Trump Ngamuk ke Presiden Israel Sebut Tak Punya Malu!

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meningkatkan tekanannya terhadap Presiden Israel Isaac Herzog terkait kasus hukum yang menjerat Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Trump secara terbuka mendesak pemberian pengampunan atau grasi bagi sekutu dekatnya tersebut yang kini tengah menghadapi tuduhan suap.

Di hadapan para wartawan pada Kamis waktu setempat, Trump memberikan pujian kepada Netanyahu sebagai pemimpin masa perang yang luar biasa. Namun, di saat yang sama, ia mengecam keras Herzog karena dianggap gagal memberikan pengampunan presiden kepada Netanyahu.

"Anda memiliki seorang presiden yang menolak memberinya pengampunan. Saya pikir pria itu harus malu pada dirinya sendiri," kata Trump merujuk pada sosok Herzog.

Lebih lanjut, Trump menyerukan agar rakyat Israel ikut menekan Herzog guna memberikan grasi tersebut. Baginya, langkah hukum yang terus berlanjut terhadap Netanyahu adalah sesuatu yang tidak pantas dilakukan oleh seorang kepala negara.

"Dia memalukan karena tidak memberikannya. Dia seharusnya memberikannya," tegas Trump.

Pernyataan keras ini muncul hanya berselang satu hari setelah Trump menjamu Netanyahu di Gedung Putih. Pertemuan tersebut menandai pertemuan ketujuh mereka sejak Trump kembali menjabat sebagai Presiden AS pada tahun lalu.

Netanyahu sendiri telah lama dituduh menerima berbagai hadiah mewah sebagai suap. Ia juga diduga melakukan kesepakatan dengan sejumlah outlet media demi mendapatkan pemberitaan yang menguntungkan bagi pemerintahannya.

Meskipun persidangan pertamanya telah dimulai sejak tahun 2020, proses hukum ini berulang kali terganggu oleh gejolak geopolitik di kawasan. Salah satu penghambat utamanya adalah keterlibatan Israel dalam operasi militer di Gaza.

Pemerintah AS sebelumnya memang telah meminta Herzog untuk menggunakan kekuasaannya dalam memberikan amnesti kepada Netanyahu. Di Israel, pemberian grasi merupakan salah satu wewenang yang dialokasikan kepada presiden, meski peran jabatan tersebut sebagian besar bersifat seremonial.

Namun, melalui teguran langsung pada hari Kamis ini, Trump tampak semakin menegaskan pengaruhnya ke dalam ranah politik domestik Israel. Upaya pembelaan ini menyoroti hubungan istimewa antara Trump dan Netanyahu, dua politisi sayap kanan yang memiliki rekam jejak kuat dalam bertahan dari skandal dan masalah hukum.

Trump sebelumnya juga pernah mengajukan permohonan pengampunan bagi Netanyahu secara publik. Momen yang paling diingat adalah saat ia berbicara di podium parlemen Israel, Knesset, pada Oktober lalu.

"Saya punya ide: Pak Presiden, mengapa Anda tidak memberinya pengampunan saja?" ujar Trump dalam pidatonya kala itu.

Trump bahkan terkesan meremehkan tuduhan suap tersebut dengan menyinggung barang-barang mewah yang diduga diterima Netanyahu. Ia mempertanyakan mengapa hal kecil seperti itu harus dipermasalahkan secara hukum.

"Cerutu dan sampanye-siapa yang peduli tentang hal itu?" tanya Trump dengan nada menyindir.

Merespons tekanan tersebut, Isaac Herzog sebelumnya menyatakan bahwa setiap permintaan grasi harus mengikuti tinjauan dan prosedur normal sesuai undang-undang negara. Kantor kepresidenan Israel pun mengeluarkan pernyataan resmi untuk menanggapi komentar terbaru Trump.

"Presiden Herzog menghargai Presiden Trump atas kontribusinya yang signifikan bagi Negara Israel dan keamanannya. Namun, Israel adalah negara berdaulat yang diatur oleh supremasi hukum," bunyi pernyataan resmi kepresidenan Israel sebagaimana dikutip dari surat kabar Jerusalem Post.

Pihak kepresidenan Israel menambahkan bahwa permohonan pengampunan Netanyahu saat ini masih dalam proses peninjauan. Pihak kementerian terkait tengah bekerja untuk memberikan opini hukum sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan.

"Permintaan pengampunan Netanyahu saat ini sedang ditinjau di Kementerian Kehakiman untuk mendapatkan opini hukum sesuai dengan prosedur yang berlaku," jelas kantor Herzog.

Selain masalah hukum di dalam negeri, Netanyahu juga menghadapi tekanan internasional yang berat. Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadapnya atas tuduhan kejahatan perang di Gaza, termasuk penggunaan kelaparan sebagai senjata perang.

Di sisi lain, Herzog yang merupakan politisi veteran dari Partai Buruh berhaluan tengah-tengah, sering dicitrakan oleh media Barat sebagai sosok yang lebih moderat dibandingkan Netanyahu. Meski demikian, ia tetap menjadi pembela garis keras atas serangan brutal Israel di Gaza.

Pada awal perang, Herzog sempat mengeluarkan pernyataan kontroversial yang menyarankan agar seluruh warga Palestina dihukum atas serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Pernyataan ini kemudian sering dikutip oleh lembaga hak asasi manusia dan penyelidik PBB sebagai bukti niat genosida Israel di Gaza.

"Ada seluruh bangsa di luar sana yang bertanggung jawab. Retorika tentang warga sipil yang tidak tahu atau tidak terlibat itu sama sekali tidak benar. Mereka seharusnya bisa bangkit. Mereka seharusnya bisa berjuang melawan rezim jahat itu," kata Herzog kala itu.

(tps/tps)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |