Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Iran menggencarkan propaganda nasionalisme di tengah tekanan ekonomi, konflik berkepanjangan, dan meningkatnya ketidakpuasan publik di dalam negeri. Di berbagai sudut ibu kota Teheran, poster-poster besar dipasang untuk menampilkan narasi persatuan nasional dan kemenangan melawan kekuatan Barat.
Kampanye propaganda itu muncul hanya beberapa bulan setelah pemerintah Iran dituduh melakukan penumpasan brutal terhadap demonstrasi antipemerintah. Kini, di tengah perang dan tekanan internasional, pemerintah mencoba membangun citra solidaritas nasional lewat simbol-simbol patriotik baru.
Pemerintah bahkan menggelar pernikahan massal bertema militer, pelatihan senjata di masjid, hingga parade simbolik Garda Revolusi untuk memperkuat semangat "perlawanan nasional".
Berbeda dengan propaganda revolusioner Iran pada masa lalu yang sarat simbol keagamaan Syiah, kampanye terbaru justru lebih menonjolkan nasionalisme Persia dan identitas kebangsaan.
"Ideologi lama Republik Islam sudah tidak lagi memiliki daya tarik besar di masyarakat. Karena itu, mereka mencoba memanfaatkan elemen identitas Iran lainnya untuk memobilisasi massa," ujar Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, Ali Vaez, seperti dikutip Reuters, Jumat (22/5/2026).
Meski begitu, efektivitas propaganda tersebut dinilai masih dipertanyakan di tengah masyarakat yang kian frustrasi terhadap kondisi ekonomi dan politik.
Iran sebelumnya berhasil menahan serangan udara dari Amerika Serikat (AS) dan Israel, serta menekan Presiden AS Donald Trump kembali ke meja perundingan lewat ancaman penutupan Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia.
Namun di balik narasi kemenangan itu, ekonomi Iran disebut berada di ambang kehancuran. Pemerintah juga memperketat penindakan terhadap potensi gelombang protes baru.
Profesor sejarah modern Universitas St Andrews, Ali Ansari, menilai propaganda terbaru Iran bertujuan menciptakan kesan bahwa situasi domestik tetap stabil.
"Ini adalah upaya untuk menunjukkan bahwa semuanya normal di Iran, kita semua bersatu, dan pemerintah tidak sedang membantai rakyatnya sendiri," kata Ansari. Menurut dia, strategi tersebut mungkin masih bisa memengaruhi kelompok masyarakat moderat, tetapi mayoritas warga Iran tetap skeptis.
Salah satu fokus utama propaganda Iran adalah keberhasilan mereka mengendalikan Selat Hormuz. Poster-poster yang beredar menggambarkan Garda Revolusi menangkap kapal dan jet tempur AS, hingga visual yang menyindir Trump menggunakan bentuk geografis selat tersebut.
Selain simbol anti-Barat, pemerintah Iran kini juga mulai mengangkat tokoh-tokoh nasionalis Persia yang sebelumnya jarang ditampilkan dalam propaganda resmi Republik Islam.
Salah satunya adalah Rais Ali Delvari, pejuang gerilya anti-Inggris dari wilayah Teluk Persia, yang kini muncul berdampingan dengan komandan Garda Revolusi dalam poster-poster besar di Teheran.
Para pengamat juga melihat adanya perubahan besar dalam struktur kekuasaan Iran selama perang berlangsung. Pengaruh ulama disebut mulai tergeser oleh kekuatan Garda Revolusi.
Propaganda patriotik juga diperkuat lewat tayangan tim nasional sepak bola Iran memberi hormat kepada bendera negara, serta kemunculan Pemimpin Tertinggi baru Mojtaba Khamenei dalam berbagai simbol nasionalisme.
Meski demikian, respons publik tetap terbelah. Banyak warga menilai pemerintah hanya sibuk membangun citra dibanding memperbaiki ekonomi.
(luc/luc)
Addsource on Google

5 hours ago
5
















































