Wall Street Terkubur, Simbol Kedigdayaan dan Kapitalisme Amerika "Mati"

10 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar saham Amerika Serikat (AS) kacau gara-gara ulah Presiden Donald Trump yang berulah lagi soal tarif. Puluhan triliun pun menguap dari Wall Street.

Sehari setelah pengumuman itu, pada Kamis (3/4/2025), S&P 500 anjlok 4,8%, lebih besar daripada pasar utama di Asia dan Eropa, menandai hari terburuk sejak pandemi Covid-19 pada 2020 silam.

Dow Jones Industrial Average juga jeblok 4%, sementara indeks komposit Nasdaq Composite anjlok 6%.

Tak berhenti di situ, pada Jumat (4/4/2025), wall street melanjutkan penurunan. Nasdaq jebol sampai 5,8%, Dow Jones 5,5%, sementara S&P lebih parah jatuh sampai 5,97%. 

Penurunan dalam sehari tersebut menjadi salah satu yang terparah dalam satu dekade terakhir. 

Aksi jual besar-besaran terjadi di indeks S&P di mana hanya ada 14 saham anggota S&P 500 yang menguat kemarin. Indeks-indeks utama ditutup pada posisi terendahnya.

Hitungan Reuters menunjukkan indeks S&P mencatat kerugian sebesar US$5 triliun atau sekitar Rp 82.775 triliun (US$1= Rp 16.555) akibat menguapnya kapitalisasi pasar atau market cap. Jumlah tersebut menjadi rekor penurunan dua hari terbesar sepanjang sejarah untuk indeks acuan S&P 500, melampaui kerugian dua hari sebesar US$3,3 triliun pada Maret 2020 saat pandemi melanda pasar global.

Secara keseluruhan, S&P 500 turun 9% dalam sepekan terakhir, yang membuat pekan ini menjadi minggu terburuk sejak awal pandemi Covid-19 pada 2020.

Ketidakpastian akan tarif Trump membuat pelaku pasar khawatir akan dampak yang semakin luas, apalagi kebijakan kali ini mencatat sejarah sebagai tindakan paling agresif yang pernah diambil negeri Paman Sam tersebut.

Analis bahkan melihat sudah tidak ada gairah investor untuk melihat saham menguat.

"Pasar bull sudah mati, dan itu dihancurkan oleh para ideologi dan luka yang dibuat sendiri," kata Emily Bowersock Hill, CEO dan mitra pendiri di Bowersock Capital Partners kepada CNBC International.

Sebagai catatan, bullish market (atau pasar bull) adalah istilah dalam dunia keuangan yang menggambarkan kondisi pasar yang sedang naik - yaitu ketika harga-harga saham (atau aset lainnya seperti kripto, properti, dll.) cenderung naik secara berkelanjutan dalam jangka waktu tertentu.

"Meskipun pasar mungkin mendekati titik terendah dalam jangka pendek, kami khawatir tentang dampak perang dagang global terhadap pertumbuhan ekonomi jangka panjang." Imbuhnya.

Adapun, Trump menyebut hari pengumuman tarif resiprokal atau tarif timbal balik sebagai 'Liberation Day' atau 'Hari Pembebasan'.

Trump menetapkan tarif "tarif timbal balik" kepada lebih dari 180 negara dan wilayah berdasarkan kebijakan perdagangan barunya yang menyeluruh.

Analis umumnya bersikap pesimistis terhadap pengumuman tersebut, dengan beberapa bahkan memprediksi peningkatan risiko resesi bagi AS.

Melansir laman polymarket, peluang AS jatuh ke dalam zona resesi kini mencapai 56%. Hanya dalam dua bulan terakhir, persentase risiko resesi AS naik signifikan dari level 20%-nan.

Peluang AS resesi di 2025Foto: Polymarket
Peluang AS resesi di 2025

Tai Hui, Kepala Strategi Pasar APAC, J.P. Morgan Asset Management menilai pengumuman tarif berpotensi menaikkan tarif rata-rata AS ke level yang tidak pernah terlihat sejak awal abad ke-20.

Jika tarif ini terus berlanjut, hal itu dapat berdampak besar pada inflasi, karena manufaktur AS berjuang untuk meningkatkan kapasitas dan rantai pasokan membebankan biaya kepada konsumen. Misalnya, produsen semikonduktor canggih di Taiwan mungkin tidak dapat menyerap biaya tarif tanpa pengganti yang layak.

Terpisah, David Rosenberg presiden dan pendiri Rosenberg Research menilai tidak ada pemenang dalam perang dagang global. Semua akan menjadi tanggung jawab produsen asing.

Ia menilai penetapan tarif akan mengakibatkan AS mengalami guncangan harga yang sangat signifikan selama beberapa bulan bagi sektor rumah tangga Amerika.

Tom Kenny, ekonom internasional senior ANZ mengatakan tarif timbal balik AS yang diumumkan hari ini lebih buruk dari ekspektasi. Tarif efektif pada impor barang dagangan AS kemungkinan akan naik ke kisaran 20-25%, tertinggi sejak awal tahun 1900-an.

Wall Street yang kini tumbang patut diwaspadai karena potensi menular ke bursa saham di berbagai negara, termasuk Indonesia, meskipun saat ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih libur.

Dengan volume perdagangan yang besar dan inovasi terus-menerus di sektor keuangan, Wall Street tetap menjadi barometer utama ekonomi dunia dan pusat aktivitas keuangan yang memengaruhi miliaran orang di berbagai belahan dunia.

Berikut secara rinci, kenapa Wall Street menjadi benchmark bagi pasar keuangan dunia :

1. Pionir Saham Mega Cap Dunia

Pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, Wall Street menjadi pionir dalam inovasi keuangan seperti perdagangan elektronik, derivatif, dan manajemen risiko.

Perusahaan teknologi terkemuka seperti Apple, Microsoft, dan Google memilih Nasdaq sebagai tempat pencatatan saham mereka, memperkuat posisi Wall Street sebagai pusat inovasi.

Saat ini juga ada sebutan untuk seven magnificent (7-mag), deretan perusahaan teknologi raksasa dunia yang listing di Wall Street.

Saham-saham yang ada di kategori itu nilai satuan-nya bahkan melebihi kapitalisasi pasar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini.

2. Indices Must Confirm Each Other

Salah satu dari Dow Theory mengatakan "Indices Must Confirm Each Other" yang artinya setiap indeks akan saling mengkonfirmasi satu sama lain.

Misal tiga indeks acuan Wall Street bergerak hijau, biasanya ini akan punya dampak ke indeks saham di bursa Asia, termasuk Indonesia juga tertular hijau.

Sebaliknya, jika Wall Street merah, maka indeks bursa saham di berbagai negara juga bisa ikut merah, walaupun tidak selalu.

Oleh karena itu, pergerakan dalam indeks-indeks ini sering menjadi referensi bagi investor dan analis dalam menentukan strategi investasi mereka.

3. Likuiditas dan Volume Perdagangan Tinggi

Bursa saham Wall Street memiliki likuiditas yang sangat tinggi, memungkinkan investor untuk membeli dan menjual aset dengan mudah.

Volume perdagangan yang besar menunjukkan tingginya kepercayaan investor global terhadap pasar AS, menjadikan Wall Street sebagai tempat ideal untuk aktivitas investasi berskala besar.

Wall Street kini tak hanya menampung saham-saham yang berbasis dari AS saja, bahkan emiten dari berbagai negara turut mendaftarkan saham mereka untuk bisa listing di sana karena likuiditas dan volume tinggi memungkinkan perusahaan meraup dana segar lebih optimal.

4. Efek Dolar AS

Sebagai mata uang cadangan dunia, dolar AS memiliki pengaruh besar dalam transaksi internasional. Pergerakan pasar di Wall Street sering kali mencerminkan kekuatan dolar, yang mempengaruhi ekonomi global.

Banyak bank sentral di seluruh dunia juga menyimpan cadangan devisa mereka dalam bentuk dolar AS. Selain itu, dolar digunakan dalam sekitar 88% transaksi valuta asing global, menjadikannya mata uang yang sangat penting dalam sistem keuangan internasional.

Dolar AS sering digunakan sebagai mata uang pengganti dalam perdagangan global. Misalnya, harga komoditas seperti minyak, emas, dan gandum biasanya dikutip dalam dolar. Hal ini membuat banyak negara memerlukan dolar untuk melakukan impor, sehingga meningkatkan permintaan global terhadap mata uang ini.

CNBC INDONESIA RESEARCH

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

(tsn/tsn)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |