3 Lokasi di Jakarta Ini Bangkit Sampai Diserbu Warga, Fenomena Apa?

1 day ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah pusat perbelanjaan lama di Jakarta mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Kawasan yang sempat sepi dan dianggap kehilangan pamor, seperti Semanggi hingga Blok M, kini kembali dilirik sebagai destinasi gaya hidup. Fenomena ini tidak terjadi tanpa alasan, melainkan buah dari strategi pengelolaan yang lebih adaptif terhadap pergerakan dan selera masyarakat urban.

Senior Associate Director Colliers Indonesia Ferry Salanto menilai banyak mal lama sebenarnya memiliki keunggulan lokasi yang sangat kuat, namun selama bertahun-tahun tidak dioptimalkan secara serius. Padahal, kawasan-kawasan tersebut berada di titik pertemuan arus manusia yang sangat padat.

"Banyak mal yang sebenarnya merasa lokasinya sangat strategis. Contohnya Lippo Nusantara atau Blok M Hub. Kawasan seperti Semanggi itu pusat pergerakan manusia, orang pulang ke selatan, timur, barat, semuanya lewat situ dan sangat mudah untuk mampir," ujar Ferry kepada CNBC Indonesia.

Potensi tersebut baru benar-benar digarap dalam beberapa tahun terakhir. Pengelola mulai menyadari bahwa kekuatan utama mal di kawasan transit bukan sekadar ritel, melainkan pengalaman singgah yang relevan dengan rutinitas harian masyarakat kota.

"Selama ini nggak pernah digarap serius. Baru belakangan Lippo mulai menggarapnya, bikin lebih menarik, terutama dengan variasi F&B yang lengkap. Itu jadi daya tarik utama buat orang pulang kantor, ditambah fashion," jelasnya.

Kebangkitan serupa juga terlihat di Blok M Hub. Kawasan ini sejak dulu sudah menjadi titik kumpul alami karena didukung jaringan transportasi yang saling terhubung, mulai dari bus, MRT, hingga angkutan lain.

"Blok M itu secara historis memang konsentrasi manusia. Dari situ orang bisa ke mana saja karena transportasinya komprehensif," katanya.

Kunci revitalisasi kawasan strategis seperti ini bukanlah transformasi besar-besaran yang mahal, melainkan sentuhan yang tepat sasaran dan mengikuti dinamika pasar. Optimalisasi bisa dilakukan tanpa harus mengorbankan efisiensi biaya.

"Harusnya dari dulu lokasi-lokasi strategis ini dioptimalkan. Sentuhannya nggak perlu terlalu drastis dan mahal, tapi mengikuti selera pasar," ujarnya.

Ia mencontohkan bagaimana Blok M Hub mulai diarahkan sebagai ruang nongkrong dan beraktivitas bagi anak muda. Konsep ini dinilai relevan dengan karakter kawasan dan kebutuhan generasi urban saat ini.

"Kalau Blok M Hub dijadikan tempat nongkrong, hang out, banyak aktivitas, itu bisa jadi sesuatu," tambah Ferry.

Contoh lain datang dari Pluit Junction. Meski bukan mal dengan citra mewah, pengelola mulai fokus memaksimalkan aset yang ada agar kembali menjadi tujuan kunjungan masyarakat sekitar.

"Pluit Junction itu bukan mal yang wah, tapi mereka mulai concern bagaimana meningkatkan aset supaya jadi destinasi lagi," katanya.

Ke depan, arah pengembangan ritel perkotaan seharusnya tidak lagi menambah mal baru, melainkan menghidupkan kembali pusat perbelanjaan lama yang lokasinya sudah unggul namun pengelolaannya tertinggal.

"Mal lama itu sebaiknya jangan ditambah lagi. Yang penting bagaimana mengoptimalkan mal-mal lama yang lokasinya bagus tapi kurang maksimal," tegasnya.

Upaya tersebut, menurut Ferry, bisa dimulai dari penataan ulang tenant, penyegaran desain bangunan, hingga renovasi terbatas yang mampu menciptakan pengalaman baru bagi pengunjung.

"Tenant-nya ditata, mungkin renovasi bangunan tua, desain yang bikin orang tertarik datang lagi," pungkasnya.

(dce)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |