Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tancap gas pada pembukaan perdagangan Selasa (18/8/2026), setelah libur Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam rangka HUT ke-81 Republik Indonesia.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG langsung menguat 64,69 poin atau 1,01% ke level 6.466,58 pada awal perdagangan.
Penguatan IHSG terjadi setelah pada perdagangan terakhir, Jumat (14/8/2026), indeks ditutup di level 6.401,89 atau menguat 1,59%.
Pada awal perdagangan hari ini, sebanyak 282 saham menguat, 184 saham melemah, dan 497 saham lainnya stagnan. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp452 miliar dengan volume perdagangan mencapai 844,6 juta saham dan frekuensi 80.330 transaksi.
Adapun pasar saham Indonesia kembali dibuka setelah libur HUT ke-81 RI dengan perhatian investor tertuju pada sejumlah agenda ekonomi penting pekan ini. Dari dalam negeri, pasar akan mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung 18-19 Agustus 2026. BI diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan di 5,75% setelah sebelumnya menaikkan BI Rate secara agresif sebesar 75 basis poin pada April-Juni 2026.
Selain keputusan suku bunga, investor juga menanti rilis Statistik Utang Luar Negeri (SULNI) Juni 2026 pada hari ini. Pada Mei, posisi utang luar negeri Indonesia telah mencapai US$444,40 miliar, menjadi level tertinggi dalam rangkaian data sejak 2007.
Sentimen domestik lainnya datang dari RAPBN 2027. Pemerintah menargetkan pendapatan negara Rp3.426 triliun dan belanja negara Rp4.097,2 triliun, dengan defisit anggaran dijaga sebesar 2,40% terhadap PDB. Investor akan mencermati bagaimana postur fiskal tersebut diterjemahkan ke dalam prospek pertumbuhan ekonomi dan pasar keuangan.
Sementara itu, pasar masih dibayangi dampak gempa NTT. Hingga 17 Agustus 2026, BNPB melaporkan korban meninggal dunia mencapai 68 orang. Pemerintah menyatakan penanganan bencana masih dapat dilakukan dengan sumber daya dalam negeri dan belum membuka opsi bantuan asing.
Dari eksternal, sentimen cenderung beragam. Ekonomi Jepang tumbuh 0,3% secara kuartalan pada kuartal II-2026, di bawah ekspektasi 0,5%, sementara produksi industri China Juli hanya tumbuh 4,5% secara tahunan dan penjualan ritel tumbuh 0,6%, keduanya melambat dari bulan sebelumnya dan di bawah ekspektasi pasar.
Investor global juga akan menanti risalah rapat The Fed atau FOMC Minutes pada Kamis dini hari waktu Indonesia. Risalah tersebut penting karena pada rapat Juli terdapat tiga anggota FOMC yang berbeda pendapat dan menginginkan kenaikan suku bunga 25 basis poin, membuka spekulasi mengenai arah kebijakan The Fed pada September.
Di pasar komoditas, ketegangan Iran-Amerika Serikat juga masih menjadi risiko yang perlu dicermati. Ancaman eskalasi di Selat Hormuz berpotensi memengaruhi harga minyak, nilai tukar, inflasi, serta sentimen terhadap aset berisiko global.
(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]

1 hour ago
3















































