Jakarta, CNBC Indonesia - Ancaman ikan asing invasif di Indonesia makin meluas. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap bukan hanya ikan sapu-sapu yang kini mendominasi sejumlah perairan, tetapi juga ikan cere yang populasinya disebut berkembang tak terkendali dan berpotensi mengganggu ekosistem.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Gema Wahyudewantoro mengatakan Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan biodiversitas ikan air tawar yang sangat besar. Dari total sekitar 15.750 spesies ikan air tawar di dunia, sebanyak 5.114 spesies berada di Indonesia.
Namun, masuknya ikan asing terus terjadi dalam beberapa dekade terakhir. Berdasarkan hasil riset BRIN, terdapat sekitar 247 jenis ikan asing di Indonesia dan sekitar 50 jenis di antaranya diduga sudah menyebar di perairan umum.
"Salah satu contoh paling menonjol adalah ikan sapu-sapu. Ikan yang berasal dari Sungai Amazon ini diduga masuk ke Indonesia pada periode 1970-1980, awalnya sebagai pembersih akuarium. Kini, ikan tersebut telah menyebar luas di berbagai perairan," ujar Gema dalam Media Lounge Discussion (Melodi) di Gedung BJ Habibie, Jakarta dikutip Kamis (14/5/2026).
Ikan invasif umumnya memiliki kemampuan adaptasi, berkembang biak cepat, serta mampu bersaing dengan spesies lokal karena tidak memiliki musuh alami di habitat barunya.
Fenomena tersebut juga terjadi pada ikan cere dan guppy yang sebelumnya sengaja didatangkan untuk kebutuhan pengendalian jentik nyamuk penyebab malaria. Namun dalam perkembangannya, populasi kedua ikan itu justru meluas tanpa kontrol.
"Contohnya yaitu ikan guppy dan cere yang dulu didatangkan untuk mengatasi malaria, justru berkembang tidak terkendali," kata dia.
BRIN mencatat sebagian besar spesies asing masuk ke Indonesia akibat aktivitas manusia. Jalurnya beragam, mulai dari perdagangan ikan hias, introduksi ikan konsumsi, air ballast kapal, kegiatan rekreasi seperti lomba memancing, hingga kebutuhan tertentu seperti pengendalian hama.
"Sebenarnya, ikan sapu-sapu bukan predator, melainkan kompetitor yang kuat. Aktivitasnya di dasar perairan dapat mengganggu keseimbangan ekosistem perairan," ujarnya.
Selain menekan populasi ikan lokal, keberadaan ikan invasif juga disebut berdampak pada ekonomi masyarakat karena mengurangi hasil tangkapan ikan bernilai tinggi. Dari sisi kesehatan, sejumlah penelitian bahkan menemukan potensi kandungan logam berat dan bakteri Escherichia coli pada tubuh ikan invasif tertentu.
BRIN pun mendorong langkah pengendalian populasi melalui penangkapan rutin, riset siklus reproduksi, identifikasi musuh alami, restorasi lingkungan, edukasi masyarakat, hingga penegakan hukum.
"Sebagian besar spesies asing masuk karena aktivitas manusia. Tanpa pengelolaan yang baik, mereka dapat menjadi invasif dan mengancam biodiversitas lokal. Pencegahan tetap menjadi langkah paling efektif, melalui penguatan kebijakan, riset, dan peningkatan kesadaran publik," ujar Gema.
(wur/wur)
Addsource on Google

4 hours ago
6

















































