Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah membuka perdagangan perdana setelah libur Tahun Baru Imlek 2026 dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (18/2/2026).
Melansir data Refinitiv, rupiah dibuka di posisi Rp16.820/US$ atau terapresiasi 0,03%. Sebelumnya, pada perdagangan terakhir sebelum libur, Jumat (13/2/2026), rupiah ditutup melemah 0,09% di level Rp16.825/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB terpantau berada di zona hijau dengan penguatan 0,04% ke level 97,193.
Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini berlangsung dalam suasana pasar yang kembali aktif setelah libur dua hari, Senin-Selasa (17/2/2026), seiring perayaan Imlek. Rupiah diperkirakan masih akan sensitif terhadap sentimen dari domestik dan global.
Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang digelar selama dua hari mulai hari ini dan akan diumumkan hasilnya pada esok hari.
Sepanjang 2025, BI tercatat memangkas suku bunga acuan sebanyak lima kali, masing-masing 25 basis poin pada Januari, Mei, Juli, Agustus, dan September. Namun memasuki Januari 2026, BI menahan suku bunga di 4,75% dan pasar cenderung menilai sikap bertahan berpeluang berlanjut pada RDG kali ini.
Selain keputusan suku bunga, pasar juga akan mencermati arah kebijakan stabilisasi nilai tukar, termasuk intensitas intervensi BI di tengah kondisi pasar keuangan yang masih rentan terhadap risiko arus keluar asing pasca gejolak akhir Januari.
Di saat yang sama, pelaku pasar juga menilai efektivitas transmisi pelonggaran suku bunga ke sektor riil, mengingat penurunan suku bunga belum sepenuhnya diikuti penurunan suku bunga kredit sehingga dorongan ekspansi pembiayaan masih terbatas.
Dari eksternal, sentimen global masih dibayangi meningkatnya ketidakpastian geopolitik, termasuk perkembangan pembicaraan nuklir AS-Iran yang memicu sikap hati-hati pelaku pasar.
Dalam kondisi seperti ini, dolar AS kerap diuntungkan karena investor cenderung beralih ke aset aman, termasuk dolar dan surat utang AS, yang pada akhirnya dapat menambah tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
(evw/evw)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
1
















































