Didesak, Pemilik Instagram-WhatsApp Mengaku Tak Punya Gelar Sarjana

2 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Meta, perusahaan pemilik Instagram, Facebook, dan WhatsApp, sedang menghadapi gugatan di pengadilan. CEO Meta Mark Zuckerberg dipaksa untuk hadir sebagai saksi dalam sidang gugatan yang fokus pada dampak merusak media sosial tersebut.

Persidangan yang telah berlangsung sejak akhir Januari melibatkan seorang perempuan yang mengaku kecanduan media sosial dan aplikasi video streaming seperti Instagram dan YouTube.

Kasus di Los Angeles adalah salah satu dari rentetan gugatan yang harus dihadapi Meta. Pengamat menyebut gelombang gugatan ini menempatkan perusahaan media sosial seperti perusahaan rokok, yang harus menghadapi tuduhan bahwa mereka mengedarkan produk berbahaya untuk kesehatan dan telah menipu publik.

Salah satu fokus sidang adalah fitur filter kecantikan yang dinilai mempromosikan bedah kosmetik, termasuk kepada remaja dan anak. Pengacara penggugat Mark Lanier bertanya kepada Zuckerberg soal sebuah studi dari University of Chicago. Dalam studi tersebut, 18 ahli menyatakan beauty filter berdampak negatif terhadap remaja perempuan.

Zuckerberg  mengaku telah melihat laporan tersebut dan kemudian berdiskusi dengan timnya. Pada akhirnya, mereka menilai fitur tersebut adalah bagian dari "kebebasan berekspresi."

"Saya sesungguhnya ingin agar, ada di pihak yang memberikan cara untuk mengekspresikan dirinya," katanya.

Lanier kemudian bertanya soal respons dari salah satu petinggi Facebook yang bernama Margaret Stewart soal keputusan untuk mengembalikan fitur beauty filter yang sempat dihentikan sementara.

Dalam emailnya, Stewart menyatakan tidak yakin keputusan untuk mengembalikan fitur adalah "langkah yang tepat dibandingkan dengan risikonya" walaupun dia mengakui bias karena menghadapi langsung dampak negatif dari beauty filter dalam kehidupan pribadinya.

Zuckerberg mengakui bahwa tidak semua keputusan perusahaan disetujui juga oleh karyawan Meta. Namun, ia merasa bahwa tidak cukup bukti sebab-akibat yang mendukung pendapat ahli eksternal tentang dampak merugikan.

Lanier kemudian bertanya kepada Zuckerberg apakah ia punya gelar pendidikan yang membuatnya bisa memutuskan bahwa tidak ada bukti tersebut.

"Saya tidak punya gelar sarjana dalam bidang apapun. Saya paham bahwa yang tidak memahami konsep sebab-akibat secara hukum, tetapi saya rasa saya cukup bisa memahami statistik," kata Zuckerberg.

(dem/dem)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |