Review Sepekan
Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
24 January 2026 10:45
Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah terpantau bergairah sepanjang pekan ini, di tengah lesunya dolar Amerika Serikat (AS) karena ketegangan geopolitik di Negara Barat.
Melansir Refinitiv, pada Jumat (23/1/2026), rupiah ditutup menguat 0,41% ke posisi Rp16.810/US$. Posisi ini menjadi penutupan terkuat rupiah sejak 9 Januari 2026 atau dalam dua pekan terakhir.
Sedangkan sepanjang pekan ini, rupiah cukup perkasa hingga menguat 0,41% secara point-to-point.
Di Asia, hampir seluruh mata uang menguat terhadap dolar AS sepanjang pekan ini. Hanya satu mata uang Asia yang melemah yakni rupee India, dengan pelemahannya mencapai 1,07%.
Adapun won Korea Selatan menjadi yang paling kencang penguatannya yakni melesat 1,85%, disusul yen Jepang yang melonjak 1,51%.
Perkasanya mata uang Asia, termasuk rupiah terjadi di tengah lesunya dolar AS sepanjang pekan ini. Indeks dolar AS (DXY), indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia ini terpantau anjlok 0,92% ke posisi 97,45. Dalam sepekan terakhir, dolar AS sudah ambruk 1,95%.
Perkasanya rupiah dan mata uang Asia terjadi karena didorong oleh ketegangan geopolitik yang masih berlangsung, dolar AS yang lebih lemah, dan ekspektasi penurunan suku bunga bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed).
Presiden AS Donald Trump mengatakan ia telah mengamankan akses total dan permanen AS ke Greenland dalam kesepakatan dengan NATO, di mana kepala NATO mengatakan sekutu harus meningkatkan komitmen mereka terhadap keamanan Arktik untuk menangkal ancaman dari Rusia dan China.
Namun, detail kesepakatan tersebut masih belum jelas dan Denmark bersikeras bahwa kedaulatannya atas pulau itu tidak dapat didiskusikan.
Di sisi lain, pasar mengantisipasi The Fed akan menerapkan dua pemotongan suku bunga seperempat poin persentase pada paruh kedua tahun ini, meningkatkan daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Dari dalam negeri, perhatian pasar juga mengarah pada upaya menjaga stabilitas rupiah setelah kurs sempat mendekati level psikologis Rp17.000/US$ dalam beberapa waktu terakhir.
Direktur Program dan Kebijakan Prasasti Center for Policy Studies, Piter Abdullah, menilai stabilisasi nilai tukar bukan hanya soal intervensi di pasar, tetapi juga bagaimana Bank Indonesia mengelola ekspektasi investor.
"Dolar itu seperti komoditas. Kalau barangnya banyak harganya murah, kalau barangnya sedikit harganya mahal. Ketika suplai dolar rendah, harganya otomatis meningkat. Dampaknya, rupiah otomatis terdepresiasi," ujar Piter dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (24/1/2026).
Piter menambahkan, pergerakan rupiah sangat dipengaruhi oleh ketersediaan dolar di pasar. Karena itu, ketika BI melakukan intervensi untuk meredam volatilitas, cadangan devisa berpotensi ikut tergerus seiring kebutuhan pasokan valas untuk menjaga kurs tetap stabil.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(chd/chd)

5 hours ago
5

















































