Beda Nasib dengan Prabowo, Mayoritas Warga AS Tak Puas ke Trump

2 hours ago 5
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Memasuki hari ke-388 masa jabatannya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump masih menghadapi tekanan besar dari opini publik. Hal ini terlihat dari data Trump Approval Tracker yang dihimpun The Economist berbasis survei YouGov pada Kamis (12/2/2026).

Survei tersebut menunjukkan tingkat persetujuan bersih (net approval) Trump berada di -18. Ini turun 0,3 poin dibandingkan pekan sebelumnya.

Sebanyak 38% responden menyatakan setuju dengan kinerja Trump sementara 56% tidak setuju dan 6% menyatakan ragu-ragu. Angka ini mencerminkan persepsi publik yang masih dominan negatif, seiring dengan dinamika politik dan ekonomi yang penuh gejolak di awal tahun.

Tahun ini Trump memulai pemerintahannya dengan sejumlah langkah kontroversial, mulai dari intervensi militer ke Venezuela hingga wacana penaklukan Greenland, yang memicu kegelisahan para pemimpin dunia. Di dalam negeri, insiden tewasnya dua warga negara AS oleh aparat imigrasi federal di Minneapolis memicu gelombang protes publik.

Kekacauan tersebut turut berkontribusi pada pelemahan dolar AS dan membebani sentimen terhadap kepemimpinan Trump. Namun, di tengah tekanan itu, terdapat indikasi perbaikan persepsi publik terhadap kebijakan ekonomi presiden.

Data The Economist menunjukkan, meski masih negatif, peringkat persetujuan Trump terkait inflasi dan harga naik signifikan, dari -34 pada Oktober menjadi -23 saat ini. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian warga Amerika menilai Trump mulai menunjukkan kinerja yang lebih baik pada isu ekonomi yang paling dirasakan masyarakat.

"Perubahan ini bisa jadi hanya fluktuasi sementara, tetapi juga bisa mencerminkan bahwa pemilih mulai memberi kredit pada kebijakan ekonomi Trump," tulis The Economist dalam analisisnya.

Peta Politik dan Demografi

Proyeksi tingkat persetujuan di tiap negara bagian menunjukkan pola klasik politik AS. Dukungan terhadap Trump paling rendah di negara bagian yang cenderung Demokrat dan tertinggi di basis Republik.

Namun demikian, ketidakpuasan mulai meluas bahkan di negara bagian yang memilih Trump pada Pemilu 2024, sebuah sinyal peringatan bagi Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu.

Dari sisi demografi, pemilih kulit putih dan laki-laki masih menjadi kelompok yang paling mendukung Trump. Sebaliknya, pemilih muda, kelompok minoritas etnis, serta masyarakat berpendidikan tinggi, lulusan perguruan tinggi dan pascasarjana, menjadi kelompok yang paling tidak puas. Yang mengejutkan, pemilih usia pensiun yang selama ini dikenal sebagai basis solid Partai Republik juga menunjukkan tingkat antusiasme yang lebih rendah.

Ekonomi: Tumbuh Kuat Tapi Penuh Risiko

Secara makro, ekonomi AS masih mencatatkan kinerja solid. Produk domestik bruto (PDB) tumbuh 4,3% secara tahunan, inflasi berada di 3,0%, dan tingkat pengangguran tercatat 4,3%. Indeks S&P 500 naik 14,7% sejak Trump menjabat, mencerminkan optimisme pasar yang sempat menguat.

Namun, pada masa jabatan keduanya, Trump juga mengguncang kepercayaan institusional. Pemecatan kepala Biro Statistik Tenaga Kerja setelah rilis data pekerjaan yang lemah, serta penutupan pemerintah selama sebulan, membuat rilis data ekonomi terhenti.

Ketua Federal Reserve Jerome Powell menggambarkan kondisi tersebut dengan gamblang. "Para pembuat kebijakan harus berjalan dalam kabut," ujarnya, merujuk pada minimnya data resmi akibat government shutdown.

Inflasi kembali merangkak naik ketika pelaku usaha mulai meneruskan beban tarif kepada konsumen. Di sisi lain, kepercayaan konsumen anjlok ke level terendah sejak 2014 pada Januari, dipicu kekhawatiran atas tarif, ketegangan dagang, pasar tenaga kerja yang melemah, serta mahalnya biaya asuransi kesehatan.

Pasar keuangan pun bergejolak. Investor sempat menyambut euforia kembalinya Trump, namun pasar saham terkoreksi tajam setelah pengumuman tarif "Hari Pembebasan" pada 2 April.

Meski harga saham kembali menguat berkat euforia kecerdasan buatan (AI) dan pelonggaran sebagian tarif, dolar AS masih tertekan akibat kekhawatiran fiskal dan intervensi politik terhadap independensi bank sentral.

Dengan kombinasi pertumbuhan ekonomi yang masih kuat dan tekanan politik yang belum mereda, perjalanan Trump memasuki tahun kedua pemerintahannya diperkirakan tetap penuh tantangan, baik di mata investor maupun pemilih Amerika.

Tingkap Kepuasan Prabowo

Kontras dengan hasil yang diraih Trump, tingkat kepuasan masyarakat terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto di Indonesia tercatat nyaris 80%. Survei terbaru Indikator Politik Indonesia mendapati sebanyak 79,9% responden puas dengan kinerja 17 bulan Prabowo memimpin.

"Sangat tinggi untuk ukuran approval rating seorang presiden," kata Founder dan Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia Prof. Burhanuddin Muhtadi saat merilis survei di Jakarta, Minggu (8/2/2026).

Tingkat kepuasan itu tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan dua presiden sebelumnya, yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Joko Widodo (Jokowi), saat pertama kali memimpin. Di awal kepemimpinan kedua presiden itu-SBY pada 2004 dan Jokowi pada 2014-approval rating mereka masih di bawah Prabowo saat ini.

Burhanuddin melihat kondisi ini dipengaruhi oleh dua modal penting yang dimiliki Prabowo. Pertama, tingkat keterpilihan Prabowo yang tinggi pada Pilpres 2024 lalu. Saat itu, pasangan Prabowo-Gibran Rakabuming Raka meraih kemenangan dengan 58,6 persen suara atau total dipilih oleh 96 juta pemilih.

Jumlah itu bahkan memecahkan rekor tingkat keterpilihan atas presiden-presiden sebelumnya. Saat SBY menang di periode kedua pada 2009 saja, kata Burhanuddin, kisarannya tak sampai 70 juta pemilih. Pun demikian saat Jokowi memenangi pilpres keduanya pada 2019, perolehan suaranya masih lebih kecil dari Prabowo.

(tfa/luc)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |