Dukung Pemulihan di Sumatra dan Aceh, PTPP Lakukan Sejumlah Aksi Nyata

17 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - PT PP (Persero) Tbk berkomitmen dalam mendukung penanganan darurat dan pemulihan infrastruktur pascabencana hidrometeorologi yang melanda Provinsi Aceh dan Sumatra Utara. Berbagai upaya pun telah dilakukan PTPP mulai dari pemberian bantuan bahan pokok, makanan, air bersih, pembukaan akses jalan, pembersihan, perbaikan fasum, dan pembuatan huntara (hunian sementara). Hal tersebut sejalan dengan langkah pemerintah yang terus berkomunikasi dengan BP BUMN untuk mendorong percepatan pemulihan di wilayah Sumatra dan Aceh.

Dalam aksinya, PTPP memfokuskan seluruh upaya pada satu prinsip utama yakni menjaga keselamatan warga serta memulihkan akses vital masyarakat secepat dan seaman mungkin.

Salah satunya dengan berkolaborasi dengan Danantara dan BP BUMN dalam membangun hunian sementara tanggap darurat pascabencana banjir di Kabupaten Aceh Tamiang. Dalam kolaborasi ini, PTPP melaksanakan pembangunan hunian secara cepat, terukur, dan sesuai standar keselamatan konstruksi.

Aksi itu sesuai dengan arahan Pemerintah, setelah diadakannya pertemuan yang dilakukan oleh Sekretaris Kabinet dengan beberapa menteri dan direktur utama BUMN terkait pembangunan hunian korban bencana Sumatra. Rapat itu dihadiri Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait, dan Kepala Badan Pengaturan BUMN Dony Oskaria.

Adapun hunian ini disiapkan sebagai tempat tinggal sementara bagi warga terdampak agar dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih tertata selama masa transisi pemulihan.

Secara keseluruhan, Danantara menargetkan sebanyak 15.000 unit hunian sementara di wilayah terdampak dalam tiga bulan ke depan, di mana PTPP terlibat dalam pembangunan sebanyak 600 unit hunian sementara di Aceh Tamiang dan 600 unit di Aceh Utara.

Sebanyak unit hunian sistem panggung dibangun lengkap dengan fasilitas pendukung, meliputi MCK, tandon air, mushola, tempat wudhu dan cuci, jalan pedestrian, drainase, serta sistem MEP kawasan. Seluruh fasilitas dirancang agar kawasan hunian dapat langsung digunakan dan memenuhi kebutuhan dasar penghuninya.

Di Aceh Tamiang, PTPP menggarap sebanyak 94 hunian sementara dimana sebanyak 30 unit hunian telah selesai dan 64 unit lainnya ditargetkan rampung secara bertahap pada 8 Januari 2026. Proses pembangunan dilakukan secara cepat dan terukur sebagai bentuk kolaborasi Danantara bersama BP BUMN dalam merespons kebutuhan mendesak masyarakat terdampak bencana.

Corporate Secretary PTPP, Joko Raharjo, mengungkapkan bahwa penyediaan hunian sementara merupakan bagian penting dari strategi pemulihan pascabencana yang berkelanjutan.

"Pemulihan tidak berhenti pada perbaikan akses dan infrastruktur. Warga juga membutuhkan tempat tinggal yang aman agar bisa kembali menata aktivitas sehari hari. Melalui kolaborasi yang diinisiasi Danantara, PTPP mendukung penyediaan hunian sementara ini sebagai ruang transisi sebelum pemulihan jangka menengah dan panjang berjalan," ujar Joko dikutip Kamis (8/1/2026).

Upaya lain yang dilakukan PTPP adalah melanjutkan penanganan tanggap darurat pada ruas jalan Bireuen-Takengon sepanjang 103 kilometer serta perbaikan akses terputus akibat rusaknya Jembatan Teupin Mane serta sejumlah jembatan lain, di antaranya Jembatan Enang-Enang, Weihni Rongka, Weihni Rongka II, Jamur Ujung, dan Alue Kulus. S. Langkah ini merupakan kolaborasi dengan Kementerian PU dan merupakan kelanjutan dari upaya PTPP dalam membuka kembali akses terdampak, menjaga kelancaran distribusi logistik, serta memulihkan konektivitas antarwilayah yang terdampak bencana.

PTPP mengerahkan lebih dari 46 personel lapangan yang didukung berbagai alat berat, antara lain excavator, bulldozer, crane 60 ton, dump truck, hingga chainsaw. Seluruh sumber daya ini dikerahkan ke titik-titik paling terdampak di kedua provinsi untuk memastikan pekerjaan penanganan dapat berjalan secara paralel dan efektif.

Pembangunan jembatan-jembatan yang telah digarap dan diselesaikan oleh PTPP juga merupakan bagian dari jalur darat penting yang menghubungkan Medan (Sumatra Utara) dan Banda Aceh (Aceh) melalui Bireuen. Sementara itu, pada ruas utama Aceh Tamiang-Medan, dua titik longsor dengan total panjang sekitar 405 meter telah ditangani melalui penggalian, pembersihan material longsor, serta pembentukan jalur sementara.

"Kami menyadari bahwa jalan dan jembatan bukan sekadar infrastruktur fisik. Ia adalah akses masyarakat untuk kembali ke rumah, bekerja, bersekolah, dan mendapatkan bantuan. Karena itu, dalam setiap tahapan penanganan, kami mengutamakan keselamatan, keberfungsian akses, dan percepatan pemulihan," jelas Joko.

(rah/rah)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |