Abu Anak Krakatau Menyebar, Ini Arahan Pemerintah untuk Sekolahan

4 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia — Pemerintah mengeluarkan sejumlah imbauan terkait aktivitas pendidikan di tengah erupsi Gunung Anak Krakatau. Kegiatan belajar mengajar diminta menyesuaikan kondisi di masing-masing daerah dengan mengutamakan keselamatan dan kesehatan siswa maupun tenaga pendidik.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengatakan kegiatan belajar mengajar masih dapat dilaksanakan seperti biasa apabila kondisi daerah masih memungkinkan. Namun, sekolah diminta terus memantau potensi peningkatan aktivitas maupun dampak abu vulkanik.

"Kalau memang masih dapat dilaksanakan, belajar di dalam, terutama kegiatan yang di dalam kelas, melaksanakan seperti biasa sambil terus mengamati potensi eskalasi," ujar Tito dalam konferensi pers secara virtual, Minggu (6/9/2026).

Menurut Tito, kegiatan pendidikan yang berlangsung di luar ruangan, termasuk kegiatan ekstrakurikuler dan aktivitas di lapangan, dapat disesuaikan dengan kondisi di masing-masing wilayah.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengatakan sejumlah wilayah di Lampung dan Banten mengalami dampak abu vulkanik yang cukup berat.

Untuk wilayah yang terdampak parah, pemerintah menganjurkan pembelajaran dilakukan dari rumah secara daring mulai Senin (7/9/2026).

"Di daerah yang memang sangat terdampak kami anjurkan untuk pembelajaran dilaksanakan di rumah melalui daring," kata Mu'ti.

Namun, Mu'ti menyadari tidak seluruh siswa memiliki akses internet yang memadai. Karena itu, apabila pembelajaran dari rumah tidak memungkinkan, kegiatan belajar dapat dilakukan di lokasi tertentu yang dinilai aman dan tidak harus berada di sekolah.

Mu'ti menegaskan pemerintah pusat tidak menetapkan seluruh daerah harus menerapkan pembelajaran jarak jauh. Keputusan disesuaikan dengan kondisi di masing-masing wilayah karena dampak abu vulkanik masih dinamis dan dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk arah angin.

"Sehingga kami tidak dapat menetapkan daerah-daerah mana yang memang dia harus pembelajaran di rumah. Tetapi kami menegaskan sesuai dengan ketentuan yang sudah kami sebutkan bahwa keselamatan bagi murid dan kesehatan bagi murid dan para pendidik serta pendidikan itu menjadi prioritas utama," ujarnya.

Jika pemerintah daerah menilai suatu wilayah tidak aman untuk kegiatan tatap muka, pembelajaran di sekolah tidak boleh dilakukan.

Sebaliknya, apabila kondisi masih memungkinkan untuk kegiatan belajar tatap muka, sekolah tetap diminta menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Salah satunya dengan mengurangi aktivitas di luar kelas, termasuk olahraga dan kegiatan lainnya. Bahkan, kegiatan luar ruangan dapat ditiadakan apabila kondisi tidak memungkinkan.

Untuk kegiatan di dalam kelas, sekolah juga diminta meminimalkan masuknya abu vulkanik. Jendela, pintu, serta fasilitas lain yang berpotensi menjadi jalur masuk debu perlu diamankan.

Di tingkat perguruan tinggi, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan juga mengimbau kampus negeri maupun swasta mengurangi aktivitas di luar kampus.

Ia mengatakan layanan kantor, proses pembelajaran, serta aktivitas akademik lainnya dapat dilakukan secara daring, hybrid, atau metode lain yang dinilai efektif untuk mengurangi risiko paparan debu erupsi.

"Kami menghimbau kepada seluruh perguruan tinggi baik negeri maupun swasta untuk mengambil langkah-langkah strategis dan efektif yang berorientasi pada pengurangan aktivitas di luar kampus kepada seluruh civitas akademika," ujar Fauzan.

Fauzan juga meminta pimpinan perguruan tinggi mengaktifkan posko siaga di lingkungan kampus masing-masing dan terus berkoordinasi dengan kepala daerah setempat.

(mkh/mkh) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |