Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar modal tanah air diwarnai berbagai sentimen dan ketidakpastian di awal tahun ini. Penilaian dari lembaga pemeringkat dunia menjadi perhatian bagi investor domestik dan global.
Seperti diketahui Moody's belum lama ini menurunkan outlook Indonesia dari stable menjadi negative. Kemudian Morgan Stanley Capital International (MSCI) menunda rebalancing saham Indonesia, karena transparansi dan free float, menjadi sentimen yang diperhatikan. Di awal tahun, IHSG sempat melesat dan menyentuh titik tertingginya di level 9.000an, sebelum kemudian terkoreksi meninggalkan level 8.000.
Chief Investment Officer BRI Manajemen Investasi (BRI-MI), Herman Tjahjadi mengatakan, di luar sentimen-sentimen tersebut, pasar saham Indonesia juga diwarnai oleh rotasi dana yang dilakukan oleh investor global ke emerging market dan sektor komoditas.
Tren ini dipengaruhi oleh potensi pelemahan ekonomi AS seiring dengan penurunan penjualan ritel pada bulan Desember 2025. Ditambah lagi, jumlah tenaga kerja baru AS lebih banyak terserap ke sektor kesehatan.
Sebaliknya, investor global memandang negara-negara emerging market telah mengalami perbaikan ekonomi yang signifikan semenjak krisis finansial global pada 2008 silam. Hal ini tentu menjadi kesempatan bagi Indonesia, mengingat statusnya sebagai produsen komoditas dan salah satu negara emerging market.
"Kalau dari Indonesia sendiri, walaupun memang ada gejolak-gejolak dari pengumuman dari MSCI, kemudian Moody's. Tapi, kalau kita melihat pertumbuhan GDP kita di triwulan keempat 2025 itu tinggi sekali dan menjadi yang tertinggi dari tiga tahun terakhir," ujar Herman dalam Market Outlook CNBC Indonesia, dikutip Kamis (19/2/2026).
Dari situ, peluang bagi investor untuk meningkatkan kinerja portofolio investasinya menurutnya masih terbuka lebar. Herman mengatakan dengan kondisi pasar yang makin likuid dan kompetitif, investor akan semakin selektif dengan fokus pada fundamental emiten, keunggulan kompetitif dari emiten, kualitas manajemen, dan prospek industri.
Herman melanjutkan, ketika kondisi pasar volatil, BRI-MI selalu menjaga komunikasi dengan para nasabahnya, terutama terkait strategi penempatan dana yang dilakukan. Alhasil, ketika terjadi volatilitas di pasar, investor sudah bisa memahami sekaligus mengukur risiko yang bakal dihadapi.
"Tapi yang kami tekankan adalah reputasi kepercayaan itu. Itu tidak hanya pada saat market naik, tapi juga akan diuji ketika market turun. Jadi, makanya kita harus selalu transparan. Kita harus selalu disiplin dalam menjalankan mandat investasi kita," terang Herman.
Dia mengatakan masih ada sejumlah sektor yang memiliki potensi menjanjikan bagi investor di tengah peningkatan volatilitas dan ketidakpastian pasar. Contohnya adalah sektor telekomunikasi yang kini semakin kompetitif lantaran memiliki persaingan yang sangat rasional.
Industri telekomunikasi kini didominasi oleh tiga besar, yakni PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT), dan PT XLSMART Telecom Indonesia Tbk (EXCL), yang memiliki peluang besar.
"Kami melihat bahwa persaingan di antara kompetisi, di antara tiga entiti ini semakin rasional. Jadi kami melihat ke depannya, in terms of average revenue per user itu akan membaik, sehingga akan menjadi faktor yang positif untuk sektor telekomunikasi," jelasnya.
Sektor lain yang dianggap prospektif adalah konsumer. Sejak akhir 2025, saham-saham di sektor konsumer terus mengalami perbaikan kinerja. Tak hanya itu, sektor perbankan juga bisa dilirik kembali oleh investor sejalan dengan perbaikan kinerja kredit dan likuiditas yang terjaga.
Di samping itu, Herman juga menjelaskan terkait rencana penyesuaian kebijakan free float yang akan diterapkan kepada emiten secara bertahap. Kelak, porsi free float pada emiten yang awalnya berjumlah 7,5% akan didorong menjadi 15%.
Herman berpendapat, rencana peningkatan porsi free float menjadi 15% pada dasarnya sangat positif bagi pasar saham Indonesia dalam jangka panjang. Sebab, jika misalnya ada emiten yang memiliki free float di level yang sangat kecil, hal itu akan membuat sahamnya tidak likuid sehingga menimbulkan risiko untuk bergerak sangat volatil dan tidak mencerminkan kondisi fundamentalnya.
Pada akhirnya, ketika ada satu saham menjadi lebih likuid berkat porsi free float yang meningkat, maka saham tersebut menjadi lebih menarik bagi investor domestik dan asing. Peningkatan likuiditas berkat kebijakan free float juga diharapkan akan memperdalam pasar saham Indonesia.
"Tapi memang harus dimonitor terus, supaya kenaikan dari 7,5% ke 15% ini, itu harus ada stagesnya. Jangan sampai satu sekali stage, di mana nanti bisa oversupply. Kalau oversupply, itu akan juga menjadi satu tantangan bagaimana cara menyerapnya," imbuh dia.
Herman pun melihat bahwa emiten-emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) terpacu untuk terus memperbaiki kinerja fundamentalnya. Apalagi, investor akan lebih selektif memilih saham ketika emiten yang bersangkutan menaikkan porsi free float dari 7,5% menjadi 15%.
Lantas, seperti apa produk-produk reksadana existing yang akan menjadi unggulan oleh BRI-MI pada masa mendatang?
BRI-MI pada dasarnya memiliki cukup produk yang lengkap baik lintas aset, konvensional, berbasis syariah, hingga berbasis Environmental Social Governance (ESG). BRI-MI juga selalu berusaha untuk menyesuaikan profil risiko dari nasabah dengan produk-produk yang dihadirkan.
"Jadi misalnya kalau kita bicara mengenai aset kelas saham, kalau misalnya ada investor kami yang memang cukup agresif dan maksudnya sudah terbiasa dengan volatilitas, itu mungkin bisa berinvestasi ke small cap fund kami, ada yang namanya Mawar Fokus 10," ucap Herman.
Bagi investor yang memiliki kecenderungan eksposur pada saham-saham big caps seperti sektor perbankan, bisa berinvestasi di produk MSCI ESG Screen Index Fund. Sedangkan untuk nasabah BRI-MI yang cenderung lebih konservatif, maka mereka bisa masuk ke reksadana pendapatan tetap.
Tak ketinggalan, bagi nasabah yang suka dengan pembagian dividen secara reguler, BRI-MI turut menyediakan Balanced Regular Income Fund atau disebut BRIF. "Kalau money market sebagai likuiditas, seru di pasar uang. Jadi kami cukup lengkap," ucap Herman.
Di sisi lain, BRI-MI juga meneken Nota Kesepahaman (MoU) dengan para mitra untuk meluncurkan ETF Emas. Kendati begitu, peluncuran ETF Emas ini masih harus menunggu kepastian peraturan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
"Jadi mungkin ETF Emas ini hanya tinggal menunggu peraturan OJKnya, sehingga kami bisa luncurkan setelah peraturannya sudah keluar. Jadi ETF Gold karena kami memang melihat prospek Mas itu masih prospektif. Kemudian kita juga sedang menggodok suatu reksadana yang berbasis hukum," tandas dia.
(rah/rah)
Addsource on Google

2 hours ago
2














































