Abu Anak Krakatau Menyebar ke Jakarta, Masker Ini Langka dan Harga Naik

4 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Erupsi Gunung Anak Krakatau yang memuntahkan abu vulkanik mulai berdampak pada permintaan masker di Jakarta. Pantauan CNBC Indonesia di Pasar Pramuka, Jakarta Timur, sejumlah pedagang mengaku stok masker, khususnya KN95, mulai menipis bahkan habis.

Abu vulkanik merupakan pecahan batuan gunung api berdiameter kurang dari 2 milimeter, mulai dari butiran seperti pasir hingga sangat halus seperti bedak. Material ini dapat mengganggu kualitas udara dan memicu iritasi paru-paru serta mata.

Sekretaris Jenderal Himpunan Pedagang Farmasi Pasar Pramuka, Yoyon, mengatakan penjualan masker mulai meningkat, meski belum terjadi aksi borong oleh masyarakat.

"Penjualan iya, mulai meningkat. Tapi belum ada masyarakat yang memborong, mereka baru membeli seperlunya saja," kata Yoyon kepada CNBC Indonesia, Senin (7/9/2026).

Menurutnya, stok yang terbatas juga dipengaruhi kebiasaan pedagang yang sebelumnya tidak banyak menyimpan masker karena penjualannya kurang bergerak.

"Stok mereka (para pedagang) memang tidak banyak, karena sebelumnya memang kurang jalan jualan masker di pramuka," sebutnya.

Suasana penjualan masker di Pasar Pramuka, Jakarta, Senin (7/9/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)Suasana penjualan masker di Pasar Pramuka, Jakarta, Senin (7/9/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman) Foto: Suasana penjualan masker di Pasar Pramuka, Jakarta, Senin (7/9/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Untuk masker jenis KN95, dia memastikan stok di Pasar Pramuka memang terbatas sehingga mudah habis ketika permintaan meningkat.

"Stok masker KN95 memang tidak banyak di Pasar Pramuka, sehingga jika ada permintaan saya pastikan akan cepat ludes. Dan itu bukan karena diborong masyarakat, tapi memang stok amat sedikit di pedagang saya," ungkap dia.

Sementara itu, Erlin, pedagang alat kesehatan di Pasar Pramuka mengaku hanya menyisakan masker untuk penjualan eceran karena selama ini tidak banyak menyetok.

"Ini saya jual tinggal buat eceran doang, kayak gini-gini ya. Tapi saya nggak terlalu nyetok masker selama ini, buat pelengkap aja," ujar Erlin.

Ia mengungkapkan, masker duckbill merek Mouson dan Alkindo isi 50 yang dijualnya masih dibanderol Rp25.000 per kotak, atau belum mengalami kenaikan.

"Masih sama ini, masih sama. Nggak naik," katanya.

Sedangkan pedagang lainnya, Habib mengaku stok maskernya telah habis dan hanya menyisakan pesanan yang harus dikirim.

"Sudah habis masker. Ini tinggal kirim buat orderan online sama pengiriman gojek semua," ucapnya.

Dia mengatakan sekitar 100 kotak masker telah terjual sejak pagi. Stok KN95 bahkan sudah kosong sejak sehari sebelumnya.

"Sudah habis seratus nih per pagi ini. Saya cuma jual yang masker bedah yang karet, yang KN95 sudah nggak ada stoknya. Sudah kosong dari kemarin," kata Habib.

Adapun masker bedah karet isi 50 kini dijual Rp25.000, naik Rp5.000 dari sebelumnya Rp20.000.

"Yang masker karet Rp25.000 isi 50 ya. Naiknya Rp5.000, sebelumnya Rp20.000 per box," ungkapnya.

Pedagang lainnya yang enggan disebutkan namanya juga mencatat kenaikan harga Sensi Duckbill menjadi Rp125.000 per kotak isi 50, atau naik Rp10.000.

Namun, KN95 di lapaknya juga disebut sudah kosong. Harga terakhir yang dipatok masih Rp55.000 per kotak isi 50.

Pedagang lainnya, Bambang, menilai masyarakat mulai panik sehingga permintaan masker meningkat.

"Masyarakat kita kan latah. Iya udah takut duluan ya," kata Bambang.

Dia mengatakan pedagang Pasar Pramuka tidak ikut menaikkan harga. "Enggak lah. Kita sudah mulai kayak orang Jepang lah, nggak memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan," sambungnya.

Ia menilai, kenaikan harga justru terlihat di penjualan online. "Nggak lah, yang naik itu di online malah. Online mah kan nggak ada aturan, nggak ada etika mereka kan," sebut dia.

(wur) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |