Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
03 April 2026 22:01
Jakarta, CNBC Indonesia - Di balik setiap operasi militer Amerika Serikat (AS), ada struktur komando yang tidak langsung digerakkan oleh satu angkatan saja. AS memiliki sistem bernama U.S. Combatant Commands, yakni jaringan komando tempur gabungan yang dibentuk untuk memimpin operasi militer berdasarkan kawasan maupun fungsi tertentu.
Melansir dari situs resmi Departemen Pertahanan AS saat ini ada 11 komando tempur, yang masing-masing punya misi geografis atau fungsional untuk mengendalikan penggunaan kekuatan militer saat damai maupun perang.
Mudahnya, matra seperti Angkatan Darat, Laut, Udara, Korps Marinir, dan Angkatan Antariksa AS bertugas menyiapkan personel, alutsista, serta menjaga kesiapan tempur.
Adapun Komando Tempur AS berperan menjalankan operasi militer secara langsung di lapangan.
Karena itu, ketika melihat Amerika Serikat bergerak di Timur Tengah, Indo-Pasifik, Eropa, ranah siber, hingga luar angkasa, biasanya ada salah satu dari 11 komando tempur ini yang berada di balik operasi tersebut.
Komando-komando tersebut merupakan posisi strategis yang pada dasarnya dipimpin oleh perwira tinggi bintang empat dan dapat berasal dari berbagai matra AS.
1. Africa Command - Jenderal Dagvin R.M. Anderson
U.S. Africa Command atau AFRICOM adalah komando tempur AS yang menangani aktivitas militer di sebagian besar kawasan Afrika.
Jangkauan AFRICOM sangat luas karena menyentuh banyak negara Afrika dan berbagai jenis operasi, dari pendampingan keamanan sampai pengaturan ulang kekuatan militer AS di kawasan. Salah satu jejak penting dalam pengalaman operasionalnya adalah keterlibatan dalam pengawasan reposisi pasukan AS dari Somalia.
Saat ini AFRICOM dipimpin oleh Jenderal Dagvin R.M. Anderson dari Angkatan Udara AS.
Sebelum duduk di posisi ini, dia menjabat Director for Joint Force Development di Joint Staff Pentagon. Anderson dikenal sebagai command pilot dengan lebih dari 3.400 jam terbang dan pernah menerbangkan 16 jenis pesawat sepanjang karier militernya
2. Central Command - Laksamana Brad Cooper
Di tengah perang AS dengan Iran, nama U.S. Central Command atau CENTCOM menjadi salah satu yang paling penting. Komando inilah yang berada di balik operasi militer AS di kawasan tersebut, termasuk operasi terbaru ke Iran yang dinamai Operasi Epic Fury.
Karena itu, ketika eskalasi pecah di Timur Tengah, CENTCOM hampir selalu menjadi pusat kendali utama Washington.
CENTCOM saat ini dipimpin Laksamana Brad Cooper. Dia merupakan perwira Angkatan Laut AS yang punya pengalaman sangat kuat di Timur Tengah.
Foto: U.S. Central Command
Adm. Brad Cooper
Sebelum menjadi commander CENTCOM, Cooper pernah memimpin U.S. Naval Forces Central Command, Fifth Fleet, dan Combined Maritime Forces di Bahrain. Dia juga pernah bertugas di Afghanistan serta memiliki latar akademik di U.S. Naval Academy, National Intelligence University, Harvard, dan Tufts.
Secara penugasan, CENTCOM memang bertanggung jawab atas wilayah operasi yang sangat strategis, yakni Timur Tengah dan Asia Tengah. Kawasan ini mencakup jalur energi utama dunia, titik konflik penting, dan sejumlah kawasan yang selama puluhan tahun menjadi fokus operasi militer AS.
3. European Command - Jenderal Alexus G. Grynkewich
Kalau bicara soal hubungan militer AS dengan Eropa, maka U.S. European Command atau EUCOM adalah pemimpinnya.
Komando Tempur ini bukan hanya memimpin operasi militer AS di Eropa, tetapi juga menjadi jembatan penting antara Washington dengan NATO dan negara-negara sekutunya. Itulah sebabnya EUCOM punya posisi sangat sentral dalam arsitektur pertahanan Barat.
Wilayah tanggung jawab EUCOM membuat komando ini sangat penting di tengah ketegangan keamanan Eropa. Apalagi markasnya berada di Stuttgart-Vaihingen, Jerman, yang menempatkannya dekat dengan jantung koordinasi pertahanan di Eropa.
Foto: European Command, Jenderal Alexus G. Grynkewich. (Dok. eucom.mil)
European Command, Jenderal Alexus G. Grynkewich. (Dok. eucom.mil)
Yang memimpin EUCOM saat ini adalah Jenderal Alexus G. Grynkewich. Dia juga menjabat Supreme Allied Commander Europe atau SACEUR di NATO.
Latar belakangnya kuat di pertempuran udara karena pernah menjadi pilot F-16 dan F-22, instruktur pilot, weapons officer, serta operational test pilot. Sebelum ke posisi sekarang, dia juga sempat menjabat Director for Operations, J-3, di Joint Staff.
4. Northern Command - Jenderal Gregory M. Guillot
Berbeda dari banyak komando tempur AS yang berfokus ke luar negeri, U.S. Northern Command atau NORTHCOM justru berorientasi ke dalam Negeri. Tugas utamanya adalah menjaga pertahanan inti Amerika Utara, termasuk perlindungan wilayah AS, homeland defense, dan dukungan saat terjadi keadaan darurat atau bencana besar.
Karena itu, command ini punya peran yang sangat vital bagi keamanan domestik Washington.
Foto: Northern Command, Jenderal Gregory M. Guillot. (Dok. af.mil)
Northern Command, Jenderal Gregory M. Guillot. (Dok. af.mil)
Pemimpin NORTHCOM saat ini, Jenderal Gregory M. Guillot, sekaligus menjabat sebagai commander NORAD, lembaga pertahanan udara Amerika Utara.
Guillot sendiri berasal dari Angkatan Udara AS. Dia lulusan U.S. Air Force Academy, memiliki latar pendidikan di bidang aeronautical science dan strategic studies, serta pernah memimpin berbagai satuan udara penting, mulai dari squadron, wing, hingga Ninth Air Force.
5. Indo-Pacific Command - Laksamana Samuel J. Paparo
Kawasan Indo-Pasifik saat ini merupakan pusat pertumbuhan ekonomi dunia sekaligus arena persaingan geopolitik paling intens.
Karena itu, U.S. Indo-Pacific Command (INDOPACOM) menjadi salah satu komando tempur paling besar dan paling strategis dalam struktur militer AS.
Wilayah yang disentuh command ini mencakup Laut China Selatan, Taiwan, Semenanjung Korea, hingga berbagai jalur perdagangan laut utama dunia.
USINDOPACOM didirikan sebagai komando terpadu pada tanggal 1 Januari 1947, dan merupakan komando terpadu A.S. tertua dan terbesar.
Wilayah tanggung jawab United States Indo-Pacific Command mencakup sekitar setengah permukaan bumi, membentang dari perairan di lepas pantai barat Amerika Serikat hingga perbatasan barat India, serta dari Antartika hingga Kutub Utara.
Wilayah tanggungjawabnya terbentang dari Asia Timur, Asia Tenggara, Asia Selatan, hingga Samudra Pasifik & Hindia. Termasuk dalam hal ini adalah Kawasan ASEAN, seperti Indonesia.
Hanya sedikit kawasan di dunia yang memiliki keragaman budaya, sosial, ekonomi, dan geopolitik seperti kawasan Asia-Pasifik. Sebanyak 38 negara yang membentuk kawasan ini mencakup 52% permukaan bumi, menjadi rumah bagi lebih dari 50% populasi dunia, dengan sekitar 3.000 bahasa yang berbeda, beberapa militer terbesar di dunia, serta lima negara yang bersekutu dengan Amerika Serikat melalui perjanjian pertahanan bersama.
Dua dari tiga ekonomi terbesar dunia berada di Asia-Pasifik, bersama dengan 10 dari 14 ekonomi terkecil di dunia. Wilayah ini juga mencakup negara dengan populasi terbesar di dunia, demokrasi terbesar, serta negara dengan populasi Muslim terbesar.
Foto: Indo-Pacific Command, Laksamana Samuel J. Paparo. (Dok. navy.mil)
Indo-Pacific Command, Laksamana Samuel J. Paparo. (Dok. navy.mil)
Besar dan kompleksnya wilayah Indo-Pasifik membuat pemimpin command ini harus memiliki pengalaman operasi yang luas. Saat ini posisi itu dipegang Laksamana Samuel J. Paparo.
Dia merupakan pilot Angkatan Laut AS, lulusan TOPGUN, dengan lebih dari 6.000 jam terbang.
Sebelum menjadi commander INDOPACOM, Paparo pernah memimpin carrier strike group, U.S. Naval Forces Central Command, Fifth Fleet, hingga U.S. Pacific Fleet.
Foto: U.S. Departement of War
Combatant Command
6. Southern Command - Jenderal Francis L. Donovan
U.S. Southern Command (SOUTHCOM) menangani operasi dan kerja sama keamanan AS di Amerika Latin dan Karibia. Yang memimpin SOUTHCOM saat ini adalah Jenderal Francis L. Donovan dari Korps Marinir AS.
Karier militernya dibentuk oleh pengalaman sebagai perwira infanteri, pengintaian, dan operasi khusus.
Donovan pernah memimpin Force Reconnaissance Platoon, Marine Expeditionary Unit, Marine Expeditionary Brigade, Marine Division, hingga naval task force di Fifth Fleet dan Sixth Fleet. Sebelum ke SOUTHCOM, dia juga menjabat Vice Commander U.S. Special Operations Command.
7. Space Command - Jenderal Stephen N. Whiting
Dulu luar angkasa identik dengan eksplorasi. Kini, bagi militer AS, ruang antariksa juga menjadi domain operasi yang sangat strategis.
U.S. Space Command (SPACECOM) dibentuk untuk menjaga kepentingan AS dan sekutunya di domain ruang angkasa sekaligus mendukung operasi gabungan di seluruh dunia melalui sistem berbasis antariksa.
Karena sangat bergantung pada teknologi satelit, komunikasi, dan pemantauan global, SPACECOM menjadi salah satu command yang perannya terus membesar. Markasnya berada di Peterson Space Force Base, Colorado.
Komando ini dipimpin oleh Jenderal Stephen N. Whiting. Dia merupakan lulusan U.S. Air Force Academy dengan latar belakang aeronautical engineering dan meniti karier sebagai space operations officer.
8. Special Operations Command - Laksamana Frank M. Bradley
Kalau ada command yang paling identik dengan operasi rahasia, kontra-terorisme, dan misi berisiko tinggi, maka itu adalah U.S. Special Operations Command (SOCOM).
Komando ini menjadi rumah besar bagi operasi pasukan khusus AS dan sering menjadi aktor utama dalam misi-misi yang tidak selalu muncul di publik.
Posisi komandan SOCOM saat ini dipegang Laksamana Frank M. Bradley.
Foto: Laksamana Frank M. Bradley. (Dok. southcom.mil)
Laksamana Frank M. Bradley. (Dok. southcom.mil)
Dia adalah perwira Navy SEAL yang memulai jalur operasi khusus setelah menyelesaikan BUD/S pada 1992.
Bradley pernah memimpin Joint Special Operations Command, Special Operations Command Central, dan Naval Special Warfare Development Group. Dia juga termasuk di antara personel awal yang dikerahkan ke Afghanistan setelah serangan 11 September 2001.
9. Strategic Command - Laksamana Richard A. Correll
Tidak semua command militer punya bobot strategis yang sama. U.S. Strategic Command atau STRATCOM termasuk yang paling sensitif karena berhubungan dengan penangkalan strategis AS.
Komando ini menangani unsur yang berkaitan dengan deterrence dan kemampuan serangan global, sehingga keberadaannya menyentuh salah satu inti paling krusial dari kekuatan militer Amerika.
Karena itu, sosok yang memimpinnya pun datang dari jalur yang sangat khas. Saat ini STRATCOM dipimpin Laksamana Richard Correll, seorang perwira Angkatan Laut dengan latar belakang kapal selam.
Dia pernah memimpin USS Topeka, Submarine Squadron 11, dan Submarine Group 7 di Jepang, sebelum kemudian menjadi Deputy Commander STRATCOM dan naik sebagai commander pada Desember 2025.
Latar akademiknya juga kuat, mulai dari chemical engineering hingga international strategic studies.
10. Transportation Command - Jenderal Randall Reed
Dalam perang, perhatian publik biasanya tertuju pada pasukan tempur, kapal perang, atau serangan udara.
Namun, tanpa logistik dan mobilitas, semua itu tidak akan bergerak. Itulah fungsi utama U.S. Transportation Command atau TRANSCOM, yakni memastikan pasukan, alutsista, amunisi, dan berbagai kebutuhan militer bisa dipindahkan secara cepat lintas benua.
Komando ini dipimpin oleh Jenderal Randall Reed.
11. Cyber Command - Jenderal Joshua M. Rudd
Jika perang tradisional berlangsung di darat, laut, dan udara, maka U.S. Cyber Command (CYBERCOM) bertugas di ranah siber.
Komando ini mengurusi operasi digital, perlindungan jaringan militer, dan penanganan ancaman siber yang bisa datang dari negara lain maupun kelompok non-negara.
CYBERCOM bermarkas di Fort Meade, Maryland. Berdasarkan dokumen resmi Pentagon per 24 Maret 2026, posisi pimpinannya saat ini dipegang Letjen William Hartman sebagai pelaksana tugas sejak 3 April 2025.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

4 hours ago
2
















































