Jakarta, CNBC Indonesia- Langkah Bank Indonesia yang menaikkan level suku bunga acuan BI Rate 50 bps menjadi 5,25% pada RDG Mei 2026 di tengah pelemahan nilai tukar Rupiah turut menjadi perhatian industri pembiayaan Tanah Air.
Direktur Utama Mega Finance, Iwan Setiawan mengatakan kenaikan suku bunga menjadi kewaspadaan industri pembiayaan mengingat kebijakan ini akan memberikan 2 dampak. Pertama terkait permintaan kredit kendaraan baru yang berpeluang turun serta menurunnya daya beli yang akan menekan kemampuan nasabah dalam pembayaran cicilan hingga mengerek kenaikan Non-Perfoming Loan (NPL).
Menghadapi tren suku bunga tinggi, Mega Finance terus memastikan kepercayaan perbankan agar pemenuhan pendanaan tetap terjaga.
Di tengah gejolak ekonomi dan geopolitik ini, pertumbuhan bisnis multifinance masih dapat mencapai target 6-8%, sehingga dukungan pemerintah terhadap Langkah mendorong daya beli dan stabilitas nilai tukar Rupiah termasuk melalui insentif. Di sisi lain stabilitas kebijakan juga menjadi perhatian salah satunya pemberantasan transaksi "STNK Only" yang bisa merugikan semua pihak.
Seperti apa dampak dan strategi industri pembiayaan menghadapi era bunga tinggi? Selengkapnya simak dialog Andi Shalini dengan Direktur Utama Mega Finance, Iwan Setiawan dalam Power Lunch, CNBC Indonesia (Selasa, 02/06/2026)
Add
source on Google

8 hours ago
2

















































