Dampak Ekonomi Krakatau Bisa Tembus Rp100 M, Begini Penjelasannya

11 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Maskapai tidak hanya harus memastikan pesawat tetap aman untuk terbang ketika terjadi gangguan abu vulkanik. Di saat yang sama, operator penerbangan perlu menjaga agar penumpang yang terdampak tidak kehilangan kepastian mengenai perjalanan mereka.

Penanganan penumpang menjadi semakin penting ketika status penerbangan berubah dalam waktu singkat. Informasi mengenai jadwal, perubahan rute, hingga pilihan refund atau penerbangan pengganti harus dapat diterima penumpang secepat mungkin.

"Maskapai perlu proaktif memberikan informasi melalui WhatsApp, SMS atau kanal komunikasi lainnya. Penumpang harus diberikan pilihan untuk melakukan re-route, reschedule tanpa biaya, atau refund sesuai ketentuan yang berlaku ketika penerbangan terdampak," kata Sekretaris Jenderal INACA Bayu Sutanto kepada CNBC Indonesia, Selasa (8/9/26).

Di sisi operasional, maskapai perlu bergerak berdasarkan informasi terbaru mengenai perkembangan abu vulkanik. Koordinasi dengan AirNav dan BMKG menjadi bagian penting agar keputusan penerbangan tidak hanya bergantung pada kondisi di satu bandara.

"Maskapai akan terus berkoordinasi dengan AirNav dan BMKG untuk mendapatkan perkembangan terbaru mengenai volcanic ash. Dari informasi tersebut, operator bisa menentukan apakah penerbangan dilanjutkan, ditunda, dialihkan, atau dihentikan sementara," ujar Bayu.

Pengalihan jalur menjadi salah satu opsi untuk mempertahankan konektivitas ketika koridor penerbangan tertentu tidak dapat digunakan. Namun, keputusan tersebut membawa konsekuensi berupa waktu terbang yang lebih panjang dan kebutuhan bahan bakar yang lebih besar.

"Kalau ada jalur yang harus dihindari, pesawat bisa diarahkan melalui rute alternatif, misalnya lewat bagian utara Jawa. Maskapai juga perlu menyiapkan extra fuel atau tankering fuel dari bandara yang kondisinya aman agar operasi tidak terganggu ketika pengisian bahan bakar di bandara terdampak harus dibatasi," kata Bayu.

Dari sisi industri, fleksibilitas juga diperlukan agar gangguan tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar. Penyesuaian slot, penggunaan bandara alternatif, serta koordinasi antarpemangku kepentingan dapat membantu maskapai mempertahankan penerbangan yang masih memungkinkan untuk dijalankan.

"Yang paling penting adalah kecepatan informasi dan fleksibilitas operasional. Kalau pemerintah, AirNav, regulator, bandara dan maskapai bisa bergerak cepat, dampak IROP ini masih manageable. Tetapi kalau erupsi dan sebaran abu berlangsung lebih dari lima hari, dampaknya bisa mulai menembus Rp100 miliar dan menggerus kinerja maskapai pada kuartal III dan IV," tutur Bayu.

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |