Alarm Defisit APBN Menyala, Ekonom Warning Bisa Tembus 3,1%

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah awal tahun lalu pernah memberikan skenario risiko defisit APBN terhadap PDB mencapai lebih dari 3%. Saat ini, skenario tersebut tampak semakin realistis.

Pada Maret lalu, pemerintah mengungkapkan tingginya harga minyak bisa mendorong defisit APBN meningkat di atas 3,18%. Dari perhitungannya, skenario pertama menunjukkan jika Indonesia Crude Price (ICP) rerata mencapai US$ 89 dolar per barel dengan kurs Rp 17.000 per dolar AS, dan target pertumbuhan ekonomi dipertahankan 5,3%, yield atau imbal hasil SBN 6,8%, maka defisit APBN akan mencapai 3,18%.

Saat ini, variabel harga minyak Indonesia dan posisi nilai tukar rupiah sudah memenuhi syarat risiko tersebut.

Berdasarkan perhitungan CNBC Indonesia, hingga Agustus rata-rata harga minyak mentah ICP mencapai US$89,24 per barel. Sementara nilai tukar rupiah hingga sesi penutupan perdagangan Senin (21/9/2026) mencapai Rp17.391,85 per dolar Amerika Serikat (AS).

Kepala Center of Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M. Rizal Taufikurahman mengatakan bahwa risiko defisit APBN 2026 menembus 3% PDB semakin nyata. Rerata ICP sekitar US$89 per barel dan rupiah yang sudah berada di atas Rp17.000/US$ menunjukkan parameter tekanan fiskal yang sebelumnya hanya ditempatkan sebagai stress scenario kini mulai menjadi realitas.

"Tekanannya bukan hanya pada subsidi dan kompensasi energi, tetapi juga mempersempit ruang fiskal ketika pemerintah tetap harus membiayai berbagai program prioritas," ucapnya kepada CNBC Indonesia saat dihubungi pada Selasa (22/9/2026).

Rizal menilai persoalannya bukan sekadar ICP dan rupiah sudah melewati asumsi, tetapi berapa lama tekanan itu bertahan.

"Jika harga minyak tetap tinggi dan rupiah bertahan di kisaran Rp17.000-Rp18.000/US$, sementara harga energi domestik tidak disesuaikan, beban akhirnya akan berpindah ke APBN," ucapnya.

Dirinya pun memperingatkan dengan outlook defisit sudah 2,85% PDB, ruang menuju batas 3% hanya tersisa sekitar 0,15 poin persentase.

"Artinya, defisit di atas 3% bukan lagi risiko yang terlalu jauh. Menjaga defisit tetap di bawah 3% akan sangat bergantung pada kekuatan penerimaan semester II dan keberanian pemerintah melakukan reprioritisasi belanja," ucapnya.

Rizal pun mengatakan bahwa jangan sampai disiplin fiskal dipertahankan secara nominal, tetapi dibayar dengan pemotongan belanja produktif yang justru diperlukan untuk menopang pertumbuhan.

Dirinya menegaskan bahwa batas 3% kini menjadi risiko yang realistis jika tekanan ICP, pelemahan rupiah, dan beban subsidi energi bertahan hingga akhir tahun. Adapun proyeksi Rizal terkait defisit APBN 2026 berpotensi berada di kisaran 2,9-3,1% PDB.

Di sisi lain, Kepala Ekonom BCA, David E. Sumual meyakini defisit APBN terhadap PDB bisa berada di bawah 3% namun sangat mepet dengan batas aman tersebut.

Meskipun risiko harga minyak yang tinggi dan pergerakan nilai tukar rupiah di atas Rp17.000/1US$, David menilai upaya pemerintah dalam melakukan rasionalisasi beberapa pos anggaran termasuk program prioritas menjadi penahan.

"Jadi kelihatannya masih bisa di bawah 3%, (proyeksi) 2,9%," ujarnya kepada CNBC Indonesia pada Selasa (22/9/2026).

Senada, Ekonom UOB Kay Hian Surya Wijaksana meyakini defisit APBN masih bisa ditahan di bawah 3% karena adanya upaya efisiensi yang dilakukan oleh pemerintah. Namun, angkanya berada di atas target APBN 2,85%.

"Kemungkinan besar masih di bawah 3% karena sudah ada efisiensi yang di lakukan dan penerimaan pajak dan PNBP relatif tinggi akibat tingginya harga komoditas dunia. Kalau saya prediksi sekitar 2,7%-2,9% dari PDB," katanya kepada CNBC Indonesia pada Selasa (22/9/2026).

(ras/haa) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |