Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
12 February 2026 18:40
Jakarta, CNBC Indonesia- Tingginya sejengkal, bertaring tajam, berwajah imut, bergelantungan dan sempat jadi rebutan. Sedikit yang tidak mengetahui namanya, Labubu
The Economist menceritakan kisah China yang kembali menghadapi masalah lama dengan wajah baru.
Awal 2026, aparat di berbagai kota negeri tirai bambu melakukan razia terhadap boneka tiruan yang menyerupai Labubu, produk populer milik Pop Mart.
Versi palsunya dijuluki Lafufu diproduksi massal dan dijual via ecommerce hingga pasar fisik. Polisi Shanghai pada Juli lalu menemukan satu gudang berisi mainan tiruan senilai CNY 12 juta.
Kasus ini tampak sepele, tetapi memicu operasi nasional dan membuka persoalan yang lebih besar soal hak kekayaan intelektual di China.
Inside ini menyinari realita bahwa China perlahan bertransformasi menjadi negara manufaktur orisinil.
Selama puluhan tahun, China dikenal sebagai pusat barang tiruan. Produk konsumsi global hingga teknologi industri kerap menjadi sasaran. Perusahaan asing yang masuk setelah era keterbukaan ekonomi pernah mengeluhkan pencurian rahasia dagang.
General Motors menemukan model serupa dengan produknya diluncurkan mitra lokal pada 2003. Kawasaki dan Siemens menilai teknologi mereka dipakai dalam pembangunan jaringan kereta cepat. Pola itu membentuk reputasi China sebagai wilayah dengan perlindungan paten yang longgar.
Situasinya bergeser dalam beberapa tahun terakhir. Banyak perusahaan China kini berdiri sebagai pemilik teknologi dan merek bernilai tinggi. Smartphone, motor, panel surya, hingga baterai menjadi contoh sektor yang menghadapi gelombang peniruan.
Boneka Lafufu hanyalah satu contoh. Ketika kapasitas produksi industri berlebih, pabrik yang menganggur mencari cara bertahan. Salah satunya dengan meniru produk yang sudah laku di pasar.
Tekanan itu tercermin di pengadilan. Perkara kekayaan intelektual di China menembus lebih dari 550 ribu kasus per tahun, tertinggi secara global. Hakim di beberapa wilayah menangani hampir satu perkara per hari. Shanghai menjadi lokasi favorit karena penguasaan hukum yang lebih matang, walau prosesnya lambat. Masuk ke daftar sidang saja bisa memakan waktu tiga bulan. Bagi perusahaan, waktu menjadi biaya tambahan.
Di sektor manufaktur, masalahnya berulang. Di Chongqing, pusat produksi kendaraan, pabrik-pabrik tua kembali hidup dengan meniru desain motor milik perusahaan lokal. Setiap kemenangan hukum diikuti kemunculan pelaku baru. Kelebihan kapasitas industri membuat penindakan berjalan seperti permainan kejar-kejaran tanpa akhir.
Dampaknya meluas ke luar negeri. Barang tiruan buatan China membanjiri pasar global dan memicu konflik hukum. Di Amerika Serikat, perkara paten yang melibatkan perusahaan China melonjak 56% pada 2023.
Banyak berkaitan dengan penjualan di Amazon, sementara sebagian lain menyentuh sektor komunikasi dan elektronik. Masalahnya sering muncul karena perusahaan masuk pasar baru tanpa uji paten menyeluruh terhadap regulasi setempat.
Sebagian pelaku mulai beradaptasi. Perusahaan besar merekrut penasihat hukum internal khusus sengketa internasional dengan bayaran tinggi. Langkah ini menandai perubahan sikap: risiko hukum kini diperlakukan sebagai bagian dari ekspansi bisnis, bukan sekadar urusan administratif.
Perubahan paling mencolok muncul dari arah gugatan. Perusahaan China kini berada di posisi penggugat. Luckin Coffee memenangkan perkara di Thailand atas penggunaan nama dan logo serupa.
Trina Solar menggugat Canadian Solar di Amerika Serikat terkait pelanggaran paten, meski rivalnya memproduksi panel di China. Ketika perusahaan China bergerak keluar negeri, konflik kekayaan intelektual ikut bergerak bersama mereka.
Perang melawan peniru di dalam negeri dan sengketa hukum di luar negeri menunjukkan struktur industri China sedang bertransformasi.
Dari peniru global menjadi pemilik ide yang ingin dijaga.
Pendapatan Pop Mart Melonjak
Produsen mainan asal China, Pop Mart, mencatat pendapatan yang melonjak dua kali lipat pada 2024 menjadi US$1,8 miliar seiring meningkatnya antusiasme terhadap karakter Labubu.
CEO Pop Mart, Wang Ning, mengatakan bahwa perusahaan seharusnya "cukup mudah" mencapai pendapatan sebesar US$4,2 miliar pada 2025, yang berarti lebih dari dua kali lipat pendapatan t 2024.
Pop Mart, merek mainan China di balik figur koleksi yang sangat populer, mengalami lonjakan pendapatan dalam beberapa tahun terakhir, terutama berkat kesuksesan besar salah satu karakter uniknya: Labubu.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)

3 hours ago
1
















































