Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
12 February 2026 12:05
Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan konsumsi terhadap lingkungan global makin timpang. Global Footprint Network yang diolah dalam Sustainable Trade Index 2025 memperlihatkan jurang lebar antara negara dengan konsumsi rendah dan ekonomi maju yang rakus sumber daya.
Jejak ekologis mengukur berapa luas lahan dan perairan produktif yang dibutuhkan manusia untuk menopang gaya hidupnya. Hitungannya mencakup kebutuhan pangan, energi, bahan baku, hingga kapasitas alam menyerap limbah karbon. Semakin besar angkanya, semakin berat beban yang ditumpukan ke alam.
Di kelompok terbawah, negara-negara Asia Selatan dan Asia Tenggara mendominasi. Bangladesh mencatat jejak ekologis paling kecil di dunia, 0,68 hektare global per orang. Pakistan berada di posisi berikutnya dengan 0,73. Myanmar dan India sama-sama di kisaran 1,11. Pola ini mencerminkan tingkat konsumsi energi dan barang yang relatif rendah, sekaligus keterbatasan daya beli rumah tangga.
Indonesia berada di peringkat ke-11 dunia dengan jejak ekologis 1,86 hektare global per kapita. Angka ini masih jauh di bawah rata-rata negara maju. Struktur konsumsi domestik yang lebih sederhana, penggunaan energi per kapita yang belum tinggi, serta industrialisasi yang belum sepadat negara OECD menjadi penjelas utamanya.
Namun grafik mulai menanjak ketika masuk ke negara berpendapatan menengah atas. Thailand tercatat 2,46, Vietnam 2,70, dan China melonjak ke 3,68. Kenaikan ini berjalan seiring urbanisasi, ekspansi manufaktur, dan peningkatan konsumsi energi fosil. Mesin ekonomi bergerak lebih cepat, jejak ekologis ikut melebar.
Negara maju menempati ujung spektrum. Inggris menjadi yang "paling ringan" di antara mereka dengan 3,81 hektare global per orang. Jepang 4,04, Korea Selatan 5,47. Di atasnya, Rusia, Australia, dan Amerika Serikat mencatat angka di atas 6 hingga 7. Konsumsi energi tinggi dan pola hidup intensif sumber daya menjadi faktor dominan.
Puncaknya ada di Singapura. Negara kota ini mencatat jejak ekologis 10,07 hektare global per kapita, tertinggi di dunia. Keterbatasan lahan domestik, ketergantungan impor energi dan pangan, serta aktivitas ekonomi bernilai tinggi membuat tekanan ekologinya terlihat ekstrem jika dihitung per orang.
Negara dengan konsumsi tinggi memerlukan ruang ekologis jauh melampaui wilayahnya sendiri. Ketika sumber daya domestik tidak cukup, tekanan itu dipindahkan lewat impor energi, bahan baku, dan produk pangan dari negara lain.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)

2 hours ago
1
















































