Jakarta, CNBC Indonesia - Lonjakan arus masuknya besi dan baja impor ke Indonesia semakin besar belakangan ini. Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara mengatakan ada beberapa faktor yang membuat hal tersebut terjadi.
"Kondisi tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh mekanisme pasar bebas, melainkan merupakan kombinasi antara tekanan pasar global dan adanya ruang regulasi yang dapat dimanfaatkan," katanya kepada CNBC Indonesia, dikutip Kamis (4/2/2026).
Salah satu produk yang menjadi perhatian adalah hot rolled coil (HRC). Dalam beberapa tahun terakhir, porsi impor HRC dari China terus meningkat hingga mencapai sekitar sepertiga dari total impor pada 2024. Harga yang ditawarkan pun berada di level paling rendah dibanding negara pemasok lain.
"Impor dari China terus meningkat dan pada tahun 2024 telah mencapai sekitar 32 persen dari total impor HRC. China juga mencatat harga impor terendah, dengan tren penurunan yang signifikan, dari sekitar US$858 per ton pada 2022 menjadi sekitar US$549 per ton hingga YTD Triwulan III 2025," kata Harry.
Tren penurunan harga ini berlangsung cukup tajam dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh melemahnya permintaan domestik di Tiongkok, khususnya dari sektor properti, serta pembatasan akses pasar di sejumlah negara tujuan ekspor lainnya.
Selain faktor harga, industri juga menyoroti potensi pemanfaatan klasifikasi produk dalam sistem harmonized system (HS). Sejumlah produk baja paduan dilaporkan masuk menggunakan kode tertentu, padahal secara penggunaan mendekati baja karbon biasa.
Perbedaan klasifikasi ini berdampak pada struktur tarif dan bea masuk, sehingga produk bisa masuk dengan biaya lebih rendah. Dalam praktiknya, hal tersebut menciptakan ruang kompetisi yang tidak sepenuhnya setara bagi produsen dalam negeri.
"Terdapat indikasi pemanfaatan celah regulasi, antara lain melalui penggunaan HS 7225 atau baja paduan, termasuk boron, yang pada praktiknya digunakan sebagai baja karbon, sehingga produk yang pada dasarnya setara dengan HS 7208 atau baja karbon dapat diklasifikasikan sebagai baja paduan untuk menghindari pengenaan bea masuk tertentu," ujar Harry.
Pengawasan juga menjadi tantangan di sektor produk turunan seperti fabrikasi logam dan prefab. Sebagian produk berada di luar cakupan standar wajib atau memiliki struktur tarif berbeda, sehingga lebih mudah masuk dengan harga agresif.
"Untuk HS 73 dan HS 94, termasuk produk fabrikasi dan prefab, masih terdapat tantangan pengawasan, karena sebagian produk berada di luar cakupan SNI Wajib atau memiliki struktur tarif yang berbeda, sehingga dapat masuk dengan harga yang sangat kompetitif," kata Harry.
Pasar Domestik Makin Banjir Besi-Baja Impor
Ditambahkan, arus impor besi dan baja ke Indonesia menunjukkan tren peningkatan dalam setahun terakhir. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat volume impor untuk kelompok HS 72 atau besi dan baja pada Triwulan III 2025 mencapai sekitar 10,2 juta ton. Angka ini naik dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di kisaran 9,8 juta ton.
Kenaikan tersebut memang tidak terlihat drastis secara, namun tetap memberi sinyal bahwa pasar domestik masih menjadi tujuan utama produk baja dari luar negeri. Pertumbuhan sekitar 4% secara tahunan dinilai cukup signifikan mengingat kapasitas produksi dalam negeri juga terus bertambah.
"Secara umum, daya saing harga menjadi faktor utama pendorong masuknya produk impor, khususnya baja, karena produk dari China masuk dengan harga yang relatif lebih murah dibandingkan produk domestik," papar Harry.
Harga menjadi faktor utama pergeseran preferensi pasar. Produk baja dari China kerap dibanderol lebih murah dibandingkan produk lokal, sehingga menarik minat pelaku industri hilir yang berorientasi pada efisiensi biaya produksi.
Kondisi ini membuat pasar domestik semakin padat oleh produk impor, bukan hanya pada baja lembaran tetapi juga berbagai bentuk besi olahan lainnya. Persaingan pun tidak hanya terjadi di segmen hulu, melainkan hingga ke produk setengah jadi.
Di sisi lain, industri baja nasional sebenarnya memiliki kapasitas produksi yang tidak kecil. Namun, perbedaan struktur biaya energi dan bahan baku membuat harga jual domestik kerap kalah bersaing, terutama ketika pasar global mengalami kelebihan pasokan.
"Kontribusi impor terbesar masih berasal dari China. Volume impor dari negara tersebut meningkat signifikan, dari sekitar 3,34 juta ton menjadi 4,37 juta ton, atau melonjak lebih dari 30 persen. Kenaikan ini menunjukkan bahwa selain volumenya besar, pangsa China dalam total impor besi dan baja Indonesia juga semakin meningkat," kata Harry.
Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran, tanpa penyesuaian kebijakan maupun strategi industri, pasar baja nasional akan semakin bergantung pada pasokan impor, sementara produsen lokal menghadapi ruang gerak yang makin sempit.
(dce)
[Gambas:Video CNBC]

1 hour ago
2














































