Awal Tahun Rupiah Dibuka Melemah Tipis, Dolar AS Jadi Rp16.680

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia — Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pertama tahun ini, Jumat (1/1/2026).

Mengacu pada data Refinitiv, rupiah berada di level Rp16.680/US$ pada pembukaan perdagangan pagi ini, atau terdepresiasi 0,06% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.670/US$, ketika rupiah sempat menguat tajam 0,51%.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB tengah berada di level 98,166 atau mengalami koreksi 0,16%, setelah mengalami penguatan beruntun dalam empat hari perdagangan terakhir.

Pergerakan rupiah pada awal tahun 2026 diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik.

Dari sisi eksternal, pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) di pasar global pada perdagangan pagi ini berpotensi menjadi angin segar bagi rupiah, setidaknya dalam jangka pendek sepanjang sesi perdagangan hari ini.

Indeks dolar AS (DXY), yang sepanjang 2025 telah membukukan pelemahan sekitar 9% yang sekaligus menjadi penurunan tahunan terdalam dalam delapan tahun terakhir, kembali dibuka melemah pada awal perdagangan 2026.

Pelemahan dolar tersebut tidak terlepas dari ekspektasi pemangkasan suku bunga The Federal Reserve, ketidakpastian arah kebijakan perdagangan AS, serta meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap independensi bank sentral di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.

Ke depan, pelaku pasar akan mencermati rilis sejumlah data ekonomi penting AS pada pekan depan, termasuk laporan payroll dan klaim pengangguran, yang akan memberikan petunjuk mengenai kondisi pasar tenaga kerja serta arah kebijakan suku bunga AS tahun ini.

Saat ini, pelaku pasar menakar potensi dua kali pemangkasan suku bunga pada tahun 2026, lebih besar dibanding proyeksi The Fed yang masih terbelah. Sejumlah analis menilai kekhawatiran terkait independensi bank sentral akan terus membayangi pasar pada awal tahun ini, sekaligus menjadi faktor yang membuat bias kebijakan moneter AS cenderung mengarah ke pelonggaran.

Dari dalam negeri, sentimen terhadap rupiah turut mendapat dukungan dari data aktivitas manufaktur Indonesia yang masih berada di zona ekspansi. PMI Manufaktur Indonesia versi S&P Global pada Desember 2025 tercatat di level 51,2, memang melandai dari 53,3 pada November, namun tetap menunjukkan fase ekspansi selama lima bulan beruntun.

Sebagaimana diketahui, PMI berada di atas level 50 menandakan aktivitas usaha berada dalam fase ekspansi. Laporan S&P Global mencatat bahwa ekspansi sektor manufaktur pada Desember masih ditopang oleh kenaikan pesanan baru yang berkelanjutan, sementara output juga tetap tumbuh meski pada laju yang lebih moderat dibanding bulan sebelumnya.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa aktivitas industri domestik masih terjaga, sekaligus memberi sinyal ketahanan permintaan di sektor riil. Bagi pelaku pasar, keberlanjutan ekspansi manufaktur dipandang sebagai faktor yang dapat meningkatkan keyakinan investor asing terhadap prospek perekonomian Indonesia pada awal tahun 2026, sehingga menjadi salah satu penopang tambahan bagi sentimen rupiah.

(evw/evw)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |