Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
12 January 2026 14:40
Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa manufaktur pesawat terbang asal Amerika Serikat, Boeing Co. (BA), tampaknya telah berhasil melewati masa paling kelam dalam sejarah operasionalnya.
Setelah mencatatkan kerugian finansial yang sangat besar pada tahun fiskal 2024, kinerja perusahaan sepanjang tahun 2025 menunjukkan sinyal pemulihan yang solid dan meyakinkan bagi para investor dengan kinerjanya.
Tahun 2025 bukan lagi sekadar periode perbaikan bagi Boeing. Data operasional terbaru mengkonfirmasi bahwa perusahaan telah meninggalkan keterpurukan produksi dan kini memiliki momentum kuat untuk mengejar profitabilitas di masa depan.
Evaluasi 2024: Titik Terendah Senilai Rp 200 Triliun
Sebelum melihat lonjakan kinerja pada tahun 2025, investor perlu memahami posisi awal perusahaan yang cukup menantang dari tahun sebelumnya. Berdasarkan laporan tahunan 2024, Boeing mencatatkan estimasi net loss sekitar US$ 11,9 miliar.
Jika dikonversi dengan asumsi kurs Rp 16.800 per dolar AS, kerugian tersebut setara dengan Rp 199,9 triliun. Angka ini mencerminkan betapa mahalnya biaya yang harus dikeluarkan perusahaan untuk menstabilkan bisnisnya.
Kerugian besar ini merupakan dampak dari langkah manajemen untuk membersihkan neraca keuangan dari berbagai kewajiban masa lalu, termasuk denda regulasi serta biaya kompensasi kepada maskapai akibat krisis pesawat 737 MAX 9. Meskipun menyakitkan secara finansial, langkah ini dinilai perlu agar perusahaan dapat melangkah lebih ringan saat menyongsong tahun pemulihan.
Momentum Q3 2025: Unit Komersial Kembali Dominan
Titik balik kinerja Boeing terlihat jelas saat memasuki periode sembilan bulan pertama atau hingga Kuartal III (Q3) 2025. Berdasarkan data operasional perusahaan, divisi Boeing Commercial Airplanes kembali mengambil alih peran sebagai kontributor utama pendapatan.
Selama periode Januari hingga September 2025, unit pesawat komersial menyumbang sekitar 46% dari total penjualan perusahaan. Hal ini menandakan bahwa bisnis inti Boeing, yaitu penjualan pesawat penumpang, sudah pulih dari dampak pelarangan terbang dan pembatasan produksi sebelumnya.
Stabilitas pada lini bisnis ini sangat krusial karena margin keuntungan dan arus kas terbesar perusahaan berasal dari penyerahan unit pesawat komersial kepada maskapai, bukan dari sektor pertahanan yang marginnya cenderung lebih tipis.
Ledakan Operasional: Rekor Pengiriman 7 Tahun Terakhir
Indikator paling nyata dari kebangkitan Boeing pada tahun 2025 adalah volume pengiriman unit pesawat. Hingga November 2025, Boeing sukses mengirimkan 537 pesawat komersial kepada maskapai global.
Angka ini merupakan rekor tertinggi sejak tahun 2018. Capaian ini melampaui total pengiriman tahun 2023 yang tercatat sebanyak 528 unit dan jauh meninggalkan angka tahun 2024 yang hanya mencapai 348 unit.
Lonjakan ini didorong oleh stabilnya rantai pasok untuk model 737 MAX dan pesawat berbadan lebar 787 Dreamliner. Analis industri menilai kemampuan Boeing menembus angka pengiriman di atas 500 unit sebagai sinyal bahwa pabrik sudah beroperasi dalam kapasitas yang sehat dan efisien.
Tabel Kinerja Operasional Boeing
Berikut adalah data kunci yang memperlihatkan akselerasi kinerja Boeing dari masa krisis menuju pemulihan sepanjang 2025:
Mengalahkan Kompetitor dan Strategi Masa Depan
Pencapaian Boeing pada tahun 2025 semakin mengesankan karena perusahaan berhasil menekan dominasi kompetitor utamanya, Airbus. Hingga November 2025, Boeing mencatatkan 1.000 pesanan baru dan berhasil mengungguli Airbus yang mencatat 797 pesanan dalam periode yang sama. Keunggulan ini menunjukkan bahwa kepercayaan maskapai penerbangan dunia terhadap produk Boeing telah pulih sepenuhnya.
Keberhasilan ini tidak lepas dari strategi CEO Kelly Ortberg yang fokus pada pembenahan fundamental pabrik. Manajemen menghapus metode kerja yang tidak efisien atau traveled work serta mengambil alih kontrol penuh atas pemasok utama Spirit AeroSystems pada Desember 2025.
Hasilnya, kualitas produksi menjadi lebih terjamin dan konsisten, yang pada akhirnya meyakinkan regulator penerbangan AS (FAA) untuk menaikkan batas produksi 737 MAX menjadi 42 pesawat per bulan.
Meskipun tantangan sertifikasi varian 737 MAX 7 dan MAX 10 masih ada dan diperkirakan baru rampung pada 2027, fundamental Boeing saat ini dinilai jauh lebih kokoh dibandingkan dua tahun terakhir.
Dengan total pesanan atau backlog senilai lebih dari US$ 500 miliar serta produktivitas pabrik yang kembali optimal, tahun 2025 telah meletakkan landasan pacu yang kuat bagi Boeing untuk kembali mencetak laba operasional secara berkelanjutan.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)

2 hours ago
1

















































