Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Samudra (Unsam) saat melaksanakan program live in selama 20 hari dimulai 2 Februari hingga 21 Februari 2026 di Desa Johar, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, dalam rangka memperkuat ketahanan pertanian pascabanjir bandang, Selasa (17/02/2026). Waspada.id/ist
Ukuran Font
Kecil Besar
14px
TAMIANG (Waspada.id): Sebanyak 51 mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Samudra (Unsam) melaksanakan program live in selama 20 hari dimulai 2 Februari hingga 21 Februari 2026 di Desa Johar, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, dalam rangka memperkuat ketahanan pertanian pascabanjir bandang, Selasa (17/02/2026).
Ketua tim dosen, Boy Riza Juanda, S.P., M.P menjelaskan, program ini bertajuk Penguatan Ketahanan Pertanian Pascabencana Banjir Bandang melalui Program Mahasiswa Berdampak Berbasis Pemberdayaan Kelompok Tani ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2026, serta didukung Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Samudra.

Lanjutnya, kegiatan difokuskan pada penguatan ketahanan pertanian pascabencana melalui peningkatan kapasitas produksi peternakan rakyat, optimalisasi pemanfaatan tanaman pekarangan, serta pemulihan akses layanan dasar pendukung usaha tani.
“Bidang fokus kegiatan diarahkan pada pemulihan sistem produksi secara menyeluruh. Tidak hanya aspek budidaya, tetapi juga dukungan infrastruktur dasar seperti ketersediaan air bersih, sanitasi sederhana, dan perbaikan jalan usaha tani yang sangat menentukan kelancaran distribusi hasil,” ujarnya.
Pendampingan dilaksanakan pada dua kelompok tani terdampak, yakni Poktan Remaja Tani dan Poktan Berkah Jaya Tani. Mahasiswa melakukan identifikasi kerusakan lahan, analisis kondisi tanah pascabanjir, serta pendampingan teknis budidaya tanaman dan penguatan manajemen peternakan rakyat.
Selain itu, kegiatan pengabdian ini juga membantu petani dalam penyediaan sarana produksi pertanian dan peternakan, guna mempercepat proses pemulihan usaha tani. Dukungan tersebut menjadi bagian dari strategi intervensi terpadu agar petani dapat kembali berproduksi secara optimal.
“Mahasiswa tidak hanya hadir sebagai relawan, tetapi sebagai pendamping berbasis keilmuan yang membantu menyelesaikan permasalahan aktual masyarakat, mulai dari penurunan produktivitas, keterbatasan akses sarana produksi, hingga kendala distribusi hasil pertanian akibat kerusakan infrastruktur pascabencana,” tuturnya.
Dijelaskan Boy Riza Juanda, tim dosen yang terlibat dalam kegiatan ini terdiri atas Boy Riza Juanda (Ketua), Dr. Kiagus Muhammad Zain Basriwijaya, S.Pt., M.Si, dan Dr. Risky Ridha, S.P., M.P.
“Pendekatan multidisipliner tersebut memperkuat kualitas analisis, perencanaan, dan rekomendasi teknis yang diberikan kepada kelompok tani,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Pemerintah Desa Johar mengapresiasi keterlibatan mahasiswa yang tinggal langsung bersama masyarakat selama program berlangsung. Kehadiran mereka dinilai tidak hanya membantu secara teknis, tetapi juga membangkitkan kembali semangat dan optimisme petani dalam memulihkan usaha pertanian pascabanjir.
Program ini menjadi wujud sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam mempercepat pemulihan sektor pertanian di wilayah terdampak bencana.
“Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan diperluas ke desa terdampak lainnya guna memperkuat ketahanan pertanian daerah secara sistematis, adaptif, dan berkesinambungan,” imbuhnya.(Id74)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.





















































