Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah aliansi militer antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) di Yaman mengalami keretakan hebat. Situasi memburuk setelah pemimpin kelompok separatis Southern Transitional Council (STC), Aidarous al-Zubaidi, gagal menghadiri pertemuan krisis di Riyadh pada Rabu (7/1/2026) waktu setempat, memicu kekosongan kepemimpinan dan ancaman eskalasi militer baru.
Krisis ini menandai perselisihan terbuka antara dua kekuatan ekonomi terbesar di Teluk. Selama ini, Arab Saudi mendukung pemerintah resmi Yaman yang diakui secara internasional, sementara UEA mendukung kelompok STC.
Perpecahan ini mengancam upaya koalisi dalam melawan kelompok Houthi yang didukung Iran. Perselisihan memuncak setelah pasukan STC secara mendadak merebut sebagian besar wilayah di selatan Yaman bulan lalu, sebuah langkah yang dipandang Riyadh sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasionalnya.
Ketegangan mencapai titik didih ketika Dewan Kepresidenan Yaman yang didukung Saudi secara resmi memecat Zubaidi dan menuduhnya melakukan pengkhianatan tingkat tinggi. Zubaidi dituding menghasut pemberontakan bersenjata dan melakukan pelanggaran terhadap warga sipil.
Pejabat senior STC, Amr Al Beidh, mengungkapkan pernyataan mengejutkan bahwa Arab Saudi sempat mengancam akan membom kota pelabuhan Aden jika Zubaidi tidak hadir dalam pembicaraan di Riyadh.
"Zubaidi tidak berangkat ke Riyadh karena tidak ingin meninggalkan kekosongan keamanan di Aden," ujar Beidh, sambil menegaskan bahwa Aden masih berada di bawah kendali kelompoknya, dilansir Reuters.
Situasi di lapangan kini semakin mencekam seiring dengan dilaporkannya pergerakan militer yang masif dari kedua belah pihak. Koalisi pimpinan Arab Saudi mengonfirmasi telah meluncurkan sedikitnya 15 serangan udara "pre-emptive" di provinsi al-Dhalea, yang merupakan tanah kelahiran Zubaidi, setelah memantau adanya pergerakan pasukan bersenjata yang keluar dari kamp-kamp militer mereka.
Bersamaan dengan serangan udara tersebut, televisi pemerintah Saudi melaporkan bahwa pasukan pemerintah Yaman yang didukung Riyadh kini mulai bergerak maju mendekati kota Aden untuk merebut kembali kendali.
Sebagai respons atas eskalasi keamanan yang terus meningkat, otoritas keamanan di Aden segera mengambil langkah drastis dengan memberlakukan jam malam total di seluruh distrik. Berdasarkan laporan kantor berita resmi SABA, jam malam tersebut berlaku mulai pukul 21.00 hingga 06.00 waktu setempat guna meredam potensi konflik horizontal dan mengamankan objek vital di kota pelabuhan tersebut.
Langkah ini diambil setelah juru bicara koalisi, Turki al-Maliki, mengindikasikan adanya mobilisasi kekuatan besar oleh pihak STC yang dianggap dapat mengancam stabilitas kawasan secara keseluruhan.
Krisis ini menyoroti kebijakan luar negeri UEA yang semakin asertif dalam memperluas pengaruhnya di Timur Tengah dan Afrika. Strategi UEA yang sering menggunakan aliansi dengan kelompok proksi untuk melawan pengaruh Islam politik kini berbenturan langsung dengan kepentingan strategis Arab Saudi di perbatasannya.
Padahal, satu dekade lalu, kedua negara ini bersatu untuk mengusir kelompok Houthi dari ibu kota Sanaa. Kini, dengan dikeluarkannya Zubaidi dari dewan pemerintahan dan penunjukan gubernur Aden yang baru, harapan untuk resolusi damai dalam waktu dekat tampak semakin memudar.
(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]

22 hours ago
5
















































