Trump: Tanpa Saya, Tidak Akan Ada Israel

4 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menunjukkan keretakan hubungan yang kian mendalam dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Di sela-sela KTT G7 di Prancis, Trump melayangkan teguran menyengat dengan mengeklaim bahwa Israel akan hancur lebur jika bukan karena peran besar dirinya.

Mengutip Newsweek, Selasa (16/6/2026), ketegangan ini dipicu oleh rasa frustrasi Trump yang meningkat terhadap sekutu dekatnya tersebut, terutama di tengah upaya AS merampungkan kesepakatan damai dengan Iran yang akhirnya tercapai pada akhir pekan lalu. Padahal, sebelumnya pada 28 Februari, Trump dan Netanyahu sempat kompak memerintahkan serangan militer gabungan untuk melumpuhkan fasilitas nuklir Teheran.

"Tanpa Amerika Serikat, tidak akan ada Israel. Tanpa saya, tidak akan ada Israel, karena tidak ada presiden lain yang bersedia melakukan apa yang saya lakukan," ujar Trump saat berbicara mendampingi Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani di Évian-les-Bains, Prancis.

Trump menegaskan bahwa Israel seharusnya sudah meledak sejak lama jika dirinya tidak ikut campur tangan. Meski membantah hubungannya dengan Netanyahu merenggang, Trump mengkritik keras kebrutalan serangan udara Israel baru-baru ini di Lebanon yang dinilainya telah menewaskan terlalu banyak warga sipil yang tidak bersalah.

"Saya melihat serangan itu, saya melihat ke mana bom itu jatuh. Itu sangat kejam. Anda tidak perlu meruntuhkan seluruh bangunan apartemen setiap kali mencari seseorang, karena ada banyak orang di sana dan saya pastikan mereka semua bukan Hizbullah," kecam Trump seraya memperingatkan Netanyahu agar bertindak lebih bertanggung jawab.

Di sisi lain, kabar mengenai tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran ini disambut dengan kekecewaan mendalam dan kecemasan di internal Israel. Blokade informasi mengenai detail perjanjian tersebut memicu kekhawatiran bahwa Teheran justru keluar sebagai pihak yang diuntungkan di tengah bayang-bayang agenda pemilu Israel yang kian dekat.

Kritik tajam dari pakar militer domestik juga mulai berdatangan, salah satunya dari Brigadir Jenderal Yossi Kuperwasser selaku Kepala Institut Strategi dan Keamanan Yerusalem (JISS). Ia menilai pemerintahan Trump saat ini telah memberikan segalanya dengan harga yang terlalu murah bagi stabilitas jangka panjang Israel.

"Pemerintah AS memberikan segalanya dengan murah, menyediakan dana miliaran dolar bagi rezim tersebut untuk memperkuat cengkeraman domestiknya dan terus mendanai proksi mereka, seperti Hezbollah dan Hamas, tanpa menuntut konsesi yang nyata dan tidak dapat dibatalkan sebagai imbalannya," kata Kuperwasser kepada Newsweek.

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |