah yang lebih aman dan permanen, dengan fasilitas dasar yang layak bagi siswa yang telah kehilangan hampir tiga tahun masa pendidikan mereka.

(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |