Muhammad Zahran, CNBC Indonesia
01 January 2026 13:00
akarta, CNBC Indonesia - Pariwisata merupakan salah satu sektor yang memainkan peran penting dalam pertumbuhan ekonomi negara.
Sektor pariwisata berperan penting sebagai penggerak ekonomi melalui peningkatan pendapatan negara atau daerah, penciptaan lapangan kerja, sekaligus pilar sosial budaya dengan meningkatkan identitas lokal dan melestarikan budaya. Industri pariwisata juga menjadi sektor strategis untuk mendorong pertumbuhan inklusif dan berkelanjutan.
Sektor pariwisata Indonesia menunjukkan tren pemulihan dan pertumbuhan yang kuat pasca pandemi. Pendapatan pariwisata Indonesia menunjukkan tren peningkatan selama beberapa tahun terakhir. Trading Economics mencatat pendapatan pariwisata Indonesia pada triwulan III 2025 mencapai US$5,2 miliar atau setara Rp93,92 triliun.
Sementara itu, berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), total pendapatan objek daya tarik wisata komersial pada 2024 mencapai Rp11,63 triliun.
Total pendapatan tersebut terdiri dari pendapatan utama dan pendapatan lainnya. Pendapatan utama, termasuk di dalamnya pendapatan dari penjualan tiket masuk, menyumbang 85,5% total pendapatan.
Pendapatan lainnya dapat berasal dari penyewaan tempat (seperti untuk tenant penyedia makan minum atau atraksi tertentu) atau dari penjualan merchandise/souvenir. Selain menambah pendapatan bagi objek wisata, hal ini juga dapat memberdayakan masyarakat sekitar objek wisata tersebut
BPS juga mencatat 10 provinsi dengan total pendapatan objek daya tarik wisata komersial terbesar.
Jawa Tengah menempati daftar teratas provinsi dengan total pendapatan objek daya tarik wisata komersial tertinggi, yakni mencapai Rp2,77triliun. Hal ini sejalan dengan tingginya jumlah kunjungan wisatawan yang datang ke berbagai destinasi populer di wilayah ini. Jawa Tengah menawarkan berbagai destinasi wisata yang menarik, mulai dari wisata alam hingga situs-situs budaya.
Bali berada di posisi kedua sebagai provinsi dengan pendapatan wisata tertinggi, dengan total pendapatan mencapai Rp 2,56 triliun. Sebagai ikon pariwisata nasional, Bali memiliki berbagai objek wisata komersial yang menjadikannya tujuan favorit wisatawan dari seluruh dunia.
Posisi berikutnya ditempati oleh provinsi-provinsi di Pulau Jawa, yaitu DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, DI Yogyakarta, dan Banten, yang masing-masing menempati peringkat tiga hingga tujuh secara berurutan.
Pulau ini juga menawarkan beragam destinasi wisata, mulai dari wisata alam, wisata budaya dan sejarah, hingga wisata kota modern. Hal ini semakin diperkuat oleh infrastruktur pendukung seperti hotel, restoran, pusat perbelanjaan, dan jaringan transportasi yang memudahkan wisatawan berkunjung. Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat Pulau Jawa mendominasi daftar provinsi dengan pendapatan wisata tertinggi.
Sementara itu, daerah luar Jawa seperti Sumatera Utara, Riau, dan Sulawesi Selatan turut melengkapi daftar provinsi dengan pendapatan wisata tertinggi.
Mengapa Jawa Tengah Unggul?
Peta daya tarik wisata komersial di Indonesia masih menunjukkan ketimpangan tajam antarwilayah, dengan Pulau Jawa kembali tampil dominan. Dari total 1.570 objek daya tarik wisata alam komersial yang tersebar di seluruh Indonesia, Jawa Tengah mencatat jumlah terbanyak dengan 250 usaha, disusul Jawa Barat (224 usaha) dan Jawa Timur (210 usaha).
Konsentrasi tinggi di tiga provinsi di Pulau Jawa tersebut menegaskan bahwa pengembangan wisata alam komersial masih terpusat, sekaligus membuka ruang ekspansi lanjutan di wilayah lain yang relatif tertinggal.
Ketimpangan serupa juga terlihat pada wisata budaya komersial. Data menunjukkan, Jawa Tengah kembali memimpin dengan 51 usaha, diikuti DKI Jakarta (43 usaha), Jawa Timur (39 usaha), Jawa Barat (37 usaha), dan Bali (24 usaha). Dominasi Jawa dan Bali ini kontras dengan minimnya jumlah objek wisata budaya komersial di luar dua kawasan tersebut.
Dari sisi sumber pendapatan, objek wisata tidak hanya mengandalkan tiket masuk. Penyewaan area-seperti untuk tenant makanan dan minuman atau atraksi tertentu-serta penjualan merchandise dan suvenir menjadi sumber pemasukan tambahan. Skema ini tidak hanya memperkuat pendapatan pengelola, tetapi juga berpotensi memberdayakan masyarakat sekitar melalui keterlibatan UMKM lokal.
Jika pendapatan dan pengeluaran diperhitungkan, Jawa Tengah muncul sebagai provinsi dengan surplus terbesar, mencapai Rp2,23 triliun, diikuti DKI Jakarta sebesar Rp1,47 triliun dan Bali Rp1,41 triliun. Secara agregat, Indonesia dan sebagian besar provinsi mencatatkan surplus dari aktivitas wisata komersial.
Namun demikian, tidak semua wilayah menikmati kondisi serupa. Sulawesi Barat dan Papua Barat justru mengalami defisit, yang salah satunya dipicu oleh rendahnya jumlah kunjungan wisatawan. Temuan ini menggarisbawahi tantangan pemerataan sektor pariwisata nasional, sekaligus pentingnya strategi promosi, aksesibilitas, dan pengembangan atraksi agar manfaat ekonomi wisata dapat dirasakan lebih merata.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(mae/mae)

3 hours ago
2

















































