CNBC Insight
MFakhriansyah, CNBC Indonesia
21 March 2026 18:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Situasi ekonomi tak menentu, krisis iklim, dan perang yang memanas membuat masyarakat was-was akan ancaman krisis ekonomi. Sebab, sejarah membuktikan krisis ekonomi berhasil membuat sendi-sendi kehidupan porak-poranda.
Ancaman tersebut sebenarnya bisa berkurang jika bisa memahami peristiwa masa lalu sebab krisis ekonomi selalu ada sepanjang sejarah. Manusia telah berulangkali menghadapinya, termasuk pada kehidupan Nabi Yusuf AS.
Dalam sumber tradisional berbagai aliran keagamaan diceritakan, kehidupan Nabi Yusuf berubah 180 derajat ketika dia menafsirkan mimpi seorang raja.
Alkisah, seorang raja di Timur Tengah bermimpi melihat tujuh ekor sapi yang gemuk dimakan tujuh ekor sapi yang kurus. Lalu, ada pula tujuh butir gandum subur dan tujuh butir gandum kering. Raja sangat kebingungan mendapat mimpi tersebut dan segera meminta seluruh orang pintar menebak maksud bunga tidur tersebut.
Ada yang menafsirkan kalau mimpi tersebut membawa kesialan. Ada pula tafsir menyebut itu hanya bunga tidur yang tak seharusnya dipercaya. Namun, Yusuf punya pendapat lain. Dia berpendapat kalau mimpi sang raja terkait dinamika ekonomi.
Dia menebak akan tiba kemakmuran dan kesengsaraan. Suatu waktu, akan tiba masanya orang mendapat kebahagiaan besar. Seluruh tanaman tumbuh subur. Hewan-hewan ternak bakal gemuk. Namun, setelahnya penduduk akan mendapat kesengsaraan. Kekeringan yang berdampak pada krisis pangan bakal menghantam mereka. Jika berhasil melewati, maka manusia bakal kembali mendapat kebahagiaan.
Bagi raja, pendapat Yusuf paling logis. Sebab, bisa saja negara yang dipimpin bakal seperti tebakan nabi ke-11 tersebut. Akhirnya, dia yang sebelumnya ditahan akhirnya dibebaskan dan diangkat raja sebagai bendahara negara. Posisi ini sama seperti menteri keuangan suatu negara dalam konteks negara modern.
Terpilihnya Yusuf sebagai bendahara kerajaan tak terlepas dari kapasitas dirinya yang dinilai mampu mengelola keuangan. Dalam salah satu sumber tradisional Islam, disebutkan kalau Yusuf "adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan."
Selama ini, Yusuf memang memiliki teladan sebagai sosok teguh, cerdas, dan punya komunikasi yang baik. Yusuf diketahui tak pernah mengkhianati orang yang menitipkan amanah atau kepercayaan kepadanya. Lalu, dia juga pandai melihat situasi masa depan.
Salah satu contohnya terlihat pada keputusannya memberi masukan kepada raja agar masyarakat bersiap menghadapi krisis. Dia meminta agar rakyat bercocok tanam selama tujuh tahun berturut-turut seperti biasa. Lalu jika ingin memakannya, maka rakyat harus menyisakan sedikit di tangkainya agar bisa berkembang biak kembali.
Kenapa Yusuf meminta rakyat melakukan ini? Sebab setelahnya Yusuf percaya selama tujuh tahun ke depan negara akan dilanda kesulitan. Kekeringan di mana-mana. Maka, tabungan tanaman selama tujuh tahun sebelumnya akan menyelamatkan rakyat.
"Kemudian setelah itu akan datang tujuh tahun yang sangat sulit yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari apa yang kamu simpan," tulis Surat Yusuf ayat ke-46 s.d 49.
Barulah setelahnya, rakyat akan kembali menghirup kebahagiaan karena akan tiba waktunya untuk bersenang-senang.
Dalam konteks kekinian, perjalanan hidup Yusuf dapat menjadi pembelajaran. Pertama, negara harus memilih orang cakap dan amanah sebab dia dititipkan uang dalam jumlah besar. Kedua, bendahara negara harus punya persiapan dan perancangan kebijakan menghadapi krisis ekonomi.
Misalkan, bendahara negara mengatur agar produksi pangan dalam negeri tercukupi. Bisa lewat subsidi hingga proteksi terhadap para petani, sehingga kebutuhan pangan dalam negeri bakal tercukupi. Atau bendahara negara bisa mengatur roda ekonomi agar terus bergerak dan menghidupkan akar rumput.
Jika sudah dipenuhi, maka masyarakat akan sedikit terlindungi kalau sewaktu-waktu masa krisis akan tiba. Masyarakat tak akan kelaparan dan kesulitan, sekalipun badai krisis akan menghantam.
Selain itu, Nabi Yusuf juga menyiratkan pentingnya efisiensi alias berhemat. Ini tercermin dalam perkataannya soal, "kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan."
Pada akhirnya, pendapat yang disertai perancangan jelas versi Nabi Yusuf membuahkan hasil. Ekonomi kerajaan terselamatkan sekalipun krisis menghantam. Rakyat akan akan kesulitan dan lolos dari lubang jarum krisis ekonomi.
(mfa/mfa)
Addsource on Google

5 hours ago
2
















































