Jakarta, CNBC Indonesia - Perang 100 hari antara Amerika Serikat (AS) dan Iran akhirnya memasuki babak gencatan senjata setelah penandatanganan memorandum kesepahaman (MoU) terbaru. Kendati negosiasi lanjutan selama 60 hari ke depan baru dimulai, Presiden AS Donald Trump sudah terburu-buru mengklaim kemenangan mutlak di hadapan publiknya.
Melalui platform media sosial pribadinya, Trump dengan huruf kapital menggebu-gebu menulis pesan pembuka yang provokatif. "SAMA-SAMA!" tulis Trump.
Ia memamerkan klaim bahwa minyak kembali mengalir, bursa saham melesat, lapangan kerja mencetak rekor, dan ambisi nuklir Teheran berhasil dikunci rapat demi keamanan dunia. Namun, data objektif di lapangan berbicara lain. Di balik narasi kemenangan sepihak tersebut, Pentagon justru dilaporkan boncos alias mengalami kerugian finansial yang sangat masif.
Berdasarkan analisis awal dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), biaya langsung yang dihabiskan Departemen Pertahanan AS untuk membiayai konflik ini menembus angka US$ 40 miliar atau setara dengan Rp712 triliun. Angka ini bahkan baru di permukaan.
"Nilai tersebut mencakup biaya amunisi, peralatan tempur yang hancur, dan kerusakan pangkalan. Namun, itu belum memasukkan biaya operasional internal yang sebenarnya sudah memakan porsi dari anggaran rutin Pentagon tahun fiskal 2026 yang totalnya mencapai US$ 1 triliun (Rp17.800 triliun)," ungkap Penasihat Senior CSIS, Mark Cancian, seperti dikutip dari CNN International, Senin (22/6/2026).
Kerugian nyata Washington kian benderang setelah dua sumber internal pemerintah membocorkan bahwa Pentagon kini telah mengajukan dana talangan darurat tambahan atau supplemental funding sebesar US$ 80 miliar (setara Rp1.424 triliun).
Dari total ajuan fantastis tersebut, sebagian besar digunakan untuk memulihkan kerusakan fasilitas pangkalan militer AS di Timur Tengah dan menambal pos anggaran lain yang terkuras selama perang.
Rudal Tomahawk Bikin Kantong Bolong
Pengeluaran terbesar AS selama konflik 100 hari ini bertumpu pada belanja amunisi canggih berbiaya tinggi. Mark Cancian dari CSIS membeberkan bahwa militer AS sangat bergantung pada senjata jarak jauh mutakhir yang harganya selangit.
Sebagai contoh, satu unit rudal Tomahawk dibanderol sekitar US$2,5 juta (setara Rp44,5 miliar). Selama konflik dengan Iran, AS tercatat telah meluncurkan sekitar seribu unit rudal Tomahawk. Jika dikalkulasikan, untuk urusan rudal Tomahawk saja, AS sudah membakar uang senilai US$2,5 miliar atau Rp44,5 triliun.
Agresivitas ini berujung pada menipisnya stok persenjataan strategis AS. Begitu kritisnya pasokan logistik militer, Trump bahkan terpaksa mengaktifkan Undang-Undang Produksi Pertahanan (Defense Production Act) pada awal Juni guna memaksa perusahaan-perusahaan domestik menggenjot produksi senjata secara instan.
Tak hanya Pentagon, lembaga sipil seperti Departemen Keamanan Dalam Negeri dan Urusan Veteran AS ikut ketiban apes dengan menanggung beban kerugian hingga US$135 juta (Rp2,4 triliun), di mana Rp2,9 triliun (US$165 juta) di antaranya murni dipicu oleh lonjakan harga bahan bakar selama operasi militer berlangsung.
Efek Domino ke Dompet Warga AS
Di sektor riil, klaim keberhasilan ekonomi yang digaungkan Trump justru berbanding terbalik dengan kondisi kantong masyarakat AS. Perang telah menyedot cadangan minyak darurat AS hingga ke level terendah sejak tahun 1983.
Berdasarkan data Kpler, dunia kehilangan pasokan hingga 1,15 miliar barel minyak mentah akibat blokade di Timur Tengah selama hampir empat bulan.
Dampaknya langsung terasa di stasiun pengisian bahan bakar (SPBU). Harga bensin di AS meroket dari rata-rata di bawah US$ 3 per galon menjadi di atas US$ 4 per galon selama perang berkecamuk. Berdasarkan pelacak biaya energi dari Brown University, rata-rata rumah tangga di AS harus membayar US$ 253 (sekitar Rp4,5 juta) lebih mahal untuk pengeluaran energi dibandingkan kondisi normal tanpa perang.
Kondisi sektor logistik dan pangan jauh lebih parah akibat lonjakan harga bahan bakar diesel yang sempat menembus angka US$ 5 per galon dari posisi awal US$ 3,80. Secara kumulatif, warga dan pelaku usaha di AS harus merogoh kocek ekstra hingga US$ 27,1 miliar (Rp482,3 triliun) hanya untuk menutup selisih harga diesel.
Angka ini belum termasuk efek domino melesatnya harga pupuk yang mengancam keberlanjutan sektor pertanian AS dalam jangka panjang.
Inflasi Mengganas, Rating Trump Jeblok
Mata rantai kerugian ekonomi ini bermuara pada satu momok menakutkan: inflasi. Data terbaru dari Bureau of Labor Statistics (BLS) menunjukkan inflasi tahunan AS merangkak naik di atas 4% untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir. Angka ini dua kali lipat lebih tinggi dari target yang dicanangkan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Akibat inflasi yang membandel, The Fed di bawah kepemimpinan Ketua baru Kevin Warsh, yang dipilih Trump sendiri, memilih menahan suku bunga acuan tinggi dan bersiap melakukan pengetatan moneter lebih lanjut akhir tahun ini. Imbasnya, pasar perumahan AS membeku seketika karena suku bunga KPR tenor 30 tahun tertahan di level tinggi 6,47%, mengubur mimpi kelas pekerja AS untuk memiliki rumah.
Inflasi yang tinggi terbukti telah menggerogoti kenaikan upah riil para pekerja pada bulan April dan Mei kemarin. Hal ini menjelaskan mengapa tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Trump merosot ke level psikologis yang mengkhawatirkan, yakni di angka 37% menurut Poll of Polls CNN.
Hasil jajak pendapat Fox News juga mengonfirmasi ketidakpuasan publik, di mana hanya 31% pemilih terdaftar yang menyetujui kebijakan ekonomi Trump, dan hanya 35% yang mendukung caranya menangani krisis Iran.
(tfa/luc)
Addsource on Google

4 hours ago
3

















































